Kompas.com - 28/11/2020, 09:01 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com- Berdiskusi dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim, aktris dan penyanyi Maudy Ayunda sempat membuat mantan petinggi Gojek itu menghela napas.

Seseru apa dialog mereka dari soal pendidikan hingga kehidupan sehari-hari, simak rangkumannya.

Hal mengejutkan setelah menyandang status menteri

Pertanyaan Maudy yang satu ini sukses membuat Nadiem Makarim menghela napas sebelum memberi jawaban.

Baca juga: Kepada Nadiem Makarim, Maudy Ayunda Ungkap Perbedaan Sistem Pendidikan AS dan Indonesia

Bagi Nadiem, hal yang mengejutkan adalah sorotan terhadap profil publiknya.

"Iya benar, banyak orang mengenal saya waktu di Gojek, tapi enggak seperti ini gitu lho. Mungkin yang paling surprisingly adalah sebenarnya adaptasi yang dibutuhkan secara personal untuk menjadi pejabat publik," cerita Nadiem.

Masukan untuk konsep sistem pendidikan

Maudy sempat menjelaskan pada Nadiem, ketika diminta untuk mengajarkan konsep sistem pendidikan yang dipelajari Maudy sebagai mahasiswa jurusan Bidang Pendidikan dan jurusan Bisnis di Standford University.

Baca juga: Pertanyaan Maudy Ayunda yang Bikin Nadiem Makarim Menghela Napas

Menurut Maudy konsep yang bisa ditujukan ke murid dan guru ini sangat menarik.

"Ini juga konsepnya mengajak orang-orang di komunitas itu untuk juga memiliki ownership karena itu bersama-sama mencari cara yang baik," ujarnya.

Maudy sebut perbedaan sistem pendidikan

Dalam kesempatan itu juga Maudy menyebut adanya perbedaan sistem pendidikan di Amerika Serikat dengan di Indonesia.

Menurut artis kelahiran 1994 itu, ada tiga perbandingan yaitu motivasi untuk belajar mandiri, ada rasa ingin tahu, dan keterampilan individu.

Baca juga: Nadiem Makarim Minta Maudy Ayunda Ajarkan Sistem Pendidikan yang Dipelajari di Stanford

Nadiem sampaikan program Pelajar Pancasila

Mendapat penjelasan dari Maudy tentang perbedaan pembelajaran di Amerika Serikat dengan di Indonesia, membuat Nadiem akhirnya mengungkap kalau mereka merancang program baru yang disebut Pelajar Pancasila.

Yaitu pelajar yang dihasilkan memiliki akhlak mulia, kebhinekaan global, kemandirian, kreativitas, gotong royong, kolaborasi, bernalar kritis.

Bukan untuk mengikuti gaya dari luar negeri, melainkan untuk menghadapi masa depan yang belum diketahui akan seperti apa perubahannya.

Tapi bukan hanya siswa, guru juga harus mendapat perhatian.

"Jadi profil-profil itu harus kita kembangkan di guru-guru juga. Masalahnya, untuk kita menciptakan kemerdekaan pemikiran anak-anak kita, kita perlu memerdekakan guru," ucap Nadiem.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.