Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Malaysia Agendakan Deportasi Warga yang Tinggal di Perkampungan Ilegal: Mereka Tak Berniat Kembali ke Indonesia

Kompas.com - 14/02/2023, 11:28 WIB
Irawan Sapto Adhi

Penulis

Sumber Bernama

NEGERI SEMBILAN, KOMPAS.com - Departemen Imigrasi Malaysia (Jabatan Imigresen Malaysia/JIM) mengatakan, warga negara Indonesia (WNI) yang ditahan dalam operasi penegakan hukum di perkampungan ilegal di Nilai Spring diyakini tak berniat kembali ke negara asalnya.

Mereka melainkan ingin tetap tinggal di Malaysia tanpa dokumen yang sah.

Direktur Jenderal JIM, Datuk Seri Khairul Dzaimee Daud mengatakan, berdasarkan pemeriksaan, perkampungan yang dibangun di atas tanah tidak rata dan di daerah rawa itu diketahui sudah ada sejak lama.

Baca juga: Malaysia: Pemilik Tanah yang Jadi Perkampungan Ilegal Warga Indonesia Perlu Bertanggung Jawab

Menurut dia, lokasinya sekitar 1,2 km dari jalan utama.

"Ditemukan juga pecahan perangkap logam yang berserakan dan anjing berkeliaran di area tersebut," kata Daud, sebagaimana diberitakan Bernama pada Rabu (7/2/2023).

Dia menyebut, oerkampungan ilegal warga Indonesia di Malaysia itu telah dilengkapi dengan genset dan memiliki sekolah sederhana yang menggunakan silabus pembelajaran dari negara Indonesia.

Daud disebutkan memberikan keterangan itu sebagai tanggapan atas adanya artikel berita berjudul “Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Indonesia mengutuk penggerebekan di Nilai Spring” pada Jumat (3/2/2023).

Petugas JIM sendiri melakukan penggrebekan perkampungan tersebut pada Rabu (1/2/2023) dini hari.

Khairul Dzaimee mengatakan, dalam operasi tersebut, 68 orang Indonesia diperiksa dan 67 dari mereka mesti ditahan karena berbagai pelanggaran.

Baca juga: FOTO Penggrebekan Perkampungan Ilegal Warga Indonesia di Malaysia Saat Dini Hari, Beberapa Coba Kabur, Petugas Temukan Tombak

Ini termasuk tidak memiliki dokumen identitas sah dan overstay yang melanggar Undang-Undang Imigrasi Malaysya tahun 1959/63, Undang-Undang Paspor tahun 1966, dan Peraturan Keimigrasian 1963.

Warga Indonesia yang ditahan di perkampungan ilegal di Malaysia itu berusia antara dua bulan hingga 72 tahun.

Menurut Khairul Dzaimee, operasi penegakan hukum di perkampungan ilegal di Nilai Spring pada 1 Februari tidak terkait dengan implementasi Program Rekalibrasi Tenaga Kerja 2.0 (RTK 2.0) yang dimulai pada 27 Januari.

Dia mengatakan RTK 2.0 ditujukan untuk mengatur imigran ilegal di negara itu sebagai pekerja asing.

“Imigran gelap harus mengambil kesempatan untuk mengajukan RTK 2.0 untuk tetap berada di Malaysia secara legal,” kata dia.

Baca juga: 5 Permintaan Indonesia Usai Malaysia Temukan Perkampungan Ilegal WNI di Hutan

Proses deportasi

Khairul Dzaimee juga menyampaikan bahwa JIM selalu berupaya untuk memastikan kesejahteraan para tahanan, termasuk anak-anak dan perempuan di depot imigrasi agar tetap terjaga.

Dia menegaskan, kehadiran orang asing di Malaysia bagaimanapun mesti tunduk pada kebijakan, peraturan, dan hukum negara, termasuk kebutuhan untuk memiliki dokumen perjalanan yang sah dan memenuhi persyaratan izin yang dikeluarkan.

