Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Israel Tingkatkan Serangan ke Rafah meski Ada Peringatan dari AS dan PBB

Kompas.com - 11/02/2024, 09:51 WIB
Irawan Sapto Adhi

Penulis

Sumber Al Jazeera

JALUR GAZA, KOMPAS.com - Israel meningkatkan serangannya ke Rafah meskipun ada peringatan akan adanya konsekuensi bencana bagi para pengungsi Palestina.

Sekutu Israel, Amerika Serikat pun menyatakan tak akan mendukung serangan ke Jalur Gaza selatan tersebut karena akan menjadi "bencana".

Militer Israel melancarkan beberapa kali serangan udara dan penembakan tank di Rafah pada Kamis (8/2/2024) dan Jumat (9/2/2024).

Baca juga: Israel Akan Serang Rafah, Hamas Peringatkan Puluhan Ribu Orang Bisa Tewas

Kantor berita pemerintah Palestina, Wafa, melaporkan, sedikitnya tiga anak termasuk di antara delapan orang yang tewas pada Jumat pagi dalam serangan Israel terhadap rumah-rumah di Rafah.

Lima oran dari mereka yang tewas adalah anggota satu keluarga.

"Kami membelakangi pagar (perbatasan) dan menghadap ke Mediterania. Ke mana kami harus pergi?" tanya Emad (55) seorang ayah dari enam orang anak, yang mengungsi ke Rafah bersama keluarganya.

Empat orang juga tewas dan sejumlah lainnya terluka dalam pengeboman sebuah taman kanak-kanak yang menampung para pengungsi di az-Zawayda, dan satu orang tewas dalam pengeboman di Deir el-Balah, keduanya di Gaza tengah.

PM Israel Benjamin Netanyahu dan para pejabat tinggi lainnya telah mengatakan bahwa mereka berencana untuk memperluas serangan militer mereka di Gaza, termasuk ke wilayah Rafah.

Padahal di sana adalah tempat tujuan penduduk Gaza untuk terpaksa mengungsi akibat serangan Israel.

Baca juga: PM Israel Perintahkan Tentaranya Evakuasi Warga Sipil di Rafah, padahal Ada 1,3 Juta Orang

Peringatan AS

Amerika Serikat, pendukung utama militer dan keuangan Israel dan perangnya di Gaza, telah memperingatkan agar tidak melakukan serangan besar-besaran ke Rafah.

AS memperingatkan akan adanya "bencana" karena banyaknya warga sipil yang berlindung di kota tersebut.

Rafah sendiri telah dinyatakan sebagai "zona aman" oleh Israel dan di mana Israel memerintahkan mereka untuk mengungsi.

Juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS John Kirby mengatakan kepada wartawan pada Kamis bahwa Gedung Putih tidak akan mendukung operasi semacam itu.

Sementara, seorang juru bicara Departemen Luar Negeri AS mengatakan bahwa tampaknya tidak ada "perencanaan dan sedikit pemikiran" untuk langkah seperti itu oleh Tel Aviv, mencatat bahwa Rafah juga merupakan pintu masuk yang sangat penting untuk bantuan kemanusiaan.

Peringatan PBB

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres juga memperingatkan Israel untuk tidak menyerang Rafah.

Halaman:
Baca tentang
Sumber Al Jazeera

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com