Cerita Ria Papermoon Memperjuangkan Komunitas Teater Boneka

Kompas.com - 06/01/2021, 19:52 WIB
Papermoon Puppet Theatre menggelar pementasan teater boneka bertajuk Puno Letters to the Sky di IFI-LIP Yogyakarta, Rabu (4/7/2018). Karya ini berkisah tentang cara seorang gadis kecil menghadapi kehilangan ayahnya yang terkasih. Ini adalah pertunjukan pertama Papermoon Puppet Theatre di Tanah Air setelah menjalani tur keliling Asia Tenggara. dok. Papermoon Puppet TheatrePapermoon Puppet Theatre menggelar pementasan teater boneka bertajuk Puno Letters to the Sky di IFI-LIP Yogyakarta, Rabu (4/7/2018). Karya ini berkisah tentang cara seorang gadis kecil menghadapi kehilangan ayahnya yang terkasih. Ini adalah pertunjukan pertama Papermoon Puppet Theatre di Tanah Air setelah menjalani tur keliling Asia Tenggara.

JAKARTA, KOMPAS.com - Siapa yang pernah mendengar Papermoon Puppet Theatre? Papermoon Puppet Theatre adalah komunitas yang menyelenggarakan pertunjukkan boneka asal Yogyakarta.

Papermoon Puppet Theatre adalah salah satu komunitas yang telah membanggakan Indonesia. Komunitas yang diprakarsai oleh Maria Tri Sulistiyani dan Effendi ini telah berhasil berjaya di Jepang, Amerika Serikat, Inggris, Thailand, dan Australia.

Baca juga: Cerita Saat Papermoon Puppet Hiburan Anak-anak Korban Gempa Yogyakarta

Komunitas yang telah terbentuk sejak 2006 ini tetap eksis meski ada lika-liku yang dilewati untuk mempertahankannya tanpa adanya role model.

Saat awal-awal terbentuknya Papermoon Puppet Theatre, banyak orang datang dan pergi hingga tersisa Ria dan Iwan yang jadi tonggak keberhasilan komunitas tersebut.

Dalam kanal YouTube Kompas.com, Ria panggilan akrab untuk Maria menjelaskan alasannya mempertahankan Papermoon Puppet Theatre. Adapun Papermoon Puppet Theatre adalah satu kesatuan seni rupa dengan seni pertunjukan.

Ria mengatakan, antusias setiap orang yang menonton pertunjukan Papermoon Puppet Theatre membuat ia berpikir untuk terus memperjuangkan komunitas itu.

Baca juga: Papermoon Puppet Theatre, Seni yang Berawal dari Keras Kepala

"Pertemuanku dengan penonton membuatku merasa ini worth it untuk diperjuangkan. Jadi bolak balik aku selalu berpikir bahwa ketika ini seni pertunjukkan. Seniman tak bisa berdiri sendiri. Namanya saja seni pertunjukkan, itu namanya dipertontonkan ada pihak lain yang kemudian menjadi bagian dari karya kita dan mereka dalah penonton," ujar Ria seperti dikutip Kompas.com, Rabu (6/1/2021).

Ria menyadari bahwa teater boneka adalah passion-nya selama ini. Meski sudah empat tahun ikut seni teater saat kuliah di Universitas Gajah Mada (UGM), dia hanya tertarik tanpa melanjutkan untuk konsen di komunitas itu.

Ia lebih memilih fokus untuk menjalani komunitas teater boneka yang dibentuknya. Menurut dia, dengan memainkan boneka artinya kita fokus dengan cerita yang disampaikan lewat medium boneka tersebut.

"Kita semua ngikutin bonekanya, bonekanya bisa apa. Dia dibuatnya dengan apa, kemampuan, geraknya bagaimana, kita enggak bisa paksa . Terus lagi aku berpikir. Semua orang tahu Elmo, big beard tapi tidak ada yang tahu Kevin Clash siapa. Dia adalah orang yang memainkan teater Elmo," kata Ria.

"Memainkan teater boneka is not about you, you're selfless. Kita tuh, aku dan teman teman Papermoon merasa ini semua tentang boneka, ini semua tentang boneka, ini semua tentang ceritanya," tambah Ria.

Oleh karena itu, ia sangat cinta dengan teater boneka. Karena berkat teater boneka itu, ia jadi bertemu banyak orang dan memperkenalkan karya seninya.

Dia pun tak ambil pusing jika komunitas teater boneka miliknya ini diremehkan atau dipandang sebelah mata oleh orang lain. Sebab dengan begitu, ia bisa menunjukan kemampuan dari seni pertunjukannya tersebut.

"Itu peluang aku teater yang kudapatkan karena teater, bertemu dengan penyintas 65, penyintas GAM Aceh lewat teater. Meski banyak orang memandang sebelah mata. Tapi di satu titik gini, semakin kami dianggap sepele, kami semakin senang di situ karena kami punya keleluasaan ingin menunjukan," ungkap dia.


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X