"Setiap tindakan yang diambil oleh departemen dilakukan dengan tertib untuk memastikan kedaulatan negara tetap terjaga," kata Khairul Dzaimee.

Dia menambahkan bahwa JIM akan mengambil tindakan yang tepat untuk mempercepat proses deportasi tahanan ke negara asalnya, Indonesia.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.


Terkini Lainnya

Demi Palestina, Mahasiswa Internasional di AS Rela Pertaruhkan Status Imigrasi...

Demi Palestina, Mahasiswa Internasional di AS Rela Pertaruhkan Status Imigrasi...

Global
Rangkuman Hari Ke-815 Serangan Rusia ke Ukraina: Polandia Bangun Benteng di Perbatasan | 9.907 Warga Kharkiv DievakuasiĀ 

Rangkuman Hari Ke-815 Serangan Rusia ke Ukraina: Polandia Bangun Benteng di Perbatasan | 9.907 Warga Kharkiv DievakuasiĀ 

Global
Saat Kopi dari Berbagai Daerah Indonesia Tarik Minat Pengunjung Pameran Kopi Akbar di Australia...

Saat Kopi dari Berbagai Daerah Indonesia Tarik Minat Pengunjung Pameran Kopi Akbar di Australia...

Global
Hilang 26 Tahun, Omar Ternyata Diculik Tetangga Hanya 200 Meter dari Rumah

Hilang 26 Tahun, Omar Ternyata Diculik Tetangga Hanya 200 Meter dari Rumah

Global
Saat 800.000 Warga Terpaksa Tinggalkan Rafah Gaza, Pergi ke Daerah-daerah yang Tak Tersedia Air...

Saat 800.000 Warga Terpaksa Tinggalkan Rafah Gaza, Pergi ke Daerah-daerah yang Tak Tersedia Air...

Global
Kabinet Perang Israel Terpecah, Benny Gantz Ancam Mundur

Kabinet Perang Israel Terpecah, Benny Gantz Ancam Mundur

Global
[UNIK GLOBAL] Anggota Parlemen Taiwan Adu Jotos | Pilu Kera Tergemuk di Thailand

[UNIK GLOBAL] Anggota Parlemen Taiwan Adu Jotos | Pilu Kera Tergemuk di Thailand

Global
SD Ini Tak Terduga Terima 8 Pasang Siswa Kembar, Begini Reaksi Para Guru

SD Ini Tak Terduga Terima 8 Pasang Siswa Kembar, Begini Reaksi Para Guru

Global
Ukraina Siap Kerahkan Napi untuk Perang Lawan Rusia

Ukraina Siap Kerahkan Napi untuk Perang Lawan Rusia

Global
Saat Anggota Parlemen Taiwan Adu Jotos di Tengah Rapat...

Saat Anggota Parlemen Taiwan Adu Jotos di Tengah Rapat...

Global
Giliran Austria Akan Lanjutkan Pendanaan untuk UNRWA

Giliran Austria Akan Lanjutkan Pendanaan untuk UNRWA

Global
Kapal Tanker Minyak Dihantam Rudal di Lepas Pantai Yaman

Kapal Tanker Minyak Dihantam Rudal di Lepas Pantai Yaman

Global
Pasukan Israel Bunuh Militan Senior Palestina di Tepi Barat

Pasukan Israel Bunuh Militan Senior Palestina di Tepi Barat

Global
Bantuan Terus Mengalir dari Dermaga AS, Sementara Gaza Masih Berperang

Bantuan Terus Mengalir dari Dermaga AS, Sementara Gaza Masih Berperang

Global
Rangkuman Hari Ke-814 Serangan Rusia ke Ukraina: Rusia Serang Kharkiv | Drone Ukraina Tewaskan 2 Orang

Rangkuman Hari Ke-814 Serangan Rusia ke Ukraina: Rusia Serang Kharkiv | Drone Ukraina Tewaskan 2 Orang

Global
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com