Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Setelah Tanah Longsor Papua Nugini, PBB Ingatkan Adanya Risiko Penyakit

Kompas.com - 30/05/2024, 12:33 WIB
Albertus Adit

Penulis

Sumber AFP

PORT MORESBY, KOMPAS.com - Bencana tanah longsor di Papua Nugini menjadi perhatian global. Bahkan, kini pasca-bencana, PBB memperingatkan adanya risiko penyakit.

Pasalnya, warga yang selamat dan berada di daerah terpencil itu belum dapat menerima pasokan makanan dan air bersih yang cukup.

Badan migrasi PBB mengatakan, sumber air bersih telah tercemar dan risiko penyakit meningkat.

Baca juga: Khawatir Terjadi Longsor Susulan di Papua Nugini, 7.900 Orang Dievakuasi

Sebagian besar air di kawasan itu mengalir melalui lokasi longsor yang sekarang menjadi kuburan sepanjang 600 meter.

"Anak sungai yang sekarang mengalir dari puing-puing tersebut terkontaminasi, menimbulkan risiko besar terjadinya wabah penyakit," kata badan migrasi PBB kepada mitranya dalam laporan penilaian cepat, dikutip dari AFP pada Kamis (30/5/2024).

"Tidak ada metode yang digunakan untuk mengolah air agar aman untuk diminum," katanya seraya memperingatkan akan adanya diare dan penyakit malaria.

Selama seminggu terakhir, warga Kelurahan Yambeli dan Lapak telah menggali berton-ton tanah untuk mencari sanak saudara yang terkubur.

Saksi mata melaporkan bau busuk dari mayat yang tertimbun longsoran sudah sangat menyengat.

Pejabat setempat mengatakan, antara enam dan 11 jenazah telah ditemukan.

Mendapatkan air bersih, tablet pemurnian, dan persediaan makanan yang menyelamatkan nyawa ke lokasi tersebut terdaftar sebagai prioritas utama oleh Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) PBB.

Longsor juga memutuskan jalan utama menuju dan dari masyarakat serta jalur penghubungnya belum dibersihkan.

Diketahui, jumlah korban tewas yang terkonfirmasi diperkirakan akan meningkat secara signifikan setelah alat berat tiba dan bekerja di zona bencana yang luasnya 90.000 meter persegi.

Baca juga: 4 Fakta Seputar Bencana Tanah Longsor di Papua Nugini

Administrator Provinsi Enga, Sandis Tsaka, mengatakan, pihaknya belum bisa menyediakan mesin, insinyur, atau penawaran teknis ke lokasi tersebut karena risiko pergerakan tanah yang tidak stabil.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com