Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Justika
Platform Konsultasi Hukum

Justika adalah platform konsultasi hukum via online dengan puluhan konsultan hukum profesional dan berpengalaman.

Per-Oktober 2021, lebih dari 19.000 masalah hukum di berbagai bidang hukum telah dikonsultasikan bersama Justika.

Justika memudahkan pengguna agar dapat menanyakan masalah hukum melalui fitur chat kapan pun dan di mana pun.

Justika tidak hanya melayani konsultasi hukum, namun di semua fase kebutuhan layanan hukum, mulai dari pembuatan dokumen hingga pendampingan hukum.

Untuk informasi selengkapnya, kunjungi situs justika di www.justika.com atau tanya Admin Justika melalui email halo@justika.info atau Whatsapp di 0821 3000 7093.

Tinjauan Hukum, Menikahkan Anak di Bawah Umur karena Hamil

Kompas.com - 10/01/2023, 06:00 WIB
Justika,
Sandro Gatra

Tim Redaksi

Konsultasi Hukum

Kupas tuntas dan jelas perkara hukum

Ajukan pertanyaan tanpa ragu di konsultasi hukum Kompas.com

Oleh: Dody Zulfan, S.H., M.H.

Seorang anak perempuan (16) di Kabupaten Ketapang dihamili oleh pacarnya (20). Menurut keterangan orangtua korban, si anak ditempatkan sendiri di rumah yang dikreditkan orangtuanya berjarak sekitar 40 km dari rumah orangtuanya di desa, agar si anak dapat mengenyam pendidikan di sekolah terbaik di kota.

Pada Agustus 2022, si anak dan si pacar pernah digrebek oleh warga sekitar. Si pria diberi ultimatum oleh ayah si anak agar menjauhi anaknya yang masih sekolah.

Ternyata diulangi lagi hingga sang anak perempuan per Desember 2022, telah hamil 9 minggu berdasarkan hasil pemeriksaan dokter di RS. Fatima Kab. Ketapang.

Si Pria datang ke rumah orangtua si anak "mengaku salah dan siap bertanggung jawab dengan menikahi si anak".

Bagaimana hukumnya dan apa yang harus dilakukan orangtua mengingat anaknya masih belia dan masih sekolah kelas 1 SMK?

Menurut Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dalam Pasal 1 Ayat (1): “Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan”.

Married By Accident (MBA) adalah tragedi perkawinan terpaksa karena keadaan demi menutupi aib. Artinya andaikan tidak terjadi kehamilan, maka tidak akan terjadi perkawinan.

Permasalahan pelik adalah ketika yang mengalami kehamilan tersebut anak di bawah umur dengan status pacaran.

Sementara banyak terjadi di masyarakat, saran yang diberikan adalah menikahkan pasangan tersebut. Hal ini bukanlah solusi, melainkan hanyalah budaya yang tidak menyelesaikan masalah.

Menikahkan anak di bawah umur akan menimbulkan permasalahan baru, yaitu membiarkan terjadinya perkosaan berulang kepada sang anak sekalipun anak juga menyetujuinya.

Masalah lain, melahirkan di usia belia berisiko tinggi, belum lagi kesiapan berumah tangga dari sisi ekonomi dan mental si anak yang dipaksa dewasa untuk menjadi seorang ibu.

Dalam hubungan seorang pria dewasa dan seorang wanita dewasa yang sama-sama tidak terikat perkawinan dan tidak ada pemaksaan, dikenal hubungan suka-sama-suka dan tidak ada tuntutan.

Namun berbeda halnya dengan anak di bawah umur, tidak dikenal istilah suka-sama-suka yang ada hanyalah pemaksaan persetubuhan dan atau bujuk rayu atau dengan iming-iming agar anak mau melakukan persetubuhan dengan pelaku.

Dalam Pasal 76 D UU 35/2014 diatur soal pemaksaan mengancam anak untuk melakukan persetubuhan dengannya.

Pasal tersebut berbunyi “Setiap orang dilarang melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa Anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.”

Sementara ancaman hukumannya diatur dalam Pasal 81: “Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76D dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp.5.000.000.000,- (lima miliar rupiah).”

Diatur pula soal upaya melakukan bujuk rayu, tipu muslihat, serangkaian kebohongan/tipu muslihat atau iming-iming kepada Anak agar mau melakukan persetubuhan.

Dalam Pasal 76 E: “Setiap Orang dilarang melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, melakukan serangkaian kebohongan, atau membujuk Anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul.”

Sementara ancamannya diatur dalam Pasal 82:

“Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76E dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).”

Tindakan hukum yang ditempuh dapat diwakilkan oleh orangtua/wali si anak dengan melakukan pengaduan/pelaporan kepada polisi.

Sembari melakukan proses hukum, berikan anak pendampingan psikologi untuk memperbaiki mental si anak, membuka pikirannya agar siap menjalani proses hukum yang akan mempidanakan si pria.

Langkah lain mengajarkan si anak bagaimana menjalani kehamilan hingga proses melahirkan.

Untuk lebih memudahkan, para orangtua dapat meminta bantuan kepada Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) atau Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) jika berada di daerah.

Perkawinan di usia muda adalah perkawinan yang sangat rentan dan tidak menjamin keutuhan rumah tangga.

Umumnya pernyataan “siap bertanggung jawab dan menikahi si anak” hanyalah upaya pelaku untuk menghindari proses hukum yang akan dilakukan oleh orangtua si anak.

Padahal, sekalipun si pria bertanggung jawab dan menikahi si anak, secara hukum tidak akan menghapus pidananya.

Mengingat perkara tersebut bukanlah delik aduan, maka siapa pun yang mengetahuinya dapat melaporkan kepada pihak berwajib.

Dalam hukum perlindungan anak tidak dikenal suka sama suka terkait hubungan seksual sebagaimana layaknya orang dewasa.

Justru orang yang dewasa haruslah menjaga dan melindungi si anak, bukan justru memanfaatkan kepolosan si anak dan menjadikannya pelampiasan seksual dengan alibi memacari si anak.

Mari jaga anak-anak Indonesia, karena mereka adalah masa depan bangsa.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com