Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Guru dan Murid Rohingya Dibunuh Orang-orang Bersenjata di Bangladesh

Kompas.com - 30/05/2024, 17:17 WIB
Albertus Adit

Penulis

Sumber AFP

DHAKA, KOMPAS.com - Orang-orang bersenjata di Bangladesh membunuh seorang guru dan seorang siswa di kamp pengungsi Rohingya.

Sebelumnya, ratusan anak laki-laki dan pemuda Rohingya telah ditangkap dari kamp pengungsi di Bangladesh.

Padahal, itu jadi tempat mereka mencari perlindungan setelah militer Myanmar mengusir sekitar 750.000 anggota minoritas yang teraniaya ke luar negara tersebut pada 2017.

Baca juga: Ketika Militer Myanmar Minta Bantuan Etnis Rohingya...

Ayah dari siswa yang terbunuh tersebut mengatakan bahwa orang-orang bersenjata adalah mereka yang berada di kamp tersebut, dan menuduh pejuang Rohingya mencoba menculik putranya sebagai bagian dari upaya mereka untuk melawan Tentara Arakan (Pemberontak Myanmar).

Polisi mengatakan kedua pria tersebut, siswa Nur Absar (22) dan guru Nur Faisal (21) dibunuh oleh "penyerang tak dikenal" di kamp Kutupalong di distrik Cox's Bazar, Bangladesh.

"Satu orang meninggal di tempat, satu lagi meninggal di rumah sakit," kata Arefin Jewel, juru bicara kepolisian di Kutupalong, dikutip dari AFP pada Kamis (30/5/2024).

"Kami sedang menyelidiki apakah ini merupakan kasus perekrutan paksa," imbuh dia.

Namun ayah Faisal menyalahkan milisi bersenjata dari Organisasi Solidaritas Rohingya (RSO).

"RSO mendatangi sekolah anak saya dan ingin merekrutnya, putraku menolak," tutur Zakir Ahmed (45) kepada AFP.

Ahmed mengatakan putranya juga bekerja sebagai penjaga komunitas untuk menghentikan orang-orang bersenjata yang berkeliaran di kamp-kamp untuk menekan geng-geng pemuda.

"Dia juga bekerja sebagai penjaga malam untuk menyelamatkan pemuda Rohingya lainnya dari perekrutan paksa oleh kelompok bersenjata," katanya.

"Orang-orang bersenjata RSO menembak mereka. RSO membunuh anak saya," terangnya.

Baca juga: 5 Jenazah Rohingya Ditemukan di Perairan Aceh

UNICEF mengutuk keras setiap serangan terhadap sekolah yang harus selalu menjadi tempat yang aman bagi anak-anak, dan bagi staf yang memberikan layanan penting ini, kata Kepala UNICEF Sheldon Yett.

Para pejuang Rohingya bertempur bersama tentara reguler Myanmar di Negara Bagian Rakhine.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com