Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Uni Eropa: Ukraina Berhak Pakai Senjata Barat untuk Serang Rusia

Kompas.com - 28/05/2024, 16:30 WIB
Aditya Jaya Iswara

Penulis

Sumber AFP

BRUSSELS, KOMPAS.com - Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Josep Borrell pada Selasa (28/5/2024) mengatakan, Ukraina berhak menggunakan senjata Barat untuk menyerang Rusia.

Dukungan ini dikemukakan Borrell untuk menanggapi kekhawatiran mengenai kemampuan Ukraina mempertahan diri, sedangkan di sisi lain penggunaan senjata Barat ditakutkan akan mengeskalasi perang.

“Menurut hukum perang, itu sangat mungkin terjadi dan tidak ada kontradiksi," katanya, dikutip dari kantor berita AFP.

Baca juga: Akankah Rusia Serang Ukraina dengan Senjata Nuklir?

“Kita boleh membalas atau kita boleh melawan orang-orang yang melawan kita dari wilayah mereka,” ujar Borrell pada awal pertemuan dengan para menteri pertahanan negara-negara Uni Eropa.

“Anda harus menyeimbangkan risiko eskalasi dan kebutuhan Ukraina mempertahankan diri.”

Ukraina berulang kali menekan para sekutunya untuk mengizinkan Kyiv menyerang sasaran di Rusia dengan senjata jarak jauh yang dipasok Barat.

Negara-negara pemasok utama seperti Amerika Serikat (AS) dan Jerman enggan mengizinkan Ukraina melakukannya karena khawatir dapat menyeret mereka berkonflik dengan Rusia.

Sementara itu, pernyataan Borrell didukung beberapa menteri pertahanan saat pertemuan di Brussels.

Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Josep Borrell. Dia pada Selasa (23/5/2023) mengatakan, Uni Eropa telah memasok Ukraina dengan lebih dari 200.000 peluru artileri dan 1.000 rudal melalui sebuah program untuk segera mengirimkan amunisi yang dibutuhkan ke Kyiv.Komisi Eropa Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Josep Borrell. Dia pada Selasa (23/5/2023) mengatakan, Uni Eropa telah memasok Ukraina dengan lebih dari 200.000 peluru artileri dan 1.000 rudal melalui sebuah program untuk segera mengirimkan amunisi yang dibutuhkan ke Kyiv.
Menteri Pertahanan Belanda Kajsa Ollongren mengatakan, negaranya tidak memiliki batasan dan dia berharap negara-negara lain yang posisinya berbeda akan mengubahnya.

“Sangat mungkin mereka juga melakukan serangan di wilayah Rusia,” ucap Ollongren. "Menurut saya ini tidak seharusnya menjadi perdebatan."

Menhan Hanno Pevkur dari Estonia berkata, dia sangat berharap semua negara yang memiliki aset ini juga akan memberikan izin kepada Ukraina.

“Tidaklah normal jika Rusia menyerang dari wilayah Ukraina dan Ukraina bertempur dengan satu tangan di belakang mereka,” katanya.

Baca juga:

Usul Borrell dilontarkan setelah Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg pada Senin (27/5/2024) mengatakan, sudah waktunya para sekutu mempertimbangkan kembali batasan mereka, terutama ketika Rusia menggempur Kota Kharkhiv di Ukraina dari dalam.

Perdebatan mengenai serangan Ukraina di Rusia terjadi ketika negara-negara NATO kesulitan menyuplai sistem pertahanan udara yang sangat dibutuhkan Kyiv.

Stoltenberg bulan lalu menyampaikan, para sekutu sepakat memberikan lebih banyak pertahanan udara, tetapi sejak itu belum ada senjata baru yang dijanjikan.

Menhan Belanda Ollongren menuturkan, pihaknya sedang berupaya merakit pertahanan udara Patriot bersama beberapa mitra untuk dikirim ke Ukraina.

“Kami akan mengirimkan, berdasarkan kemampuan kami sendiri, beberapa bagian dari sistem itu sehingga kami dapat merakit seluruh sistem dan mengirimnya ke Ukraina,” ujar dia.

Baca juga: Italia Tolak Pasok Senjata ke Ukraina jika Dipakai untuk Serang Wilayah Rusia

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.


Terkini Lainnya

 [POPULER GLOBAL] 2.600 Polisi KTT G7 Berjejal Tidur di Kapal Rusak | Warga Gaza Bandingkan Kondisi dengan Hamas

[POPULER GLOBAL] 2.600 Polisi KTT G7 Berjejal Tidur di Kapal Rusak | Warga Gaza Bandingkan Kondisi dengan Hamas

Global
Isi Bantal Leher dengan Barang demi Hindari Biaya Bagasi, Penumpang Ini Dilarang Terbang

Isi Bantal Leher dengan Barang demi Hindari Biaya Bagasi, Penumpang Ini Dilarang Terbang

Global
Warga Gaza: Pemimpin Hamas di Qatar Tidur Nyenyak Makan dan Minum, Kami Menderita

Warga Gaza: Pemimpin Hamas di Qatar Tidur Nyenyak Makan dan Minum, Kami Menderita

Global
Wanita Jepang Siapkan Makan Sebulan untuk Suaminya Sebelum Melahirkan

Wanita Jepang Siapkan Makan Sebulan untuk Suaminya Sebelum Melahirkan

Global
Houthi Gunakan Drone Perahu untuk Serang Kapal Komersial

Houthi Gunakan Drone Perahu untuk Serang Kapal Komersial

Global
Tinggal 20 Persen Pohon Sehat di Jerman, Indonesia Bagaimana?

Tinggal 20 Persen Pohon Sehat di Jerman, Indonesia Bagaimana?

Global
Selesaikan Wajib Militer, Jin BTS Langsung Bawakan Hit KPop 'Dynamite'

Selesaikan Wajib Militer, Jin BTS Langsung Bawakan Hit KPop "Dynamite"

Global
Ada Penyiksa dan Pembunuh di Antara Pasukan Penjaga Perdamaian PBB

Ada Penyiksa dan Pembunuh di Antara Pasukan Penjaga Perdamaian PBB

Global
Di Kafe Ini Dilarang Bawa Ponsel, Hanya Boleh Ngobrol dan Bermain Mainan Papan

Di Kafe Ini Dilarang Bawa Ponsel, Hanya Boleh Ngobrol dan Bermain Mainan Papan

Global
Kebakaran Pasar Hewan Liar Thailand, Lebih 1.000 Hewan Terbunuh

Kebakaran Pasar Hewan Liar Thailand, Lebih 1.000 Hewan Terbunuh

Global
NATO Awasi Tindakan Agen Rusia atas Serangan Hibrida

NATO Awasi Tindakan Agen Rusia atas Serangan Hibrida

Global
Upaya Pemulihan Keamanan di Ekuador Picu Kekhawatiran Terkait HAM

Upaya Pemulihan Keamanan di Ekuador Picu Kekhawatiran Terkait HAM

Internasional
Gelombang Panas Tak Tertahankan, Yunani Tutup Situs Kuno Acropolis

Gelombang Panas Tak Tertahankan, Yunani Tutup Situs Kuno Acropolis

Global
Pria 98 Tahun Diyakini Jadi Donor Organ Tertua di AS

Pria 98 Tahun Diyakini Jadi Donor Organ Tertua di AS

Global
Hezbollah Luncurkan 250 Roket ke Israel Usai Komandannya Tewas, Terbanyak sejak Oktober

Hezbollah Luncurkan 250 Roket ke Israel Usai Komandannya Tewas, Terbanyak sejak Oktober

Global
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com