Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menerka Masa Depan Politik Iran Setelah Kematian Presiden Raisi

Kompas.com - 23/05/2024, 17:15 WIB
Aditya Jaya Iswara

Editor

Penulis: Kersten Knipp/DW Indonesia

TEHERAN, KOMPAS.com - Kecelakaan helikopter yang menewaskan Presiden Iran Ebrahim Raisi dan Menteri Luar Negeri Hossein Amir-Abdollahian, serta pejabat tinggi lainnya, telah mengirimkan gelombang kejutan ke seluruh Timur Tengah.

Raisi sedang bertolak kembali ke Iran pada Minggu (19/5/2024) setelah melakukan perjalanan ke perbatasan Iran-Azerbaijan untuk meresmikan sebuah bendungan bersama Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev, ketika helikopter yang ditumpanginya "mendarat darurat" di wilayah pegunungan terpencil di Azerbaijan Timur. Demikian menurut media pemerintah Iran. Penyebab kecelakaan itu masih belum jelas.

"Banyak asumsi berbeda-beda dan laporan yang belum terkonfirmasi beredar di Iran," papar Sara Bazoobandi, pakar Iran di lembaga pemikir Institut Jerman untuk Studi Global dan Area di Hamburg.

Baca juga: 6 Fakta soal Helikopter Presiden Iran, Termasuk Buatan AS dan Sudah Usang

"Penyebabnya, bisa saja murni kecelakaan atau helikopternya sudah tua, atau juga sabotase, dan mungkin melibatkan orang-orang dari lingkaran politik Raisi. Tidak ada hal yang bisa dikesampingkan, semua kemungkinan itu bisa jadi penyebab," ujarnya.

"Masyarakat Iran kemungkinan besar berharap rincian lebih lanjut mengenai kecelakaan itu akan muncul dalam beberapa hari dan minggu mendatang," tambah Bazoobandi.

Rezim Iran berupaya jaga ketertiban

Sementara itu, rezim teokrasi Iran berusaha menjaga ketertiban dan keadaan tetap stabil. Kabinet Iran berjanji bahwa pekerjaan pemerintah akan terus berjalan "tanpa gangguan sedikit pun" dan mengatakan bahwa "kami menjamin bangsa yang setia bahwa pelayanan akan terus berlanjut dengan semangat Ayatollah Raisi yang tak kenal lelah."

Wakil Presiden Utama Iran, Mohammad Mokhber, telah ditunjuk sebagai presiden ad interim. Dia diperkirakan akan menjabat sebagai presiden sementara selama sekitar 50 hari sebelum pemilihan presiden baru.

Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei, yang memegang kekuasaan tertinggi Iran, mengumumkan penunjukan Mokhber dalam pesan belasungkawa yang ia sampaikan atas kematian Raisi.

Mokhber, yang berusia 68 tahun, sejauh ini lebih banyak berada di balik layar dibandingkan dengan politisi lain di negara teokrasi Iran.

Namun, ia kini telah muncul di hadapan publik. Dia memiliki hubungan baik dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Demikian menurut peneliti tamu di German Institute for International and Security Affairs (Institut Urusan Internasional dan Keamanan Jerman), Hamidreza Azizi.

"Hubungan Mokhber dengan kepemimpinan inti IRGC akan menjamin bahwa peran IRGC dalam pemerintahan Iran akan tetap utuh dan bahkan meningkat,” tulis pakar tersebut di media sosial X.

"Kepresidenan interimnya mungkin membuka jalan bagi IRGC untuk melakukan kontrol yang lebih terbuka terhadap kebijakan administratif."

Baca juga: Profil Mohammad Mokhber, Presiden Sementara Iran Pengganti Ebrahim Raisi

Iran mungkin gelar pemilu baru, diperkirakan tidak ada kejutan

Bazoobandi mengatakan, pemilu kemungkinan akan diadakan dalam jangka waktu 50 hari yang diamanatkan.

"Namun, dapat diasumsikan bahwa pemilu kali ini juga tidak sah. Pemilu akal-akalan akan diselenggarakan," katanya, mengacu pada pemilihan presiden terakhir pada 2021, yang dimenangi dengan mudah oleh Raisi.

Halaman:

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com