BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan

Virtual Exhibition, Cara Berbeda Menikmati Pertunjukan Seni

Kompas.com - 23/02/2021, 11:39 WIB
Ilustrasi menikmati virtual exhibiton. Ilustrasi menikmati virtual exhibiton.
|

 

KOMPAS.com – Hampir satu tahun pandemi melanda Indonesia. Selama itu pula, konser, festival, dan pameran berformat tatap muka absen digelar.

Padahal, kegiatan tersebut punya manfaat beragam di samping kesenangan semata. Sebut saja menambah pengalaman dan wawasan. Bahkan, tak jarang menambah jumlah relasi.

Beruntung, kemajuan teknologi dapat memecahkan permasalahan tersebut. Konser dan pameran yang bersifat tatap muka dapat dialihkan ke ranah virtual (virtual exhibition).

Tak sekadar memenuhi asupan hiburan, virtual exhibition sejatinya menjadi bentuk kemampuan manusia dalam beradaptasi di tengah kondisi pandemi. Selain itu, menjadi upaya agar pegiat seni tetap hidup meski arena pertunjukan ditutup.

Selama pandemi, sejumlah virtual exhibition sukses dilaksanakan, baik itu berskala nasional maupun internasional dengan jumlah peminat yang tidak sedikit.

Setidaknya, lima hal berikut dapat menjelaskan alasan virtual exhibition diminati dan tidak kalah menarik dari pameran pada umumnya.

1. Menyajikan pengalaman visual menarik

Dunia virtual sarat akan pemanfaatan teknologi. Tak heran sajian visual yang ditawarkan kerap memanjakan mata, baik itu dalam bentuk nyata maupun imajinatif. Sensasi ini belum tentu bisa didapat pada konser atau pameran yang digelar secara langsung.

Ambil saja contoh tur virtual di Van Gogh Museum, Amsterdam, yang bisa diakses lewat Google Arts and Culture.

Berkat pemanfaatan teknologi kamera 360 derajat, pengunjung dapat menyaksikan dengan jelas ratusan karya seni Vincent van Gogh meski tak menginjakkan kaki secara langsung di lokasi tersebut.

2. Dapat berinteraksi dengan karya seniman

Dalam pameran seni yang digelar secara nyata, biasanya terdapat larangan untuk menyentuh instalasi karya seni.

Nah, di virtual exhibition, kamu bisa melihat lebih dekat dengan rasio lebih jelas karya seni seniman favorit. Bahkan, kamu berkesempatan untuk berinteraksi langsung dengan pembuatnya lewat fitur chat yang disediakan.

3. Tak butuh usaha ekstra

Mempersiapkan penampilan dari ujung kaki hingga kepala adalah salah satu ritual yang pasti dilakukan saat hendak mengunjungi pameran seni.

Bukan itu saja, masih ada sederet usaha ekstra yang perlu kamu lakukan untuk mencapai lokasi acara, seperti menempuh perjalanan, mencari slot parkir, dan mengantre tiket.

Sementara, pada virtual exhibition, kamu tidak harus mengorbankan kenyamanan dengan melakukan hal-hal di atas. Kamu bisa menikmati pertunjukan dengan pakaian dan dalam posisi apa pun. Paling-paling, kamu hanya perlu menyiapkan koneksi internet yang mumpuni dan sedikit camilan.

4. Tak takut telat

Konser atau pameran yang digelar secara langsung biasanya memiliki peraturan terkait open gate dan close gate. Bagi yang tak bisa datang tepat waktu, otomatis tiket menjadi hangus. Kesempatan menyaksikan seniman favorit pun ikut pupus.

Nah, kemungkinan buruk tersebut tidak akan temukan pada virtual exhibition yang menawarkan banyak fleksibilitas. Kalaupun telat, kamu masih bisa menyaksikan tayangan ulangnya.

5. Menyaksikan dengan puas

Biasanya, pada pameran yang ramai pengunjung, seseorang mungkin tak akan bisa leluasa menikmati karya seni yang terpajang, mengingat tamu lain juga ingin melakukan hal serupa.

Selain itu, tak jarang pula ditemukan banyak tamu mengerubung pada satu instalasi karya seni hingga menghalangi pandangan pengunjung lain.

Nah, pada virtual exhibition, kamu bisa dengan puas menyaksikan karya seni artis kesayangan lewat gadget dan alat penunjang virtual reality (VR).

Bagaimana? Menarik, bukan? Yuk, dapatkan pengalaman menyaksikan beragam virtual exhibition atau inspirasi baru terkait seni dengan mengklik tautan ini.


Rekomendasi untuk anda
komentar