BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Mola

Como 1907: The Real Story, Kisah Klub Kasta Ketiga Italia Bangkit dari Keterpurukan

Kompas.com - 22/04/2021, 14:24 WIB
Film dokumenter sepak bola Como 1907: the Real Story di Mola TV Mola TVFilm dokumenter sepak bola Como 1907: the Real Story di Mola TV

JAKARTA, KOMPAS.com – Membangkitkan sebuah klub sepak bola yang memiliki tradisi dan sejarah panjang di dunia persepakbolaan Italia bukan pekerjaan mudah.

Selain harus memiliki modal yang besar dan kecakapan manajerial, seorang chief executive officer (CEO) yang mengepalai klub tersebut harus memahami keinginan suporter yang ingin klub kesayangannya segera bangkit. Apalagi, jika klub tersebut tidak berkompetisi di kasta tertinggi selama bertahun-tahun.

Tantangan tersebut tergambar dalam film dokumenter terbaru Mola TV, Como 1907: the Real Story. Adapun film ini mengisahkan lika-liku klub Italia Como 1907 untuk bangkit kembali, mulai dari pengambilalihan kepemilikan klub dari tangan pemilik lama ke Grup Djarum, permasalahan klub yang terseok-seok dengan utang, ancaman kebangkrutan, sampai euforia suporter atas datangnya pemilik baru klub.

Untuk diketahui, pemilik Group Djarum Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono membeli klub sepakbola Italia Como 1907 melalui perusahaan SENT Entertainment. Grup Djarum ingin Como 1907 segera bangkit dan melawan klub besar Italia, seperti Juventus, AC Milan, dan Inter Milan.

Como 1907 sendiri punya sejarah panjang dalam persepakbolaan Italia. Berdiri sejak 114 tahun lalu, Como 1907 berhasil menelurkan beberapa pemain top Italia, seperti Pietro Vierchowod, Paolo Rossi, Marco Tardelli, dan Gianluca Zambrotta.

Klub tersebut juga punya pengalaman bangkit dari keterpurukan beberapa kali. Pada musim 1948/1949, Como berhasil menjuarai Serie B, setelah hampir 19 tahun berkutat di kompetisi kasta kedua Italia tersebut. Setahun usai promosi, Como berhasil menduduki posisi keenam di Serie A, kompetisi kasta tertinggi Italia.

Cerita serupa diulangi pada musim 1974/1975, 1979/1980, 1983/1984, dan 2001/2002. Pada musim tersebut, Como berhasil promosi ke Serie A.

Como terakhir mencicipi kompetisi Seria A pada musim 2002/2003. Kala itu, Como datang ke Seri A sebagai jawara Serie B. Sayangnya, klub asal Lombardia ini hanya bertahan setahun di Serie A. Setelah itu, prestasinya menurun hingga terperosok ke Serie D.

Untuk membangkitkan prestasi Como, Grup Djarum pun menunjuk pria asal Amerika Serikat Michael Gandler sebagai CEO.

Gandler menyadari bahwa tugasnya sebagai CEO baru tidak mudah. Ia harus membangun klub tersebut dari nol, mulai dari membenahi aspek operasional dan finansial klub yang sempat mengalami dua kali kebangkrutan hingga membentuk skuad baru yang hanya berjarak empat pekan dari tanggal dimulainya musim kompetisi baru.

Pekerjaan makin berat karena perpindahan kepemilikan Como 1907 membuat banyak suporter berharap agar klub kesayangan mereka bisa segera bangkit.

“Kondisi klub ketika kami mengambil alih sangat buruk. Mulai dari memiliki utang yang sangat besar, pengelolaannya tidak profesional, dan dari segi brand klub ini sedang ternoda. Meski begitu, kami tetap melihat ada peluang. Hal pertama yang harus kami lakukan adalah menstabilkan klub untuk memastikannya tetap solid,” ujar Michael dalam serial dokumenter berjudul Como 1907: The Real Story.

Walau memiliki berbagai permasalahan di periode awal kepemilikan, Michael tetap optimistis bahwa klub Como 1907 memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Bila proyek tersebut dijalankan sesuai rencana serta mampu memenuhi semua kewajiban dan kebutuhan fans, ia yakin Como 1907 bisa menjadi klub sepak bola yang istimewa.

"Tantangannya adalah bagaimana menciptakan merek klub ini supaya lebih berkelas. Belum lagi orang-orang (suporter Como) mengatakan padaku bahwa 12 euro per laga terlalu banyak," ujar Michael.

Rasa penasaran suporter

Pemindahan kepemilikan Como 1907 mendapatkan sambutan beragam dari suporter. Beberapa fans klub tersebut penasaran dengan sosok pemilik klub baru yang juga merupakan pemilik Grup Djarum.

Mereka pun baru mengetahui bahwa Budi Hartono menempati peringkat 54 dalam jajaran 100 orang terkaya dunia 2019 versi Majalah Forbes setelah mencari informasinya di internet.

"Kami sangat terkejut ketika mengetahui pemilik baru Como adalah perusahaan Indonesia yang sangat kuat. Kami sempat bertanya-tanya bagaimana mungkin sebuah perusahaan Indonesia akan berinvestasi di sepak bola kami? Di klub kami?" ujar fans bernama Alessandro Giummo, masih dalam serial dokumenter Como 1907: The Real Story.

