Ari Lasso Pertanyakan Regulasi soal Media Baru, Komisioner KPI: Kami Bikin untuk Melindungi

Kompas.com - 22/12/2020, 20:34 WIB
Ari Lasso dan Ketua KPI Pusat, Yuliandre Darwis membahas soal peraturan penyiaran di Indonesia YouTube Ari Lasso TVAri Lasso dan Ketua KPI Pusat, Yuliandre Darwis membahas soal peraturan penyiaran di Indonesia

JAKARTA, KOMPAS.com - Penyanyi Ari Lasso mempertanyakan soal rencana regulasi KPI terhadap new media seperti yang hangat diperbincangkan.

Ari Lasso langsung menyampaikan hal tersebut saat berbincang dengan Komisioner KPI, Yuliandre Darwis.

"Kan gini mas Ari, kalau bisnis itu alangkah (baik) ada kepastian hukumnya, ada landasannya. Konten pun juga begitu," ujar Yuliandre Darwis, dikutip dari kanal YouTube Ari Lasso TV, Selasa (22/12/2020).

Yuliandre Darwis mengatakan, regulasi sangat penting bagi pemilik konten agar tak mudah dipidana dengan Undang-Undang.

"Kebayang enggak kalau Undang-Undang yang dipakai sekarang Undang-Undang ITE dan KUHP. Kalau salah sendiri konten bisa bawa ini ke ranah pidana," ujar Yuliandre Darwis.

"Aduh bahaya sekali. Itu sangat bahaya kalau sampai ke situ," kata Ari Lasso menimpali.

Baca juga: Ari Lasso Pertanyakan Surat Teguran KPI, Ketua KPI: Kasih Tahu Tanda Sayang Publik

Lebih lanjut, Yuliandre Darwis membenarkan ucapan Ari Lasso yang mengatakan Undang-Undang terkait new media dibuat bukan untuk mengancam pemilik konten.

"Artinya regulasi ini dibuat untuk memberikan pengertian. Saya sedih juga, Undang-Undang dibuat negara seolah mengebiri rakyat. Undang Undang dibikin pasti melindungi. Itu konsepnya," ujarnya.

Yuliandre Darwis lalu menuturkan KPI tidak pernah mempidanakan artis yang melanggar regulasi.

"Makanya di KPI ada enggak gue pidanain artis, Mas Ari? Cuma pemberhentian saja, itu dari segi konten ya. Paling program kita stop. Untuk apa? Untuk koreksi," ucapnya.

Dari segi ekonomi, Yuliandre Darwis berujar regulasi sangat penting untuk menyaring tayangan dari luar negeri agar tidak menggerus perekonomian Indonesia.

"Sekarang ada platform baru, sebut salah lah mereknya apa, kalau misalnya ke depan mereka anggap konten kita enggak bagus, masuk asing semua," ujarnya.

"Tapi kita adalah subscriber, kemudian kita membayar 10 juta misalnya, kita menikmati saja, kapan konten Indonesianya muncul? Ekonominya kapan dinikmati," pungkas Yuliandre Darwis.

Baca juga: Ari Lasso Pertanyakan soal Sensor Acara Televisi, Ketua KPI: Kami Enggak Pernah Nge-blur


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X