Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mesir Ancam Cabut Perjanjian Damai Camp David jika Israel Lanjutkan Invasi ke Rafah

Kompas.com - 13/02/2024, 14:51 WIB
Aditya Jaya Iswara

Penulis

RAFAH, KOMPAS.com - Mesir mengancam akan mencabut perjanjian damai Camp David dengan Israel jika pasukan Tel Aviv melanjutkan invasi ke Rafah.

Associated Press pada Minggu (11/2/2024) melaporkan ancaman Mesir itu berdasarkan perkataan dua pejabat Cairo dan satu diplomat dari Barat.

Dikutip dari Politico, perjanjian Camp David adalah salah satu landasan perdamaian antara Israel dan Mesir yang merupakan negara tetangganya setelah perang Arab-Israel pada 1973.

Baca juga: Imbas Serangan di Rafah Palestina, Israel Makin Dapat Tekanan Internasional

Mencabut perjanjian itu akan membuat kawasan yang sudah bergejolak semakin tidak pasti kondisinya.

Isi perjanjian Camp David

Kompas.id pada Selasa (13/2/2024) menuliskan, perjanjian Camp David diteken setelah berulang kali Mesir—bersama sejumlah negara lain di Timur Tengah—berperang dengan Israel. Serangkaian perang itu antara lain membuat Mesir kehilangan Semenanjung Sinai.

Nama Camp David mengacu ke tempat peristirahatan Presiden Amerika Serikat (AS) di Negara Bagian Maryland.

Saat menjadi Perdana Menteri Israel, Menachem Begin mencoba mencari terobosan. AS menengahi dan perjanjian Camp David disepakati kala Mesir dipimpin Anwar Sadat.

Berdasarkan perjanjian damai itu Israel setuju mundur dari Sinai, sedangkan Mesir sepakat untuk demiliterisasi Sinai.

Mesir juga mengizinkan kapal-kapal Israel melintasi Terusan Suez dan mengakui kedaulatan Israel. Mesir kemudian menjadi negara Arab pertama yang berdamai dan mengakui Israel.

”Perjanjian Camp David dipimpin oleh tiga orang pemberani yang mengambil sikap berani karena mereka mengetahui dampak jangka panjang bagi perdamaian dan keamanan, baik saat ini maupun di masa depan. Saat ini, kita memerlukan kepemimpinan yang sama seperti itu, ini yang saat ini masih kurang,” kata Kepala Eksekutif Carter Center, Paige Alexander, Senin (12/2/2024).

Demiliterisasi berarti pasukan di perbatasan Israel-Mesir dibatasi. Perdamaian dan keamanan perbatasan Israel-Mesir lebih stabil selama puluhan tahun. Dengan demikian, Israel bisa mengalokasikan kekuatan militernya ke wilayah lain.

Baca juga: 17 September dalam Sejarah: Kesepakatan Camp David Diteken pada 1978

Jika Mesir cabut perjanjian Camp David...

Associated Press pada Senin (12/2/2024) mewartakan, perbatasan Israel di selatan tidak akan tenang lagi jika Mesir mencabut perjanjian Camp David.

Israel akan memperkuat pasukannya di sepanjang perbatasan dengan Mesir, dan konsekuensi serius juga bakal menanti Cairo.

Mesir adalah salah satu penerima bantuan terbanyak dari AS di Timur Tengah, yang mengalir sejak perjanjian Camp David diteken pada 17 September 1978.

Jika perjanjian dibatalkan, pendanaan AS ke Mesir akan terancam dan peningkatan kekuatan militer besar-besaran negara itu bakal semakin membebani perekonomiannya yang sudah tertatih.

Menurut Alexander, apabila Mesir ikut terseret masuk ke konflik ini maka akan menjadi bencana besar bagi seluruh kawasan itu.

Situasi terkini di Rafah, serangan Israel pada Senin (12/2/2024) dini hari menewaskan sekitar 100 orang, naik dari angka sebelumnya yang menyebut 52 korban tewas.

Hamas mengecam tindakan Israel di Rafah yang menurut mereka memperluas pembantaian terhadap rakyat Palestina.

Baca juga: Mengenal Apa Itu Perbatasan Rafah, Jalur Penyelamat Warga Gaza

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com