Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 09/12/2022, 17:15 WIB
Tito Hilmawan Reditya

Penulis

Sumber The Hill

KYIV, KOMPAS.com - Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian Ukraina Oleksandra Matviichuk menyerukan pengadilan internasional khusus untuk mengadili Presiden Rusia Vladimir Putin dan para pemimpin militernya atas dugaan kejahatan perang di Ukraina.

Dilansir dari The Hill, Matviichuk, yang telah mendokumentasikan sekitar 27.000 kejahatan perang di Ukraina, mengatakan kepada Yahoo News bahwa para pemimpin dunia tidak sabar untuk mendirikan organisasi semacam itu untuk meminta pertanggung jawaban Putin.

“Kami tidak butuh balas dendam. Kami membutuhkan keadilan,” katanya dalam sebuah wawancara yang diterbitkan Rabu (7/12/2022).

Baca juga: Rangkuman Hari Ke-288 Serangan Rusia ke Ukraina: Putin Bersumpah Gencarkan Serangan, Kremlin Tanggapi Penghargaan TIME untuk Zelensky

“Saya bertanya pada diri sendiri, untuk siapa kami mendokumentasikan semua kejahatan ini? Siapa yang akan memberikan keadilan bagi ratusan ribu korban?" tambahnya.

Matviichuk, kepala Pusat Kebebasan Sipil Ukraina, akan mendatangi Oslo, Norwegia, akhir pekan ini bersama dengan kelompok hak asasi manusia di Rusia dan seorang aktivis yang dipenjara di Belarusia, yang semuanya berbagi Hadiah Nobel Perdamaian tahun ini.

Istri pemenang Belarusia akan menerima penghargaan atas namanya.

Pusat Kebebasan Sipil, didirikan pada 2007 dan berbasis di Kyiv, telah bekerja secara ekstensif untuk mendokumentasikan kejahatan perang di wilayah yang diduduki Rusia di Ukraina, serta relokasi paksa warga Ukraina ke Rusia.

Baca juga: Putin Sebut Perang di Ukraina Bisa Berlangsung Lama, Sampai Kapan?

Matviichuk berbicara dengan Yahoo saat berada di Washington, DC untuk menerima penghargaan kehormatan dari mantan Menteri Luar Negeri Hillary Clinton di Universitas Georgetown bersama dengan wanita Ukraina lainnya, termasuk Olena Zelenska.

Matviichuk mengatakan Pengadilan Internasional tidak mampu meminta pertanggungjawaban Putin dan menyerukan pengadilan khusus yang serupa dengan pengadilan Nuremberg untuk mengadili para pemimpin Nazi setelah Perang Dunia II.

"Putin hanya akan berhenti ketika dia dihentikan," katanya. “Karena jika kita tidak dapat menghentikan Putin di Ukraina, dia akan melangkah lebih jauh.”

Matviichuk berpendapat bahwa pemimpin Rusia melihat dialog yang beradab sebagai tanda kelemahan.

Baca juga: [POPULER GLOBAL] Presiden Peru Dimakzulkan | Komentar Putin soal Perang Nuklir

“Ini pertanyaan tentang bagaimana menangkap secara fisik Vladimir Putin,” katanya. “Tapi lihat sejarah. Ada banyak contoh yang sukses dan sangat meyakinkan, ketika orang yang menganggap diri mereka tidak tersentuh tiba-tiba muncul di pengadilan.”

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber The Hill

Terkini Lainnya

Kisruh Mogok Kerja Ribuan Dokter di Korea Selatan

Kisruh Mogok Kerja Ribuan Dokter di Korea Selatan

Global
Pengadilan Rusia Akan Dengarkan Kesaksian Ibu Alexei Navalny

Pengadilan Rusia Akan Dengarkan Kesaksian Ibu Alexei Navalny

Global
Jelang 2 Tahun Perang Rusia-Ukraina, G7 Akan Bahas Sanksi Baru untuk Moskwa

Jelang 2 Tahun Perang Rusia-Ukraina, G7 Akan Bahas Sanksi Baru untuk Moskwa

Global
Pilpres AS 2024: Nenek 91 Tahun Menang Gugatan Lawan Trump di Colorado

Pilpres AS 2024: Nenek 91 Tahun Menang Gugatan Lawan Trump di Colorado

Global
Keakraban Putin dan Kim Jong Un, Diberi Mobil Mewah Tanpa Syarat

Keakraban Putin dan Kim Jong Un, Diberi Mobil Mewah Tanpa Syarat

Global
Misteri Pilot Rusia yang Membelot ke Ukraina, Benarkah Tewas di Spanyol?

Misteri Pilot Rusia yang Membelot ke Ukraina, Benarkah Tewas di Spanyol?

Global
Ibunda Navalny pada Putin: Biarkan Saya Melihat Jenazah Anak Saya

Ibunda Navalny pada Putin: Biarkan Saya Melihat Jenazah Anak Saya

Global
Rudal Korea Utara yang Ditemukan di Ukraina Berisi Komponen dari AS dan Eropa

Rudal Korea Utara yang Ditemukan di Ukraina Berisi Komponen dari AS dan Eropa

Global
Rangkuman Hari Ke-727 Serangan Rusia ke Ukraina: Mobil Limosin untuk Kim | Putin Bicara Senjata Nuklir di Luar Angkasa

Rangkuman Hari Ke-727 Serangan Rusia ke Ukraina: Mobil Limosin untuk Kim | Putin Bicara Senjata Nuklir di Luar Angkasa

Global
Sulitnya WNI Dapat Izin Kerja di Malaysia karena Calo...

Sulitnya WNI Dapat Izin Kerja di Malaysia karena Calo...

Global
Pria India Ini Meninggal Saat Jalani Operasi Perbaikan Senyum Jelang Pernikahan

Pria India Ini Meninggal Saat Jalani Operasi Perbaikan Senyum Jelang Pernikahan

Global
Warga Malaysia Ramai-ramai Kerja ke Singapura dan Brunei, Bisa Hasilkan Rp 208 Juta Per Bulan

Warga Malaysia Ramai-ramai Kerja ke Singapura dan Brunei, Bisa Hasilkan Rp 208 Juta Per Bulan

Global
Kronologi Brasil-Israel Bersitegang soal Gaza

Kronologi Brasil-Israel Bersitegang soal Gaza

Global
Kata Hamas soal AS Veto Resolusi DK PBB yang Serukan Gencatan Senjata Segera

Kata Hamas soal AS Veto Resolusi DK PBB yang Serukan Gencatan Senjata Segera

Global
AS Veto Resolusi DK PBB yang Serukan Gencatan Senjata Segera di Gaza, Tuai Kecaman Sekutu

AS Veto Resolusi DK PBB yang Serukan Gencatan Senjata Segera di Gaza, Tuai Kecaman Sekutu

Global
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com