Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Geng-geng Kuasai Ibu Kota Haiti, Warga Terpaksa Mengungsi

Kompas.com - 06/04/2024, 11:35 WIB
Irawan Sapto Adhi

Editor

Penulis: VOA Indonesia

PORT-AU-PRINCE, KOMPAS.com - Absennya tanda-tanda pembentukan dewan transisi atau penunjukan perdana menteri membuat sebagian warga Haiti berupaya meninggalkan negara itu.

Bandara dan pelabuhan laut di Port-au-Prince ditutup sebulan lalu karena aktivitas geng. Bandara di Cap-Haitien, di pantai utara, memulai kembali penerbangan ke Miami minggu lalu.

Kekacauan terjadi di Haiti ketika geng-geng kekerasan kini menguasai sebagian besar ibu kota, menewaskan ribuan orang, dan memaksa jutaan orang mengalami kelaparan akut.

Baca juga: Baku Tembak antara Geng dan Polisi Pecah Lagi di Haiti, Termasuk di Taman Umum

Data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan, lebih dari 53.000 warga Haiti telah meninggalkan ibu kota Haiti, Port-au-Prince.

Kebanyakan dari mereka mencari perlindungan di daerah pedesaan di Haiti selatan, yang menurut PBB tidak akan mampu menampung pengungsi dalam jumlah besar.

“Setiap hari adalah perkara hidup atau mati,” kata Pierre Joseph, seorang pekerja lembaga nirlaba Save the Children yang berusia 34 tahun, seperti dikutip dalam sebuah pernyataan.

Badan amal tersebut mengatakan, dia terpaksa meninggalkan dua rumah bersama istri dan bayinya yang berusia enam bulan dan berjuang untuk mendapatkan kebutuhan pokok.

“Untuk pertama kalinya, kami menghadapi krisis di mana tidak ada yang berfungsi, di mana pemerintahan tidak berfungsi,” katanya, seraya menambahkan bahwa pasokan makanan dan listrik telah habis.

Negara-negara tetangga telah meningkatkan langkah-langkah pengamanan di perbatasan. Republik Dominika, yang berbatasan darat dengan Haiti, telah mengesampingkan kamp pengungsi di wilayahnya dan mendeportasi puluhan ribu orang.

Dalam sambutan yang dikeluarkan pemerintah Dominika, Kamis (4/4/2024), Menteri Luar Negeri Dominika Roberto Alvarez mengatakan kepada BBC bahwa sekitar 10.000 personel militer telah dikerahkan ke perbatasan sepanjang hampir 400 kilometer.

Geng kriminal tidak hanya menguasai pelabuhan utama di Port-au-Prince, tetapi juga banyak akses jalan kota sehingga menyulitkan pengangkutan pasokan medis.

Baca juga: Kekerasan Geng di Haiti Tewaskan 1.500 Orang dalam 3 Bulan

Akses terhadap layanan kesehatan, yang sudah sangat dibatasi, menjadi semakin sulit setelah orang-orang bersenjata menjarah sebuah rumah sakit di lingkungan Delmas 18 dan pusat kesehatan Saint-Martin minggu lalu.

Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB, atau OCHA (United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs) mengatakan organisasi bantuan di Haiti terus memberikan bantuan darurat kepada orang-orang yang terkena dampak kekerasan baru-baru ini, meskipun ada tantangan keamanan dan pendanaan.

Program Pangan Dunia (World Food Program/WFP) dan mitranya pada Kamis mengirimkan 21.500 makanan hangat kepada para pengungsi di ibu kota Port-au-Prince dan 216.000 makanan sekolah di Cap Haitien, Gonaives, Jérémie dan Miragoâne.

Halaman:

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com