Kreativitas Didi Kempot dan Pelajaran Filsafat Eksistensi

Kompas.com - 05/05/2020, 17:47 WIB
Penyanyi campursari, Didi Kempot saat cek sound sebelum acara program Rosi di Kompas TV di Menara Kompas, Jakarta, Kamis (1/8/2019). KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGPenyanyi campursari, Didi Kempot saat cek sound sebelum acara program Rosi di Kompas TV di Menara Kompas, Jakarta, Kamis (1/8/2019).

DIDI Kempot adalah inspirasi. Kepergiannya pada Selasa (5/5/2020) pagi telah membuat Sobat Ambyar Nusantara bersedih hati. Di balik kesederhanaannya, ada inspirasi besar yang patut kita cermati dan teladani.

Didi Kempot merupakan maestro ulung yang mampu mengawinkan seni musik tradisional dengan dunia seni kontemporer secara apik, hingga lagu-lagunya tetap bisa dinikmati oleh segmen milenial saat ini.

Namun, bukan hanya itu keistimewaan Lord Didi. Dia mampu menginspirasi setiap individu untuk bangga pada jati diri kita sendiri.

Baca juga: Didi Kempot dalam Kenangan...

Sebagai seniman dan musisi, ia tidak ingin ikut-ikuta latah menjadi pribadi dengan identitas dan karakter berbeda yang gemar mencitrakan diri seolah lebih modern atau ke-Barat-baratan. Dia tetap menikmati identitasnya sebagai “seniman kampung” yang seolah menempel di awal-awal kehadirannya.

Namun, belakangan, masyarakat urban dan milenial yang penat dengan pernak-pernik modernisasi, justru lebih menghargai lokalitas dan karakternya yang genuine sebagai orang Jawa dan ndeso sebagaimana yang ia tampilkan selama ini.

Hampir semua lirik lagunya berbahasa Jawa. Tetapi, musik memang memiliki bahasa hati yang mampu menghipnotis alam bawah sadar manusia, termasuk mereka yang tidak memahami makna lagu itu sekalipun.

Karena itu, meskipun sudah mampu masuk dapur rekaman di level nasional, ia tetap mempertahankan lagu berbahasa Jawa sebagai penegas jati diri. Bukan untuk mengeksploitasi identitas primordial, tetapi untuk mengoptimalkan kemampuan dan keterbatasan yang ia miliki.

Dengan kerja fokusnya, Didi Kempot membuktikan bahwa keterbatasan diri yang terus diasah dan diperjuangkan berubah menjadi mutiara bernilai tinggi.

Tak terbayangkan bagaimana pengamen trotoar jalanan bisa bertransformasi menjadi musisi besar yang karya-karyanya dihargai, tidak hanya dari segmen masyarakat Jawa, tetapi juga mereka yang ada di Suriname, Amerika Latin, Belanda, dan lapisan masyarakat diaspora Indonesia di berbagai negara.

Lirik lagunya yang genuine, cenderung mengeksploitasi hati dan ekspresi psikologis yang manusiawi, membuat lagu-lagu Lord Didi mudah diterima telinga dan perasaan lintas generasi. Karya-karya Didi Kempot terbukti memiliki level dan kualitas yang sulit tertandingi.

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X