Selain penasaran, perpindahan kepemilikan Como 1907 juga disambut rasa skeptis. Beberapa fans menilai pergantian manajemen dan pemilik klub belum tentu bisa membawa kemajuan yang berarti bagi klub mereka. Status pemilik klub yang masuk daftar 100 orang terkaya dunia 2019 tidak ada artinya bila tidak berdampak ke klub.

“Kami harus melihat apakah mereka serius. Apakah mereka memberikan apa yang kami butuhkan? Walau memiliki uang, apakah mereka akan membelanjakannya untuk kepentingan klub?” ujar fans lain yang berambut gondrong.

Jadi penasaran kan kelanjutan serial dokumenter Como 1907: The Real Story? Anda bisa menyaksikan serial tersebut secara eksklusif di Mola TV. Cukup dengan berlangganan paket mana pun mulai dari harga Rp 12.500, Anda sudah bisa menyaksikan serial dokumenter ini dan tayangan lainnya.

Untuk mengakses Mola TV, Anda bisa mengunduh aplikasinya di App Store dan Play Store atau mengakses situs https://mola.tv/ atau ke tautan ini.

Penayangan serentak di seluruh dunia

Perwakilan Mola TV Mirwan Suwarso dalam konferensi pers Como 1907: The True Story. (DOK. Yogarta Awawa Prabaning Arka). Yogarta Awawa Prabaning Arka Perwakilan Mola TV Mirwan Suwarso dalam konferensi pers Como 1907: The True Story. (DOK. Yogarta Awawa Prabaning Arka).

Sebagai informasi, Como 1907: The True Story menjadi film dokumenter perdana produksi Mola TV yang akan ditayangkan di seluruh dunia. Rencana penayangannya secara global akan dilakukan pada akhir April 2021.

Perwakilan Mola TV Mirwan Suwarso mengatakan, sebelum Como 1907: The True Story, karya Mola TV hanya ditayangkan di beberapa negara saja.

Karena distribusinya bersifat global dari kantor pemasaran Mola TV di Los Angeles, lanjut Mirwan, film dokumenter tersebut bisa disaksikan oleh penonton dari berbagai belahan dunia, mulai dari Asia, Amerika, hingga Eropa.

Dokumenter ini menjadi karya pertama yang didistribusi ke seluruh dunia," ucap Mirwan.

Dalam proses produksinya, Mola TV menggunakan tim sendiri yang tersebar di berbagai negara, seperti Italia, Inggris, dan Amerika.

Adapun pembuatan Como 1907: The True Story musim pertama yang berisi tiga episode memakan waktu lebih dari setahun. Pembuatan film dokumenter tersebut dimulai sejak Grup Djarum mengambil alih klub Como 1907. Hanya saja, pembuatan serial dokumenter musim selanjutnya harus terhenti karena pandemi.

“Pembuatannya tanpa kendala karena dibantu kru dari Italia. Selain itu, karena ini merupakan klub sendiri (Como 1907 dan Mola TV sama-sama dimiliki oleh Grup Djarum), kami mendapatkan akses penuh sehingga tidak ada yang kami tutup-tutupi,” tambah Mirwan.

Mirwan meyakini bahwa Como 1907: The True Story menjadi film dokumenter kedua, setelah Juventus, yang menampilkan akses belakang layar bisnis sepak bola beserta berbagai intriknya secara realistis. Jadi, tidak hanya sekadar meliput dinamika tim utamanya saja.

Selain CEO dan suporter, serial dokumenter besutan Mola TV ini mengambil berbagai sudut pandang. Tim produksi juga mengangkat cerita dari wakil CEO sebelum klub diambil alih pemilik baru, legenda sepak bola Italia yang pernah berseragam Como Gianluca Zambrotta, dan para pemain Como.

Bukan itu saja, tokoh lain juga ditampilkan dalam dokumenter ini meski hanya sekilas, seperti mantan Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi dan mantan wakil presiden klub AC Milan Adriano Galliani. Semua cerita dari masing-masing sudut pandang ditampilkan secara realistis tanpa pemanis atau gimik.

“Keunggulan serial dokumenter ini adalah penceritaan apa adanya seputar bisnis klub sepak bola di kasta ketiga Italia. Manajemen harus menghadapi banyak urusan yang mungkin tidak ditemukan di klub-klub besar dunia, seperti pemerasan, penipuan, dan sejarah kejayaan masa lalu yang terus menghantui klub yang terpuruk ini,” ujar Mirwan.

Situasi tersebut, lanjut Mirwan, tidak akan ditemukan pada film dokumenter sepak bola lain. Karenanya, Como 1907: The True Story mendapatkan respons sangat positif di pasar konten hiburan.

Untuk proyek dokumenter sepak bola selanjutnya, Mirwan sedang membuat dokumenter mengenai kisah hidup dan perjalanan karier Fabio Quagliarella.

“Rencananya, film itu akan tayang di Italia pas Piala Eropa 2021. Setelah itu, akan kami rilis ke berbagai tempat lainnya,” ujar Mirwan.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar