BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Mola

Kisah Raja Tipu Wine Asal Indonesia yang Gemparkan Amerika Serikat

Kompas.com - 29/04/2021, 17:34 WIB
Rudy Kurniawan berhasil mengguncang dunia pelelanganwine di AS. (DOK. Mola). MolaRudy Kurniawan berhasil mengguncang dunia pelelanganwine di AS. (DOK. Mola).

KOMPAS.com - Pada medio 2000-an, dunia pelelangan wine di Amerika Serikat (AS) dikejutkan dengan kemunculan sosok Rudy Kurniawan. Rudy yang memiliki paspor Indonesia aktif dalam dunia pelelangan wine. Ia memborong merek wine terbaik dalam pelelangan sebagai koleksi, kemudian menjualnya kembali dengan harga yang berlipat.

Rudy mengawali pergaulannya dalam dunia sosialita atau lingkaran elite pencinta wine dalam grup “Angry Men”. Grup tersebut memiliki aturan bahwa tamu yang diundang harus membawa sebotol anggur yang sangat enak.

Angry Men beranggotakan orang-orang yang kini menjadi tokoh terpandang. Sebut saja produser film Rush Hour Arthur Sarkissian, sutradara Hollywood Jefery Levy, dan kepala rumah lelang wine Acker Merrall and Condit John Kapon. Keluwesan Rudy dalam bergaul membuatnya mudah diterima di kalangan pencinta wine dan orang-orang yang berkecimpung di pelelangan.

Perlahan tapi pasti, Rudy mulai membangun image dirinya sebagai pengoleksi berbagai merek wine langka dan terbaik di dunia.

Jefery Levy yang memiliki hubungan erat dengannya dalam grup Angry Men sempat menyebut bahwa Rudy memenuhi syarat untuk terjun sebagai pengoleksi wine. Pasalnya, Rudy memiliki pengetahuan yang luas tentang wine. Ia juga mengajari Jefery berbagai hal tentang minuman anggur yang sebelumnya tidak pernah diketahuinya.

“Dia punya selera terbaik dari siapa pun yang pernah saya temui sepanjang hidup. Semua anggur dari California hingga Prancis, anggur dari jenis apa pun telah dicobanya,” ujar Jefery.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kesaksian lain tentang sosok Rudy juga dituturkan Rajat Parr yang merupakan ahli mengenai wine (sommelier). Rajat berkisah, Rudy sangat hebat mengenali rasa wine dengan mata tertutup (taste blinding). Hal itu menandakan bahwa ia telah meminum wine yang berbeda dalam jumlah sangat banyak.

“Itulah satu-satunya cara untuk menjadi seorang taste blinding yang hebat,” kata Rajat.

Dalam waktu 18 bulan sejak terjun ke dunia pelelangan wine, Rudy berhasil mengoleksi 3.000 botol wine berharga. Nama Rudy pun mencuat karena memborong wine langka di pelelangan milik John Kapon.

Dalam satu bulan, Rudy mendapat tunjangan 1 juta dollar AS untuk ikut serta dalam pelelangan anggur dari keluarganya. Aksi Rudy memborong wine di rumah lelang mengacaukan harga pasaran wine karena sebelumnya tidak ada orang yang menghabiskan uang secepat dirinya.

Terlebih, asal-asul Rudy beserta keluarganya tidak diketahui banyak orang, sekalipun namanya semakin dikenal di kalangan pencinta wine. Baik riwayat keluarga maupun sumber dana Rudy pun tak pernah jelas.

“Dari pengakuannya, ia tinggal bersama ibunya di Arcadia, California. Orang-orang di sekitarnya berkata bahwa keluarganya memiliki distributor Heineken untuk seluruh China. Namun, saat saya tanya soal itu, ia bilang, ‘Jangan bicara tentang keluargaku’,” kata Corie Brown, wartawan yang berkesempatan mewawancara Rudy.

Setelah mengoleksi ribuan wine berharga, Rudy menawarkan koleksi winenya kepada John Kapon untuk dilelang dengan harga lebih tinggi. Pelelangan tersebut berjalan sukses karena Kapon berhasil menjual wine koleksi Rudy lebih dari 35 juta dollar AS sejak 2003 hingga 2006.

