Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sri Lanka Minta Pinjaman Lunak seperti Negara Miskin meski Termasuk Berpendapatan Menengah

Kompas.com - 13/10/2022, 18:45 WIB
Bernadette Aderi Puspaningrum

Penulis

Sumber Al Jazeera

 

COLOMBO, KOMPAS.com - Di tengah Krisis Sri Lanka, pemerintah Colombo tetap mempertahankan status negara berpendapatan menengah, tetapi meminta Bank Dunia memberikan beberapa pinjaman yang umumnya ditawarkan kepada negara-negara miskin.

Negara kepulauan di Asia Selatan berpenduduk 22 juta orang itu menghadapi krisis ekonomi terburuk dalam lebih dari 70 tahun.

Sebelumnya pada Selasa (11/10/2022), seorang juru bicara kabinet mengatakan pemerintah akan berusaha mengubah status ekonominya menjadi "negara berpenghasilan rendah," untuk pendanaan yang lebih mudah demi menangani krisis ekonomi Sri Lanka.

Baca juga: Nasib Naas Nelayan Sri Lanka: Tak Ada Minyak Tanah, Tak Bisa Melaut, Tak Dapat Ikan

Kantor Presiden Ranil Wickremesinghe, bagaimanapun, mengatakan perubahan status tidak akan terjadi.

Sri Lanka akan tetap menjadi negara berpenghasilan menengah,” kata kantor itu dalam sebuah pernyataan sebagaimana dilansir Al Jazeera.

“Kami akan meminta Bank Dunia untuk memberikan negara ini kelayakan untuk mendapatkan pinjaman yang ditawarkan oleh Asosiasi Pembangunan Internasional (IDA).”

IDA adalah cabang Bank Dunia yang membantu negara-negara termiskin di dunia dengan tujuan mengurangi kemiskinan dengan memberikan pinjaman dan hibah, dengan bunga rendah atau.

Kantor Bank Dunia setempat di Colombo tidak segera memberikan komentar atas permintaan Sri Lanka tersebut.

Organisasi internasional itu sebelumnya mengatakan akan melanjutkan diskusi dengan Sri Lanka, dan bahwa “prioritas utama” adalah untuk melanjutkan restrukturisasi utang dan reformasi ekonomi untuk mengembalikan pertumbuhan negara ke jalurnya.

Baca juga: Bangladesh Akan Susul Sri Lanka Alami Krisis Ekonomi Parah?

Pemerintah menilai ekonomi Sri Lanka sebesar 89 miliar dollar AS (Rp 1,37 kuadrilin) tahun lalu.

Bahkan dengan kontraksi 8,7 persen dalam produk domestik bruto (PDB) yang diprediksi untuk tahun ini dan memperhitungkan depresiasi mata uang, ekonomi Sri Lanka akan menjadi sekitar 75 miliar dollar AS (Rp 1,15 kuadriliun), dengan pendapatan per kapita sekitar 3.400 dollar AS (Rp 52 juta).

Bank Dunia mendefinisikan negara-negara berpenghasilan rendah sebagai negara-negara dengan pendapatan per kapita 1.085 dollar AS (Rp 16,7 juta) atau kurang pada 2021.

Sri Lanka mencapai kesepakatan awal dengan Dana Moneter Internasional (IMF) untuk bailout 2,9 miliar dollar AS (Rp 445 triliun) pada September, tetapi harus menempatkan utangnya pada jalur yang berkelanjutan sebelum dana dapat dicairkan.

Pandemi Covid-19 menghancurkan ekonomi yang bergantung pada pariwisata dan memangkas pengiriman uang dari pekerja di luar negeri.

Itu juga menaikkan harga minyak, memicu pemotongan pajak populis dan larangan tujuh bulan impor pupuk kimia tahun lalu yang menghancurkan pertanian.

Pulau ini juga telah berjuang dengan kekurangan dolar akut untuk membayar impor makanan, bahan bakar dan obat-obatan, anjloknya rupee dan inflasi yang tak terkendali.

Baca juga: Gotabaya Rajapaksa Kembali ke Sri Lanka, Muncul Seruan Penangkapan

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com