Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 30/04/2023, 16:29 WIB
Irawan Sapto Adhi

Penulis

Sumber AFP

NAIROBI, KOMPAS.com - Mantan Perdana Menteri Sudan Abdalla Hamdok mengungkap hal yang ditakutkan apabila pertempuran di negaranya tak segera dihentikan.

Dia memperingatkan pada Sabtu (29/4/2023), bahwa konflik di negara Afrika yang sedang bergolak itu dapat memburuk menjadi salah satu perang saudara terburuk di dunia apabila tak dihentikan lebih awal.

Sudaj ada lebih dari 500 orang yang tewas sejak pertempuran di Sudan meletus pada 15 April.

Baca juga: Cerita WNI di Sudan Saat Perang: Tidur Enggak Tenang, Takutnya Bom Jatuh ke Kita

Pertempuran itu melibatkan pasukan yang dipimpin oleh panglima militer Sudan Abdel Fattah al-Burhan dengan mantan tangan kanannya, Mohamed Hamdan Daglo yang memimpin pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF).

Kedua belah pihak sebenarnya telah menyetujui banyak gencatan senjata, tetapi tidak ada yang efektif dijalankan.

Pada kenyataannya, jumlah warga sipil yang tewas di Sudan terus meningkat dan kekacauan serta pelanggaran hukum masih mencengkeram Khartoum, ibu kota Sudan.

Banyak orang di kota berpenduduk lima juta jiwa ini terjebak di rumah mereka tanpa makanan, air, dan listrik.

"Tuhan melarang jika Sudan mencapai titik perang saudara yang seutuhnya... Suriah, Yaman, Libya tidak ada apa-apanya," kata Hamdok ketika berbicara dengan taipan bisnis telekomunikasi kelahiran Sudan, Mo Ibrahim, di sebuah acara di Nairobi, dikutip dari AFP.

"Saya pikir itu akan menjadi mimpi buruk bagi dunia," tambahnya.

Baca juga: RSF Dituding Tembak Pesawat Turkiye yang Lakukan Evakuasi di Sudan

Hamdok menyebut, apabila hal itu terjadi, akan menimbulkan banyak konsekuensi atau dampak buruk.

Dia menganggap, konflik yang terjadi di Sudan saat ini adalah perang bodoh antara dua pasukan.

"Tidak ada seorang pun yang akan keluar dari kemenangan ini. Itulah mengapa harus dihentikan," tegasnya.

Menurut PBB, sekitar 75.000 orang telah mengungsi akibat pertempuran di Khartoum serta di negara bagian Nil Biru dan Kordofan Utara, serta wilayah barat Darfur.

Pertempuran itu juga memicu eksodus massal orang asing dan staf internasional.

Hamdok menjabat sebagai perdana menteri Sudan saat transisi ke kekuasaan sipil sebelum dia dilengserkan dan ditahan melalui kudeta. Meski kemudian Hamdok menjabat kembali, dia mundur pada Januari lalu.

Burhan dan Daglo -umumnya dikenal sebagai Hemeti- merebut kekuasaan dalam kudeta 2021 yang menggagalkan transisi Sudan menuju demokrasi, yang didirikan setelah presiden garis keras Omar al-Bashir digulingkan menyusul protes massal pada tahun 2019.

Tetapi kedua jenderal itu berselisih, yang terakhir karena rencana integrasi RSF ke dalam tentara reguler.

Tekanan diplomatik telah meningkat untuk gencatan senjata di Sudan.

Baca juga: Pertempuran Sudan: 74 Orang Tewas di Kota El Geneina Dalam 2 Hari

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber AFP

Rekomendasi untuk anda
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com