Puncaknya terjadi pada 2006. Kala itu, John Kapon berhasil membawa Acker Merral & Condit menjadi rumah lelang nomor satu di dunia. Pendapatan rumah lelang ini ditaksir lebih dari 100 juta dollar AS.

Namun, sepandai-pandai tupai melompat, sekali waktu jatuh juga. Peribahasa ini cocok untuk menggambarkan akhir dari peruntungan Rudy dalam dunia pelelangan wine.

Status Rudy sebagai kolektor wine ternyata hanya kedok belaka untuk menutupi praktik pemalsuan wine yang tak pernah diproduksi dan menjualnya di rumah lelang.

Aksi Rudy tersebut dibongkar oleh kolektor wine Bill Koch yang memborong wine milik Rudy di pelelangan John Kapon. Kecurigaan Bill Koch bermula saat dirinya membeli sebotol Petrus 1921 Magnum seharga 25.000 dollar AS. Ternyata, pada 1921, Petrus tidak merilis produk itu

“Aku memiliki lebih dari 400 botol wine yang terbukti palsu. Untuk semua barang itu, aku harus membayar 4 juta dollar AS,” ujar Bill.

Karena mengalami kerugian yang besar setelah membeli banyak wine di rumah lelang Acker Merral & Condit, Bill menyewa detektif swasta untuk menelusuri asal produk wine palsu miliknya. Hasil penyelidikan pun mengarah kepada sosok Rudy Kurniawan.

Keponakan Eddy Tansil

Berbagai fakta mengenai Rudy Kurniawan itu terungkap dalam film dokumenter Sour Grapes. Riwayat pria asal Indonesia itu memang menarik untuk diketahui lebih dalam karena banyak masyarakat penasaran dengan latar hidupnya sampai dijatuhi hukuman karena penipuan pada 2013.

Pria yang memiliki nama lahir Zhen Wang Huang itu datang ke AS dengan menggunakan visa pelajar pada 1990-an. Menurut pihak berwenang, Rudy tidak berhasil mencari suaka politik dan diharuskan meninggalkan AS secara sukarela pada 2003. Namun, ia malah terus menetap secara ilegal.

Rudy dan kakaknya Dar Saputra bisa datang ke AS dengan sponsor PT Mujur Artha Jaya Usaha. Namun, ketika detektif swasta sewaan Bill Koch mengecek alamat kantor itu di Jalan Gajah Mada, Jakarta Barat, ia hanya menemukan toko cat minimalis.

Fakta menarik lainnya, Rudy adalah anak dari pasangan Makmur Widjojo dan Lenywati Tan. Ibu Rudy Kurniawan merupakan saudara kandung Hendra Rahardja dan Eddy Tansil.

Keduanya merupakan koruptor kelas kakap di Tanah Air. Hendra Rahardja menggelapkan uang Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) sebesar Rp 1,95 triliun yang tadinya untuk Bank Harapan Sentosa miliknya. Uang tersebut dilempar Hendra ke beberapa lembaga keuangan miliknya di beberapa negara.

Hendra sendiri sudah divonis hukuman penjara seumur hidup oleh Pengadilan Negeri Jakarta dan meninggal di Australia karena sakit kanker ginjal pada 2003.

Sementara itu, Eddy Tansil dikenal karena membawa kabur uang negara senilai Rp 1,3 triliun pada 1996. Sampai sekarang, Eddy masih buron dan kabarnya tak terdengar lagi. Paman kandung Rudy ini menjadi simbol kesuksesan koruptor dari kejaran negara.

Lalu, bagaimana kelanjutan penyelidikan terhadap Rudy Kurniawan sampai akhirnya dia dipenjara? Anda bisa menyaksikan kelanjutan film dokumenter Sour Grapes secara eksklusif di Mola dengan berlangganan paket mana pun mulai dari harga Rp 12.500.

Selain Sour Grapes, Anda juga bisa menyaksikan tayangan seru lainnya. Untuk mengakses Mola, Anda bisa mengunduh aplikasinya di App Store dan Play Store atau mengakses situs https://mola.tv/ atau di tautan ini.


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar