ZERMATT, KOMPAS.com - Perjalanan pendaki Indonesia menaklukkan Gunung Matterhorn, salah satu puncak di Pegunungan Alpen dengan ketinggian di atas 4.000 mdpl, tidak berjalan sesuai rencana.
Badai salju membuat empat pendaki yang tergabung dalam Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung (Wanadri) tersebut harus menghentikan langkah mereka ke puncak.
"Terakhir mereka sampai Solvayhut, ada badai salju, jadi mereka memutuskan putar arah," ujar istri dari Muhammad Wahyudi, salah satu dari pendaki saat dihubungi Kompas.com, Jumat (1/9/2023).
Baca juga: Setelah 52 Tahun Hilang, Jasad Pendaki Ditemukan di Gletser Pegunungan Alpen yang Mencair
Di tengah terjangan badai salju, bukanlah hal yang mudah juga untuk bisa kembali ke base camp Hoernlihuette.
Tim Ekspedisi Trilogi Alpen Wanadri ini baru mencapai base camp di sisi jalur normal Swiss pada Kamis (31/8/2023) pukul 23.00.
"Syukurlah, suami saya dan kawan kawan selamat," katanya.
Seharusnya, pendaki normal sudah bisa kembali ke base camp Hoernlihuette pukul 14.00. Itu artinya, Muhammad Wahyudi, Nurhuda, Iwan Irawan, dan Muhammad Miftahudin terlambat 10 jam.
Cuaca ekstrem, telah membuat pendakian tiga puncak Alpen di atas 4.000 mdpl Wanadri tak berjalan sesuai rencana.
Saat akan mendaki Mont Blanc, mereka terhadang wave heat yang membuat gletser meleleh dan menciptakan banyak rekahan baru.
Pihak pengelola Mont Blanc menutup pendakian.
"Kami akhirnya skip Mont Blanc dan menuju Matterhorn," kata Nurhuda, ketua Tim Ekspedisi Trilogi Alpen sebelumnya.
Baca juga: BERITA FOTO: Pendaki Indonesia Capai Base Camp Hoernlihuette di Gunung Matterhorn yang Indah
Namun, saat sampai di Zermatt, mereka dihadang cuaca dingin yang tiba tiba melanda Swiss.
Saat salju mereda, mereka pun mulai menuju base camp Hoernlihuette dari Zermatt. Namun, salju tetap turun dalam perjalanan menuju base camp.
Beberapa foto yang dikirim Muhammad Wahyudi kepada Kompas.com menunjukkan salju baru yang menutup jalur pendakian ini.
Per Rabu (30/8/2023) waktu subuh, mereka memutuskan tetap melakukan pendakian.
Dari penelusuran GPS, pendaki Indonesia ini hanya sanpai Solvayhut. Ini adalah huma yang dibangun sebagai tempat darurat jika ada pendaki yang mengalami gangguan alam.
Saat ini keempat pendaki belum bisa dihubungi secara langsung. Namun mereka sudah sampai Hoernihuette, base camp dari jalur normal Swiss.
Baca juga: Cuaca Ekstrem Bayangi Rencana Ekspedisi Trilogi Alpen oleh Pendaki Indonesia
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.