Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Ignatius B Prasetyo

A Masterless Samurai

Pelajaran dari Tim Samurai Biru di Piala Dunia 2022

Kompas.com - 10/12/2022, 09:16 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

TANGGAL 7 Desember lalu, sekitar 650 orang berkumpul untuk menyambut kepulangan tim Samurai Biru di Bandara Narita, Jepang.

Tidak semua pemain ikut rombongan karena sebagian langsung kembali ke klub masing-masing, juga ada yang tiba melalui Bandara Haneda di Tokyo.

Saya mengikuti semua pertandingan tim yang dijuliki "Giant Killer", mulai babak penyisihan Grup E, sampai pertandingan 16 besar.

Walaupun hampir semua pertandingan berlangsung dini hari waktu Jepang, saya memaksakan diri menonton pertandingan 4 tahun sekali ini.

Masalah teknis tidak akan saya bahas pada tulisan kali ini. Alasannya, Anda bisa menemukan dengan mudah pembahasan mengenai topik tersebut.

Hal-hal lain, misalnya, bersih-bersih oleh suporter Jepang di stadion, maupun para pemain di ruang ganti, menurut saya, merupakan hal biasa. Setidaknya itu dapat saya lihat dan rasakan langsung melalui keseharian mereka di Jepang.

Sehingga tidak perlu analisis rumit karena kata kuncinya adalah, orang Jepang tidak mau membuat orang lain susah atau tidak nyaman.

Tentang Moriyasu Hajime yang membungkuk di tengah lapangan usai pertandingan melawan Kroasia juga tidak bisa ditebak apa artinya.

Sehingga saya tidak berhasrat menulis analisis, mengapa pelatih yang pernah membawa tim Hiroshima Sanfrecce menjadi juara 3 kali Liga Sepak Bola Jepang J-1 melakukan itu.

Orang boleh berargumen mengenai sudut membungkuk dengan urutan sekadar salam, lalu hormat kemudian paling besar (membungkuk paling dalam) adalah permintaan maaf.

Teori cuma sekadar teori, karena yang tahu persis makna membungkuk adalah pelaku, bukan orang lain yang memandang hanya dari sudut membungkuknya.

Pada tulisan kali ini, saya ingin membahas tentang spirit hankotsu-seishin yang belum banyak dibahas, namun layak kita simak berdasarkan kiprah tim berlambang yatagarasu (burung gagak imajiner berkaki tiga). Kita bisa melihatnya saat mereka bertanding melawan Jerman dan Spanyol di grup E.

Secara simpel, semangat hankotsu-seishin ini timbul sebagai reaksi dari perlakuan tidak adil, maupun spirit perlawanan atas opini negatif publik.

Kita tahu bahwa Jerman dan Spanyol merupakan raksasa sepak bola dunia. Jerman pernah menggondol Piala Dunia 4 kali, sedangkan Spanyol 1 kali.

Publik beranggapan Jepang sulit untuk lolos dari grup E ke babak 16 besar, karena ada dua raksasa tersebut. Akan tetapi, tim asuhan Moriyasu dapat lolos dari grup E dan menduduki posisi tertinggi, mengungguli tim Die Mannschaft dan La Roja.

Semangat hankotsu-seishin inilah yang menjadi motor penggerak pemain Jepang untuk membuktikan (mengejawantahkan) perlawanan atas opini publik.

Spirit ini lebih terpicu lagi, karena pada pertandingan melawan tim asuhan Hansi Flick dan Luis Enrique, mulanya tim Samurai Biru sama-sama ketinggalan skor 0-1.

Umumnya saat melawan tim kuat, apalagi sudah ketinggalan skor di awal pertandingan, maka susah membangkitkan semangat untuk mengejar ketinggalan. Jika sudah begini, memenangkan pertandingan bisa jadi merupakan hal yang mustahil.

Akan tetapi lain cerita bagi Nagatomo Yuto dan kawan-kawan. Semakin tertekan dan ketinggalan, maka semakin gigihlah mereka melakukan perlawanan.

Perlawanan ini sebenarnya tidak ada hubungan sama sekali dengan bushido, atau semangat samurai yang banyak ditulis orang. Hankotsu-seishin lah yang menjadikan mereka seperti itu.

Tentunya semangat itu tentu tidak berjalan sendiri. Kekuatan mental dan percaya diri merupakan penopang spirit hankotsu-seishin.

Kita juga tidak boleh lupa bahwa semangat untuk selalu maju (yang lazim dimiliki orang Jepang) adalah unsur pembantu lain.

Semangat untuk maju ini kita dapat simak dari komentar Honda Keisuke, mantan pemain dan bintang tim nasional Jepang yang pernah berlaga 3 kali pada perhelatan Piala Dunia.

Dia mengatakan bahwa Jepang memang sudah tersingkir, namun Piala Dunia belum berakhir.

Honda mengingatkan, Jepang harus menganalisis hasil pertandigannya di Qatar, kemudian menggunakan hasilnya sebagai dasar strategi untuk persiapan menuju Piala Dunia 2026 nanti.

Saya ingin menutup tulisan dengan kutipan syair lagu "se-ra-fuku to kikanjuu" yang dinyanyikan oleh Yakushimaru Hiroko.

Bunyinya kalau saya terjemahkan dalam bahasa Indonesia, "Sayonara bukanlah kalimat perpisahan. Akan tetapi kalimat janji jangka waktu panjang untuk bertemu kembali."

Jepang memang sudah mengucapkan sayonara pada Piala Dunia. Namun seperti syair lagu tersebut, tim Samurai Biru pasti berusaha menepati janji untuk bertemu dengan pergelaran sepak bola dunia itu lagi.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com