Saat Ayah Isyana Sarasvati dan Rara Sekar Berbagi Pengalaman sebagai Orangtua dan Pengamat

Kompas.com - 21/01/2021, 11:26 WIB
Isyana Sarasvati menceritakan kisah perjalanan kariernya bisa menjadi seorang musisi seperti sekarang ini. YouTube Merry RianaIsyana Sarasvati menceritakan kisah perjalanan kariernya bisa menjadi seorang musisi seperti sekarang ini.

JAKARTA, KOMPAS.com - Mendalami ilmu tentang perilaku dan berprofesi sebagai behaviour analyst, ayah penyanyi Isyana Sarasvati dan Rara Sekar, Sapta Dwikardana, berbagi pengalaman dalam mengikuti tumbuh kembang dua putrinya dulu.

Sapta juga mencontohkan perbedaan tingkah laku Rara dan Isyana yang teramati sejak kecil.

1. Mengamati anak adalah pekerjaan pertama orangtua

Menurut pria lulusan KU Leuven, Belgia, ini pelajaran penting pertama sebagai orangtua adalah mengamati anak.

"Kerjaan pertama adalah mengamati apa yang terjadi dari anak-anak, terutama dari hari ke hari perubahan-perubahan yang ada," kata Sapta Dwikardana, dikutip dari kanal YouTube Mako Talk, Rabu (20/1/2021).

Baca juga: Beri Rara Sekar dan Isyana Sarasvati Kebebasan Sejak Kecil, Ayah: Orangtua Belum Tentu Benar

Pengamatan itu pula yang dipraktikkan Sapta saat ia berkuliah di luar negeri dan Rara serta Isyana ikut tinggal di sana.

"Kita bisa melihat bahwa manusia itu memang meskipun lahir dari rahim yang sama, itu mempunyai keunikan yang luar biasa dan keunikan itu harus dilihat sebagai potensi. Asal kita tahu keunikannya, maka kita harus fokus dengan keunikan itu," tutur Sapta Dwikardana.

2. Perbedaan sikap Rara Sekar dan Isyana Sarasvati cilik

Sapta lantas membeberkan perbedaan sikap Rara dan Isyana dulu.

"Misalnya Rara waktu kecil itu, sejak awal sudah menunjukkan ekspresi wajah sumeh kalau kata orang Jawa. Setiap ada orang baru itu ketawa, tersenyum, matanya, ekspresinya tersenyum," ujar Sapta Dwikardana.

Baca juga: Ayah Isyana Sarasvati dan Rara Sekar: Orangtua Juga Harus Mengikuti Perkembangan Jiwa dan Perilaku Anak

Menurut Sapta, itu kecerdasan interpersonal alami Rara cilik karena tanpa diajarkan.

"Kalau sekarang kita memperhatikan dia (Rara) merespons apa pun yang ada pasti dengan ketawa kan dan itu terobservasi lho dari awal. Itu tidak ada hubungannya dengan pendidikan dan sebagainya," kata Sapta.

"Isyana itu sedikit lebih banyak takut pada orang. Jadi, ketika ada orang tuh ekspresinya menarik diri. Wajahnya tuh selalu 'orang asing, menghindar, menghindar'," ujar Sapta.

3. Orangtua harus ikuti perkembangan jiwa dan perilaku anak

Bagi Sapta, orangtua tak bisa hanya memenuhi kebutuhan yang berwujud konkrit.

Baca juga: Ayah Ungkap Perbedaan Isyana Sarasvati dan Rara Sekar Saat Kecil

"Teori sebagai orangtua adalah membesarkan anak dengan tidak hanya dengan memberikan kebutuhan fisik, materi, dan pendidikan. Tetapi juga mengikuti perkembangan kejiwaan, perilaku," ucap Sapta Dwikardana.

Mengamati anak itu harus pula dilakukan oleh orangtua langsung. Tak bisa pengamatan dititipkan ke guru, psikolog, atau konselor.

"Sekali kita tidak berhasil menangkap pada waktu kecil, maka kita akan mengalami kebingungan-kebingungan terus-menerus melihat pertumbuhan anak. Padahal sebetulnya sejak awal sudah dikasih lihat," kata Sapta.

4. Beri ruang bebas karena orangtua tak selalu benar

Kata Sapta, anak kecil tentu belum punya pemahaman untuk menentukan baik buruk, benar salah suatu hal, dan sebagainya.

Baca juga: Behaviour Analyst, Ayah Isyana Sarasvati dan Rara Sekar Jelaskan Pentingnya Orangtua Mengamati

Itulah yang menjadi kewajiban orangtua untuk mendefinisikannya.

Namun, sebagai orangtua kita sudah banyak distorsi dari pengalaman-pengalaman yang dilewati.

"Artinya kita bisa mendefinisikan sesuatu berdasarkan kita, belum tentu benar, karena kita ada di dunia yang mungkin berbeda dan seterusnya," jelas Sapta.

Oleh karena itu, Sapta berujar orangtua membantu mendefinisikan tentang kehidupan secara mendasar.

Baca juga: Lirik dan Chord Lagu Nada Cinta dari Album Paradox Isyana Sarasvati

Sambil memberikan ruang-ruang kebebasan agar anak mendapat definisinya sendiri.

Dengan begitu anak bisa punya beragam definisi.

"Kalau tidak nanti itu yang dia pegang sepanjang hidupnya, padahal belum tentu benar. Tahu dari mana bahwa itu akan benar, apalagi sekarang yang semua perubahannya lebih cepat, definisi saya mungkin sudah usang nanti di masa mereka dewasa," katanya.

Selain menjadi behaviour analyst, Sapta sekarang juga mengajar tentang psikologi politik dan propaganda; kejahatan transaksional, dan kejahatan politik perguruan.

Lulusan sarjana di jurusan Hubungan Internasional, Sapta mendapatkan gelar PhD di bidang organisasi dan sumber daya manusia.


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X