Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 05/09/2023, 11:30 WIB
Tito Hilmawan Reditya

Penulis

Sumber Reuters

BLACK ROCK CITY, KOMPAS.com - Penyelenggara Festival Burning Man membuka kembali jalan yang mengarah keluar dari gurun Nevada yang terpencil pada Senin (4/9/2023).

Hal ini memungkinkan puluhan ribu pengunjung keluar setelah terjebak selama berhari-hari di lumpur.

Namun, banyak dari 64.000 pengunjung festival yang masih berada di lokasi.

Baca juga: Topan Super Saola Terjang Filipina, Banjir Paksa Seribuan Warga Mengungsi

Mereka mungkin memilih untuk tinggal satu malam lagi dan menyaksikan patung raksasa yang menjadi ciri khas festival itu terbakar pada Senin malam, satu hari lebih lambat dari jadwal.

Hujan musim panas yang tak terduga mengubah festival seni tahunan yang berlangsung selama seminggu menjadi mimpi buruk. Lumpur ada dimana-mana.

Dilansir dari Reuters, ketika jalan akhirnya dibuka kembali, antrean panjang kendaraan mengular di padang pasir, merayap dalam kemacetan lalu lintas yang luar biasa.

Penyelenggara acara mendesak para pengemudi melaju lambat dan mempertimbangkan menunda keberangkatan mereka hingga esok harinya demi mengurangi kemacetan.

Akhirnya, lalu lintas terbentuk menjadi semacam eksodus terorganisir selebar 10 jalur.

Jalur dipenuhi armada kendaraan rekreasi dan mobil dengan penumpang yang ingin segera mandi air panas dan tempat tidur yang bersih.

Jalan keluarnya adalah jalan tanah sepanjang 5 mil (8 km) menuju jalan raya terdekat. Akun Burning Man Traffic di platform media sosial X memperkirakan waktu tempuh hingga 5,5 jam.

Baca juga: Kepala Badan Manajemen Darurat Maui Hawaii Mundur Usai Terima Banjir Kecaman

Situs di Gurun Black Rock Nevada ini berada di atas bekas Danau Lahontan, yang digambarkan oleh US Geological Society sebagai danau dalam yang sudah ada sejak 15.000 tahun yang lalu.

Jaraknya sekitar 15 mil (25 km) dari kota terdekat dan 110 mil (177 km) di sebelah utara Reno.

Selama berhari-hari, hingga 70.000 orang diperintahkan untuk tetap tinggal dan menghemat makanan dan air karena para pejabat menutup jalan dan mengharuskan kendaraan untuk tidak melintas.

"Orang-orang saling menjaga satu sama lain. Kami punya makanan. Kami punya bekal. Kami punya tempat tinggal. Jadi ini benar-benar merupakan upaya bersama untuk melewati ini semua," ujar salah satu peserta, David Date.

Baca juga: 111 Kuda Dirawat karena Sengatan Matahari di Festival Jepang, 2 Ekor Mati

Satu orang tewas dalam acara tersebut, kata para pejabat pada hari Minggu (3/9/2023) tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Penyelidikan intensif sedang dilakukan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber Reuters

Rekomendasi untuk anda

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com