Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Presiden AS: Bantuan ke Gaza Bisa lewat Udara atau Jalur Laut

Kompas.com - 02/03/2024, 17:03 WIB
Albertus Adit

Penulis

Sumber Sky News

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengatakan bahwa Gaza sama dengan Ukraina, yakni sama-sama membutuhkan bantuan.

Hal itu diungkapkan Biden pada Jumat (1/3/2024) ketika ia mengumumkan AS bakal memberikan bantuan yang sangat dibutuhkan ke wilayah Palestina yang sedang dilanda perang.

"Dalam beberapa hari mendatang, kami akan bergabung dengan teman-teman kami di Yordania dan pihak lain yang memberikan bantuan makanan dan pasokan tambahan melalui udara," kata Biden, dikutip dari Sky News pada Sabtu (2/3/3024).

Baca juga: Dubes Palestina untuk PBB Minta Dewan Keamanan Kutuk Penembakan 112 Warga Gaza

Biden juga mengatakan bahwa pihaknya akan berusaha membuka jalan lain, termasuk kemungkinan dari jalur laut.

Biden mengungkapkan perkembangan tersebut saat menjamu Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni di Washington dan ia memperingatkan nyawa anak-anak berada dalam bahaya di Jalur Gaza.

"Bantuan yang mengalir ke Gaza tidak cukup. Sekarang, jumlah itu tidak cukup. Nyawa orang-orang tak bersalah dipertaruhkan dan nyawa anak-anak juga dipertaruhkan," terangnya.

"Kami tidak akan berdiam diri sampai kami mendapatkan lebih banyak bantuan di sana. Kami harus mengirim ratusan truk, bukan hanya beberapa," imbuh Biden.

Berharap gencatan senjata saat Ramadhan

Biden juga berharap ada kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas saat Ramadhan, bulan suci umat Islam yang diperkirakan akan dimulai pada 10 Maret.

"Kami masih bekerja keras untuk mewujudkannya. Namun mereka masih saling berjauhan," harap Presiden AS.

Janji Biden untuk memberikan bantuan lewat udara datang sehari setelah puluhan warga Palestina tewas dalam insiden truk bantuan yang mematikan di Kota Gaza.

Baca juga: Pria Bertopeng di Gaza Berpatroli Jaga Stabilitas Harga Pasar

Setidaknya 115 warga Palestina tewas dan lebih dari 750 lainnya terluka, menurut Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas, pada Kamis.

Para saksi mata mengatakan pasukan Israel di dekatnya melepaskan tembakan ketika banyak orang saling menarik barang-barang dari konvoi truk pembawa bantuan.

Israel mengatakan banyak korban tewas terinjak-injak karena kekacauan tersebut dan pasukannya menembaki beberapa orang di antara kerumunan yang mereka yakini bergerak ke arah mereka dengan cara yang mengancam.

Pada Jumat (1/3/2024) malam, Inggris ikut menuntut penyelidikan atas pembunuhan tersebut, yang digambarkan oleh Menteri Luar Negeri David Cameron sebagai hal yang mengerikan.

Lord Cameron mengatakan harus ada penyelidikan dan pertanggungjawaban yang mendesak di tengah meningkatnya seruan internasional untuk penyelidikan atas kejadian tersebut.

"Ini tidak boleh terjadi lagi," katanya.

Meskipun dia tidak secara langsung menyalahkan Israel, dia menghubungkan kematian tersebut dengan kurangnya bantuan yang diizinkan masuk ke Gaza.

"Kita tidak bisa memisahkan apa yang terjadi kemarin dengan tidak memadainya pasokan bantuan," ungkap Lord Cameron.

Baca juga: Banyak Kelaparan, Kematian akibat Perang di Gaza Hampir 30.000 Orang

"Pada bulan Februari, hanya separuh jumlah truk yang menyeberang ke Gaza dibandingkan pada bulan Januari. Ini tidak bisa diterima. Israel mempunyai kewajiban untuk memastikan lebih banyak bantuan kemanusiaan menjangkau masyarakat Gaza," jelasnya.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Sumber Sky News

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com