Pesta Meriah Perayaan 23 Tahun Perjalanan Shaggydog

Kompas.com - 28/06/2020, 10:30 WIB
Shaggydog mengajak duo dangdut hiphop NDX A.K.A untuk tampil pada Mocosik Festival 2017 hari kedua di Jogja Expo Center, Yogyakarta, Senin (13/2/2017). KONTRIBUTOR KOMPAS.com/YULIANUS FEBRIARKOShaggydog mengajak duo dangdut hiphop NDX A.K.A untuk tampil pada Mocosik Festival 2017 hari kedua di Jogja Expo Center, Yogyakarta, Senin (13/2/2017).

JAKARTA, KOMPAS.com - Grup band asal Yogyakarta, Shaggydog, berulang tahun pada tanggal 1 Juni 2020 lalu.

Dalam rangka merayakan ulang tahun ke-23 mereka, Shaggydog menggelar sebuah konser virtual bertajuk 23LOAD.

Band yang mengusung genre musik ska dan rocksteady ini langsung mengawali konser dengan membawakan lagu hits mereka, "Kembali Berdansa".

Baca juga: Rayakan Ulang Tahun ke-23, Shaggydog Gelar Konser Online

Berikut ini rangkuman dari pesta meriah perayaan 23 tahun perjalanan Shaggydog yang ditayangkan secara virtual di situs panggungdigital.id dan doggyhouserecords.com pada Sabtu (27/6/2020).

1. Duet dengan band Jerman

Selain menggandeng beberapa musisi Tanah Air untuk meramaikan acara, Shaggydog juga berduet dengan sebuah band asal Jerman.

Heru dkk berduet dengan Dr. Ring-Ding dengan membawakan lagu "From the Doc to the Dog".

Shaggydog juga sempat mengisi fase-fase awal konser dengan penampilan kolaborasi bersama rapper Mario.

Baca juga: Shaggydog Buka Konser Perayaan 23 Tahun dengan Kembali Berdansa

 

NDX AKA menjadi rekan duet terakhir yang ditampilkan pada acara 23LOAD tersebut.

Kombinasi musik reggae dan koplo dari NDX sukses menghibur para penonton yang meramaikan acara dari rumah masing-masing.

2. Cerita perjalanan karier Shaggydog

Tak hanya menampilkan acara konser virtual saja, dalam 23LOAD Shaggydog juga berbagi cerita perjalanan karier mereka lewat talkshow.

Berawal dari band komunitas, Shaggydog tumbuh menjadi salah satu band yang digandrungi masyarakat berkat lagu-lagunya.

Baca juga: Rayakan Ulang Tahun ke-23, Shaggydog Duet dengan NDX AKA sampai Musisi Reggae Jerman

"Dulu kami bermain di dunia permusikan underground, kami kan segmentasi sekali. Nah, dulu ada istilah sell out (berkhianat), istilahnya menjual diri kalau gabung ke label yang lebih besar. Tapi kan bagi kamu musik kan diperdengarkan sama siapa saja, enggak kalangan tertentu saja," kata Memet, mantan manajer Shaggydog.

Perpindahan Shaggydog ke label rekaman musik besar itu sempat menjadi salah satu sorotan dalam komunitasnya.

Beruntung, band yang dibentuk di Sayidan tersebut bisa bertahan dan tak termakan oleh label rekaman.

Baca juga: Cerita Shaggydog saat Gabung ke Label Besar, Takut Dicap Jual Diri oleh Komunitas

3. Pertahankan jati diri

Kekhawatiran utama Shaggydog saat berpindah ke label rekaman besar adalah bergantinya genre musik yang selama ini mereka usung.

Setelah memutuskan bergabung dengan label EMI Music Indonesia, Shaggydog mempertahankan jati dirinya dengan musik yang mereka inginkan.

Baca juga: Shaggydog Ajak NDX AKA Nyanyikan Ambilkan Gelas

"Soalnya kan kami kalau mau memperkenalkan musik ke lebih luas ya harus masuk ke hal yang lebih luas. Walaupun sempat ada kekhawatiran, kami akan lebih pop, tapi nyatanya enggak, kami tetap dengan gaya musik sendiri," kenang Richard, sang gitaris.

Selama bersama EMI Music Indonesia, band yang digawangi oleh Heru, Richard, Raymond, Bandizt, Lilik, dan Yoyo ini berhasil menelurkan album berjudul Hot Dogz.


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X