Komunitas-komunitas Lokal Dorong Industri Digital

Kompas.com - 10/07/2011, 22:18 WIB
EditorTri Wahono

KOMPAS.com — Setahun terakhir ini Jakarta dipenuhi dengan ajang kumpul-kumpul para pelaku industri digital mulai dari yang santai sampai yang serius. Mulai dari sekadar diskusi ringan, sampai yang membuahkan gerakan sosial yang nyata.

Meskipun para pelaku industri digital ini lebih banyak berinteraksi secara online, kebutuhan untuk bertemu dan bertatap muka secara langsung masih tetap menjadi utama. Biarpun aktif di berbagai forum, komentar di status Facebook atau mention di Twitter berderet, tapi tetap terasa ada yang kurang sehingga keakraban ini harus dilakukan juga di dunia nyata.

Selain karena alasan mendasar bahwa manusia merupakan makhluk sosial, alasan lainnya adalah sosialisasi melalui media digital memang terkadang banyak kurangnya. Status yang terbatas 140 karakter tidaklah cukup menyatakan pendapat atau menyampaikan emosi secara menyeluruh. Hal inilah yang mendorong kebutuhan untuk melakukan "kopi darat". Ketika itu pula cikal-bakal munculnya banyak komunitas berbasis online terbentuk.

Salah satunya adalah komunitas FreSh (Freedom of Sharing). Pitra Satvika, salah satu inisiatornya, menceritakan bagaimana komunitas ini terbentuk dari sebuah obrolan yang ingin mencari wadah untuk berbagi mengenai online dan kreativitas. Pertemuan pertama kali pun hanya dihadiri sekitar dua puluh orang. Tetapi, ketika pertemuan itu mendapat tanggapan positif, para inisiatornya bersemangat meneruskan program ini secara konsisten. Hingga kemudian, forum ini berkembang di kota-kota lain yaitu di Surabaya dan Semarang.

Tidak cuma di Jakarta, fenomena "kopdar" ini juga berlanjut ke kota-kota lain di Indonesia. Di Bandung, beberapa programmer yang mengawali diskusi mereka di Twitter sepakat untuk bertemu dan berbagi pengalaman mereka pertama kali pada 18 Februari 2010. Di bawah nama Forum Web Anak Bandung (Fowab), Yohan Totting, Reza Prabowo, Anggi Khrisna, bersama beberapa rekan lainnya menjadikan ajang kumpul-kumpul ini sebagai wadah bagi sesama rekan-rekan yang berkecimpung di dunia digital untuk saling berkolaborasi dan berbagi.

Bukan hanya sekadar diskusi, para programmer ini pun berani memberikan solusi nyata untuk membantu kemajuan komunitas mereka, salah satunya dengan menyediakan ruang publik kreatif yang dinamai Hackerspace Bandung. Hackerspace bertujuan berbagi dan memberikan pengarahan sejak dini kepada anak muda di bangku sekolah yang ingin terjun ke dunia kreatif, membuka perspektif mereka akan potensi industri digital.

Selain Jakarta dan Bandung, tentu saja kita tidak bisa melupakan Yogyakarta, salah satu penghasil talenta-talenta terbaik di industri digital Tanah Air. Teman-teman di sana juga memiliki wadah yang tidak kalah solidnya. Diawali dengan inisiatif beberapa developer, komunitas bernama Bancakan 2.0 berdiri pada 24 Februari 2010. Meskipun terdiri dari developer, mereka tidak melulu hanya membahas soal teknis, tetapi juga sisi bisnis dan pemasaran; bagaimana menghasilkan karya yang baik, dan tentunya bagaimana mengemasnya hingga menjadi produk layak jual.

Komunitas yang digagas oleh Fachry Bafadal, Fahmi Adib, Kristiono Setyadi, dan Faiq Fardian ini tidak hanya berkumpul untuk berdiskusi, tetapi juga bergerak untuk membantu para start-up di Yogyakarta agar mereka memiliki kesempatan bertemu dengan investor-investor yang tertarik mengembangkan usaha yang mereka miliki.

Selain Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta, komunitas digital di Surabaya juga tumbuh secara signifikan. Brian Arfi dan Imam Muttaqin, dua orang developer berbagi kegelisahan yang sama. Berawal dari lambannya aktivitas pengembangan website di Surabaya, padahal sumber daya manusia serta fasilitasnya cukup memadai. Kondisi ini kemudian membuat mereka tergerak untuk membentuk komunitas yang bisa berkontribusi positif bagi perkembangan dunia internet di Surabaya. Surabaya Web Community (suWec) menjadi ajang berkumpul web developer, web marketer, web entrepreneur, maupun penggemar web secara umum.

Komunitas-komunitas ini tidak hanya berdiskusi, tetapi juga memberikan langkah kongkrit bagi kemajuan komunitas mereka. Semangat kebersamaan dan berbagi inilah yang akan terus memajukan industri digital di Indonesia.

Bersama dengan komunitas-komunitas ini, IDBYTE berkomitmen untuk menjembatani para pelaku industri menuju sebuah wadah yang lebih besar sehingga suara Indonesia akan lebih nyaring di tingkat internasional.

Selama 11-14 Juli 2011 IDBYTE akan menghadirkan berbagai nama besar seperti Google, Facebook, dan LinkedIn. Mereka akan berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada para pengembang, pebisnis, pemasar, dan komunitas digital di Indonesia. IDBYTE menjadi wadah yang tepat untuk saling menghubungkan komunitas-komunitas ini ke dalam satu kesatuan jaringan yang lebih besar.

IDBYTE mengajak komunitas-komunitas digital yang tersebar di berbagai tempat untuk datang dan meramaikan event digital terbesar di Indonesia ini. Dengan berkumpul dan menjalin hubungan secara intens, tidak hanya bermanfaat bagi komunitas-komunitas itu sendiri, tapi ke depannya dapat lebih memajukan industri digital Indonesia sehingga bisa menjadi salah satu pemain digital yang berpengaruh di ranah global.

Penulis: Yansen Kamto, Executive Director IDBYTE, dengan latar belakang dari industri digital advertising; saat ini juga menjalankan bisnis digital di bidang gaming dan sepakbola.

 

Baca tentang

    Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar