Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Chechnya Larang Musik Dansa yang Terlalu Cepat atau Lambat

Kompas.com - 11/04/2024, 15:30 WIB
Tito Hilmawan Reditya

Penulis

Sumber Arab News

 KOMPAS.com - Chechnya yang mayoritas penduduknya Muslim telah memberlakukan larangan musik dansa yang dianggap terlalu cepat atau terlalu lambat dalam upaya untuk meredam pengaruh Barat.

Larangan tersebut, yang diumumkan awal pekan ini, berlaku untuk semua karya musik, vokal, dan koreografi yang tidak sesuai dengan tempo 80 hingga 116 detak per menit, kata pihak berwenang.

Meskipun masih belum jelas bagaimana undang-undang tersebut akan ditegakkan, langkah tersebut secara efektif melarang sebagian besar musik Barat dan internasional tampil di depan umum karena temponya yang lebih cepat.

Baca juga: Presiden Chechnya Yakin Rusia Segera Menang: Barat Akan Bertekuk Lutut

Ini termasuk genre seperti trance, techno, samba, dan waltz.

Larangan tersebut dilaporkan menyusul pertemuan antara Menteri Kebudayaan Musa Dadayev dan seniman lokal dan regional.

Menurut laporan Moscow Times, Dadayev mengatakan bahwa keputusan tersebut bertujuan untuk menyelaraskan musik Chechnya dengan identitas budaya wilayah tersebut dan melestarikan warisan masyarakatnya.

“Meminjam budaya musik dari orang lain tidak dapat diterima,” kata Dadayev, dilansir dari Arab News.

Artis memiliki waktu hingga 1 Juni untuk menyesuaikan musik yang tidak memenuhi kriteria, atau musik tersebut tidak akan diizinkan untuk ditampilkan di depan umum.

Ironisnya, The Telegraph mencatat bahwa undang-undang baru tersebut juga secara tidak sengaja melarang lagu kebangsaan Rusia, yang biasanya diputar dengan kecepatan 76 BPM, serta “Victory Day”, sebuah lagu militer Rusia yang populer dengan kecepatan 126 BPM.

Sejak mengambil alih kekuasaan pada tahun 2007, pemimpin Chechnya Ramzan Kadyrov telah membatasi kebebasan sipil di wilayah konservatif yang mayoritas penduduknya Muslim atas nama tradisi dan norma budaya.

Baca juga: Ukraina Terkini: Jarang Terjadi, Pemimpin Chechnya Akui 23 Pasukannya Tewas, Anggap Jihad

Terletak di Kaukasus Utara, wilayah semi-otonom ini telah menarik perhatian dalam beberapa tahun terakhir karena penganiayaan parah terhadap komunitas minoritas.

Baca juga: Pemimpin Chechnya Kirim 3 Anaknya ke Garis Depan Perang Rusia-Ukraina

Ini melibatkan penghilangan paksa, pemenjaraan, penyiksaan, dan pembunuhan di luar proses hukum terhadap warga sipil berdasarkan persepsi orientasi seksual.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com