Dipecat Dewas TVRI, Helmy Yahya Anggap Seperti Pitstop F1

Kompas.com - 13/02/2020, 18:20 WIB
Helmy Yahya di Gedung TVRI, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (14/2/2018). KOMPAS.com/Tri Susanto SetiawanHelmy Yahya di Gedung TVRI, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (14/2/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Presenter Helmy Yahya pada 16 Januari 2020 lalu dipecat dari posisinya sebagai dirut TVRI.

Helmy pun menganggap pemecatan itu layaknya memasuki pitstop dalam balapan F1.

Baca juga: Dipecat dari Dirut TVRI, Helmy Yahya Butuh Waktu Ambil Langkah Hukum

Sebab saat ini kata Helmy, ia tengah rehat sejenak dari hiruk-pikuk pemberhentiannya sebagai dirut TVRI.

"Pokoknya sekarang saya menikmati dululah setelah dua tahun racing (bekerja sebagai Dirut TVRI) kayak F1, masuk pitstop," ucapnya saat ditemui dalam sebuah acara diskusi di M Bloc Space, kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (12/2/2020).

Baca juga: Helmy Yahya: TVRI Bukan Milik Sekelompok Orang, tapi Milik Publik

Istirahat itu lantaran Helmy harus menunggu 90 hari untuk menentukan langkah hukum apa yang akan ia ambil, berdasarkan rapat dengar pendapat dengan Komisi I DPR RI, pada 28 Januari 2020.

Menurut Helmy, sembari menunggu tenggat waktu yang ada, dirinya juga mempersiapkan segala sesuatu keperluan berkait langkah hukum yang akan ia ambil.

"Kan masih cukup banyak waktu ada 90 hari dari semenjak saya diberhentikan pada 16 Januari 2020," ujarnya.

Baca juga: Helmy Yahya: Karyawan TVRI Punya Semangat Besar...

Ketika ditanya langkah hukum apa yang akan diambil ke depannya, Helmy belum bisa menjawabnya.

Dewan Pengawas (Dewas) TVRI memberhentikan Direktur Utama Helmy Yahya pada 16 Januari 2020.

Surat keputusan (SK) pemecatan Helmy dikatakan merujuk pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 13 Tahun 2005 tentang LPP TVRI.

Baca juga: Helmy Yahya Menangis Lihat Kepedulian Publik kepada TVRI

Berdasarkan PP tersebut, kata Ketua Dewas TVRI Arif Hidayat Thamrin, Dewas memiliki hak untuk mengangkat dan memberhentikan Dewan Direksi.

Namun, keputusan ini sorotan lantaran publik menganggap alasan dewas memecat Helmy dangkal.

Helmy sendiri juga telah melakukan pembelaan atas keputusan tersebut dan sedang dikaji oleh Komisi I DPR RI.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X