Profil Sapardi Djoko Damono, Sastrawan Kebanggaan Indonesia

Kompas.com - 19/07/2020, 11:10 WIB
Penyair Sapardi Djoko Damono dengan penuh perasaan membacakan puisi dalam acara Malam Baca Puisi Selebriti yang diadakan oleh panitia Festival November 1998 yang berlangsung di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jumat (4/12/1998). KOMPAS/JOHNNY TGPenyair Sapardi Djoko Damono dengan penuh perasaan membacakan puisi dalam acara Malam Baca Puisi Selebriti yang diadakan oleh panitia Festival November 1998 yang berlangsung di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jumat (4/12/1998).
Penulis Firda Janati
|
Editor Kistyarini

JAKARTA, KOMPAS.com – Berita duka, sastrawan Indonesia Sapardi Djoko Damono meninggal dunia pada Minggu (19/7/2020).

Sapardi Djoko Damono adalah seorang punjagga kebanggaan Indonesia yang lahir di Surakarta, 20 Maret 1940. Dia kerap dipanggil dengan nama akrab, SDD.

Sapardi dikenal melalui berbagai puisi mengenai hal-hal sederhana tapi penuh dengan makna kehidupan.

Baca juga: Sapardi Djoko Damono dan Penghargaan Internasionalnya

Hal itu yang membuat karyanya begitu popular di Indonesia, baik di kalangan sastrawan maupun khalayak umum.

Sapardi Djoko Damono menghabiskan masa mudanya di Surakart. Dia menyelesaikan pendidikan di SMP Negeri 2 Surakarta pada tahun 1955 dan lulus dari SMA Negeri 2 Surakarta pada 1958.

Kemudian, Sapardi melanjutkan pendidikannya demi mengembangkan bakat dan kesukaannya menulis di jurusan Bahasa Inggris di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Baca juga: Maudy Koesnaedi: Selamat Istirahat Pak Sapardi Djoko Damono

Pada tahun 1973, Sapardi meninggalkan Semarang menuju Jakarta untuk menjadi direktur pelaksana Yayasan Indonesia yang menerbitkan majalah sastra Horison.

Sapardi Djoko Damono pernah mengajar di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) di Universitas Indonesia pada tahun 1999-2004.

Selain itu, dia pernah menjabat menjabat sebagai dekan Fakultas Ilmu Budaya di Universitas Indonesia periode 1995-1999 dan menjadi guru besar.

Baca juga: Mengenang Karya dan Peran Sapardi Djoko Damono di Dunia Sastra

Pada masa tersebut, ia juga menjadi redaktur majalah Horison, Basis, Kalam, Pembinaan Bahasa Indonesia, Majalah Ilmu-ilmu Sastra Indonesia, dan country editor majalah Tenggara di Kuala Lumpur.

Sastrawan dan penyair kebanggaan Indonesia ini telah banyak menerima penghargaan.

Pada tahun 1986, Sapardi Djoko Damono mendapatkan anugerah SEA Write Award. Ia juga penerima penghargaan Achmad Bakrie pada tahun 2003.

Baca juga: Karya dan Perjalanan Sastra Sapardi Djoko Damono

Sapardi juga penerima penghargaan Achmad Bakrie pada tahun 2003 dan menjadi salah satu seorang pendiri Yayasan Lontar.

Sapardi Djoko Damono menikah dengan Wardiningsih dan dikaruniai seorang putra dan seorang putri.


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X