Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Khawatir Terjadi Longsor Susulan di Papua Nugini, 7.900 Orang Dievakuasi

Kompas.com - 28/05/2024, 09:07 WIB
Albertus Adit

Penulis

Sumber AFP

PORT MORESBY, KOMPAS.com - Pemerintah Papua Nugini mengevakuasi sekitar 7.900 orang dari desa-desa terpencil di dekat lokasi tanah longsor pada Selasa (28/5/2024).

Hal itu dilakukan karena pihak berwenang khawatir akan adanya tanah longsor susulan di dataran tinggi dan terpencil di Papua Nugini.

Sebelumnya, pemerintah melaporkan ada sebanyak 2.000 orang yang tertimbun tanah longsor di Papua Nugini di Provinsi Enga pada Jumat (24/5/2024) kemarin.

Baca juga: 4 Fakta Seputar Bencana Tanah Longsor di Papua Nugini

Karena upaya penyelamatan dan pemberian bantuan terhambat lantaran lokasinya yang terpencil, putusnya akses jalan, hujan deras, dan kekerasan suku di dekatnya, administrator Provinsi Enga, Sandis Tsaka, memperingatkan bahwa bencana tersebut bisa menjadi lebih buruk.

Tsaka mengatakan pihak berwenang berusaha mengoordinasikan evakuasi hampir 7.900 orang ketika gumpalan batu kapur, tanah dan batu terus tergeser dari Gunung Mungalo.

"Tragedi ini masih berlangsung. Setiap jam Anda bisa mendengar batu pecah, itu seperti bom atau suara tembakan dan batu terus berjatuhan," katanya kepada AFP.

Citra satelit yang diambil pada hari Senin menunjukkan skala bencana yang sangat besar.

Puing-puing berwarna kuning dan abu-abu terlihat membelah hutan semak hijau dan memutus satu-satunya jalan di wilayah tersebut.

Baca juga: Papua Nugini Laporkan Lebih dari 2.000 Orang Tertimbun Tanah Longsor

Selama empat hari empat malam, penduduk setempat telah memilah-milah tanah bergolak sedalam beberapa meter, pohon-pohon yang tumbang, dan batu-batu besar seukuran mobil, hanya dengan menggunakan sekop dan tongkat penggali.

"Daerah ini dipenuhi perumahan, tempat usaha, gereja dan sekolah, dan semuanya telah musnah. Ini hanya seperti permukaan bulan, hanya bebatuan," kata Tsaka.

"Masyarakat menggali dengan tangan dan jari mereka," tutur dia, mengungkapkan kesedihannya atas ketidakmampuan pemerintah yang kekurangan sumber daya untuk menghadapi besarnya bencana yang terjadi.

"Saya tidak siap menghadapi tragedi ini," imbuh Tsaka.

Pasukan Pertahanan Papua Nugini mencoba mengakses lokasi tersebut dengan peralatan berat pemindah tanah.

Semakin kecil kemungkinan mereka akan menemukan korban selamat, sehingga tim penyelamat kini beralih ke tugas berat untuk memulihkan jenazah.

Baca juga: Evakuasi Belum Selesai, Tim Penyelamat Khawatir Ada Longsor Baru di Papua Nugini

Sementara pihak berwenang Papua Nugini yang kewalahan mengadakan pertemuan darurat online dengan badan-badan PBB dan sekutu internasional pada hari Selasa, dengan harapan dapat memulai upaya bantuannya.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com