Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 01/12/2022, 23:01 WIB

BEIJING, KOMPAS.com - Aksi protes kebijakan nol Covid di China menyebar cepat ke seluruh negeri dan menjadi tantangan besar bagi pemerintah pusat di Beijing. Aparat keamanan bergegas dikerahkan meredam aksi tersebut.

Sementara sebagian besar dunia belajar untuk hidup dengan virus corona, China tetap menerapkan kebijakan penguncian dan karantina yang ketat, membatasi kebebasan bergerak warga, dan memaksa bisnis ditutup, di mana kasus baru muncul.

Namun, rasa frustrasi warga tampaknya sudah begitu besar, sehingga mereka turun ke jalan dan dengan lantang memprotes kebijakan itu, mengakibatkan protes massal terbesar yang pernah dilihat China dalam beberapa dekade terakhir. Beberapa pengunjuk rasa bahkan dengan lantang menuntut Presiden Xi Jinping untuk mundur.

Baca juga: Alasan Mengapa Warga China Menggunakan Kertas Putih Saat Berunjuk Rasa

Dampak ekonomi dari kebijakan nol Covid cukup parah

Para pengunjuk rasa di Beijing mengatakan kepada DW, selama pandemi banyak orang sudah kehilangan pekerjaan dan bisnisnya.

"Banyak orang punya utang besar, untuk biaya sekolah untuk anak-anak mereka dan biaya pengobatan untuk anggota keluarga lanjut usia. Kami tidak dapat banyak bantuan dari pemerintah, dan kami harus menanggung sebagian besar dampaknya,” kata seorang pengunjuk rasa yang hanya ingin diidentifikasi sebagai Yang.

Pengunjuk rasa lain, yang disapa Wang, mengatakan langkah-langkah pandemi yang ketat telah mempersulit orang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Baca juga: Momen Hening Pejabat Senior China, Terdiam Setelah Ditanya Tentang Protes Covid

"Situasi saat ini di China adalah, orang miskin akan menjadi lebih miskin sementara orang kaya dan pemerintah tidak akan pernah peduli dengan kesejahteraan kami. Kami butuh pekerjaan untuk menghidupi keluarga dan membayar utang," ujarnya.

Hingga kini tidak ada banyak indikasi bahwa penguasa di Beijing akan mundur dari kebijakan nol Covid dalam waktu dekat. Pemerintah China berulang kali gembar-gembor bahwa kebijakannya adalah model pencegahan pandemi yang sukses, yang telah menyelamatkan jutaan nyawa.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Namun, kebijakan itu tidak dilihat publik sebagai suatu keberhasilan.

"Pertama dan terpenting, penyebab protes ini adalah frustrasi, karena orang telah menunggu bertahun-tahun sampai pihak berwenang melonggarkan pembatasan, dan mereka melihat dan merasakan dampak dari pembatasan ini di sekitar mereka," kata Sophie Richardson, Direktur Lembaga Hak Asasi Manusia Human Rights Watch (HRW) di China.

Baca juga: Pesawat China dan Rusia Masuk Zona Pertahanan, Korea Selatan Terbangkan Jet Tempur

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Penembakan di Sinagoge Yerusalem, 7 Orang Tewas, 3 Lainnya Terluka

Penembakan di Sinagoge Yerusalem, 7 Orang Tewas, 3 Lainnya Terluka

Global
[POPULER GLOBAL] Peluang Indonesia Alami Resesi Seks | 3 Kali Jadi Korban Salah Tangkap

[POPULER GLOBAL] Peluang Indonesia Alami Resesi Seks | 3 Kali Jadi Korban Salah Tangkap

Global
Pabrik Senjata Wee 1 Tactical di AS Dituduh Jual Senjata ke Anak-anak

Pabrik Senjata Wee 1 Tactical di AS Dituduh Jual Senjata ke Anak-anak

Global
Tentara Ukraina Bertempur Sengit Lawan Pasukan Rusia, Bantah Kehilangan Vugledar

Tentara Ukraina Bertempur Sengit Lawan Pasukan Rusia, Bantah Kehilangan Vugledar

Global
Teddy Hobbs Anak Super Pintar, Bisa Baca Sejak Usia 2 Tahun

Teddy Hobbs Anak Super Pintar, Bisa Baca Sejak Usia 2 Tahun

Global
Mengintip “Lubang Surga” di China, Penuh Misteri dan Jadi Sinkhole Terdalam

Mengintip “Lubang Surga” di China, Penuh Misteri dan Jadi Sinkhole Terdalam

Internasional
Kremlin: Biden Pegang Kunci Akhiri Perang Ukraina, tapi Tidak Dipakai

Kremlin: Biden Pegang Kunci Akhiri Perang Ukraina, tapi Tidak Dipakai

Global
Polisi Dibunuh Gangster, Demonstran Serbu Rumah Dinas PM Haiti dan Bandara

Polisi Dibunuh Gangster, Demonstran Serbu Rumah Dinas PM Haiti dan Bandara

Global
Gunung Berapi di Indonesia Berisiko Picu Kekacauan Dunia Lewat Selat Malaka, Mengapa Bisa?

Gunung Berapi di Indonesia Berisiko Picu Kekacauan Dunia Lewat Selat Malaka, Mengapa Bisa?

Global
Meksiko Temukan 57 Anak Tanpa Pendamping di Dalam Truk Migran

Meksiko Temukan 57 Anak Tanpa Pendamping di Dalam Truk Migran

Global
Perempuan Ini Melahirkan di Langit dalam Penerbangan Emirates Narita-Dubai

Perempuan Ini Melahirkan di Langit dalam Penerbangan Emirates Narita-Dubai

Global
Pria Ini Sial 3 Kali Jadi Korban Salah Tangkap Polisi karena Punya Nama Sama dengan Bandar Narkoba

Pria Ini Sial 3 Kali Jadi Korban Salah Tangkap Polisi karena Punya Nama Sama dengan Bandar Narkoba

Global
Niat Olok-olok Menlu Rusia, Kemenlu Jerman Malah Disemprot Pejabat Afrika

Niat Olok-olok Menlu Rusia, Kemenlu Jerman Malah Disemprot Pejabat Afrika

Global
Kedutaan Besar Azerbaijan di Teheran Diserang, 1 Penjaga Tewas

Kedutaan Besar Azerbaijan di Teheran Diserang, 1 Penjaga Tewas

Global
Arkeolog Mesir Klaim Temukan Makam Firaun Berisi Mumi Tertua dan Terlengkap

Arkeolog Mesir Klaim Temukan Makam Firaun Berisi Mumi Tertua dan Terlengkap

Global
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+