Kritik Tompi terhadap Film Indonesia: Penulis Naskah Harus Lakukan Riset

Kompas.com - 13/08/2020, 20:17 WIB
Penyanyi yang juga dokter bedah plastik Tompi saat berbincang dengan wartawan di klinik miliknya Beyoutiful Aesthetic Clinic di kawasan Pakubuwono, Jakarta Selatan, Rabu (3/10/2018). KOMPAS.com/DIAN REINIS KUMAMPUNG Penyanyi yang juga dokter bedah plastik Tompi saat berbincang dengan wartawan di klinik miliknya Beyoutiful Aesthetic Clinic di kawasan Pakubuwono, Jakarta Selatan, Rabu (3/10/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Penyanyi Tompi baru mengetahui bagaimana proses produksi film digarap. Hal itu tidak lepas dari pengalaman Tompi setelah menyutradarai film Pretty Boys.

Tompi pun menyoroti sistem industri perfilman Tanah Air. Ia mengkritisi mulai dari segi produser, penulis naskah, hingga pemilihan pemainnya.

Baca juga: Pretty Boys, Debut Perdana untuk Vincent, Desta, Tompi hingga Onadio

"Saya tahu persis hasil akhir itu bagus tidak bagus, tidak hanya bergantung jago tidak jagonya director, di Indonesia ini di industrinya masih sangat disetir produser, proses syuting bagus, semua bagus, produsernya bapuk, film akhirnya jadi bapuk gara-gara dia bongkar sendiri," kata Tompi dikutip Kompas.com, Kamis (12/8/2020).

Dalam vlog Marten and Friends " TOMPI- Ada yang Salah dari Perfilman di Indonesia", Tompi mengkritisi pemilihan pemeran yang menurutnya terkesan dipaksakan.

Baca juga: Apa Alasan Desta Percayakan Tompi Jadi Sutradara Pretty Boys?

"Sebuah karakter mukanya muka Jawa, bapak ibunya bisa satu China satu Ambon, cuma gara-gara ngejar artisnya lagi naik daun, harus dia nih," ucapnya.

Kemudian dari sisi penulis naskah, menurut Tompi, banyak penulis naskah yang tidak melakukan riset sebelum menulis sebuah cerita.

Baca juga: Tompi Sempat Menyesal Terima Tawaran sebagai Sutradara The Pretty Boys

Sehingga apa yang tersaji, bagi sebagian orang yang tahu tentang hal tersebut akan menganggapnya janggal.

"Dari segi script, saya melihat masih banyak script writer kita itu yang malas research, jadi biasanya, hal-hal sederhanalah, kalau udah ngomong medis lu harus baca, enggak bisa enggak, kan lu enggak ngerti medis," sambung Tompi.

Baca juga: Langkah Perempuan Tanah Jahanam di Pentas Internasional

Tompi menyoroti ketidakmasukakalan dalam film Perempuan Tanah Jahanam yang digarap oleh sutradara Joko Anwar.

Dalam film tersebut, kata Tompi, ada adegan memotong bagian payudara lantas dijemur.

Padahal jika penulisnya melakukan riset, lanjut Tompi, kulit yang telah terpotong seharusnya mengalami perubahan struktur.

Baca juga: Perempuan Tanah Jahanam Bakal Diputar di Sundance Film Festival 2020

Meskipun mendapat sisi dramatisnya, tapi bagi Tompi ketidakhati-hatian tersebut membuatnya menyayangkan film tersebut.

"Harusnya nanya dong, itu kan research ya," jelas Tompi.

"Gue mengkritisi secara umum dan kritik ini berlaku buat gue juga, bukan berarti yang gue kerjain udah sempurna, enggak, karena memang at the end, begitu kita udah terjun ke lapangan, lu bagus, semua bagus, ada satu yang enggak bener, jadi enggak bener," ucapnya.


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X