Kompas.com - 25/09/2022, 07:55 WIB

MOSKWA, KOMPAS.com - Presiden Rusia Vladimir Putin pada Sabtu (24/9/2022) menandatangani amandemen yang memperketat hukuman bagi tentara Rusia jika melakukan tindakan secara sukarela menyerah, desersi (membelot), dan menolak untuk berperang hingga 10 tahun penjara.

Sebagaimana dilansir dari Kantor berita AFP, Putin nyatanya mengeluarkan kebijakan ini hanya berselang beberapa hari setelah dirinya memerintahkan mobilisasi parsial Rusia.

Pengumuman mobilisasi 300.000 tentara cadangan pada Rabu (21/9/2022) oleh Putin telah memicu protes di seluruh Rusia dan eksodus baru ke luar negeri.

Baca juga: Hasil Referendum di Ukraina Dapat Dijadikan Alasan Putin Gunakan Senjata Nuklir, Ini Sebabnya

Sehari sebelumnya, parlemen Rusia telah menyetujui amandemen yang memperketat hukuman untuk kejahatan militer pada saat mobilisasi.

Sekarang setelah aturan tersebut diteken, prajurit yang meninggalkan, menyerah "tanpa izin", menolak untuk melawan atau tidak mematuhi perintah dapat menghadapi hukuman 10 tahun penjara.

Sementara, tindakan penjarahan akan dihukum 15 tahun penjara.

Perubahan terjadi ketika Kremlin berusaha untuk meningkatkan barisan tentaranya dalam memerangi operasi militer di Ukraina.

Undang-undang terpisah yang memfasilitasi akses ke kewarganegaraan Rusia bagi orang asing yang mendaftar di tentara Rusia juga ditandatangani pada Sabtu.

Orang asing yang menghabiskan setidaknya satu tahun di unit tentara Rusia akan memenuhi syarat untuk meminta kewarganegaraan, melewati persyaratan normal untuk tinggal lima tahun di negara itu.

Baca juga: Soal Ancaman Senjata Nuklir dari Putin, Uni Eropa Harus Tanggapi Serius

Langkah ini tampaknya terutama ditujukan untuk para migran Asia Tengah dari bekas republik Soviet, yang biasanya dipekerjakan untuk pekerjaan berat dengan upah rendah.

Sebelumnya, pada Selasa (20/9/2022), walikota Moskwa Sergey Sobyanin mengumumkan pembukaan pusat perekrutan di pusat migrasi Sakharovo, titik lintas penting bagi para migran.

Bahkan sebelum undang-undang itu berlaku, Kirgistan dan Uzbekistan telah memperingatkan warganya untuk tidak ambil bagian dalam konflik bersenjata apa pun.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber AFP

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Lapangan Udara Ketiga Rusia Diserang, Ukraina Disebut Tunjukkan Kemampuan Serangan di Dalam Rusia

Lapangan Udara Ketiga Rusia Diserang, Ukraina Disebut Tunjukkan Kemampuan Serangan di Dalam Rusia

Global
Dunia Arab Gembira Maroko Lolos Perempat Final Piala Dunia, Pemimpin Qatar hingga Ulama Syiah Sampaikan Selamat

Dunia Arab Gembira Maroko Lolos Perempat Final Piala Dunia, Pemimpin Qatar hingga Ulama Syiah Sampaikan Selamat

Global
Perusahaan Trump Dinyatakan Bersalah atas Kejahatan Perpajakan, Didenda Rp 25 Miliar dan Terancam Sulit Ajukan Pinjaman

Perusahaan Trump Dinyatakan Bersalah atas Kejahatan Perpajakan, Didenda Rp 25 Miliar dan Terancam Sulit Ajukan Pinjaman

Global
Harga Minyak Rusia Dibatasi Barat, Moskwa Pertimbangkan 3 Respons

Harga Minyak Rusia Dibatasi Barat, Moskwa Pertimbangkan 3 Respons

Global
Xi Jinping Tiba di Arab Saudi, Akan Bertemu Raja Salman dan Pangeran MBS

Xi Jinping Tiba di Arab Saudi, Akan Bertemu Raja Salman dan Pangeran MBS

Global
Thailand Diguncang Bom, 3 Orang Tewas

Thailand Diguncang Bom, 3 Orang Tewas

Global
RKUHP Disahkan, Wisatawan Asing Khawatir, Bagaiman Nasib Pariwisata Indonesia?

RKUHP Disahkan, Wisatawan Asing Khawatir, Bagaiman Nasib Pariwisata Indonesia?

Global
San Francisco Berubah Pikiran soal Rencana Pengerahan Robot Pembunuh

San Francisco Berubah Pikiran soal Rencana Pengerahan Robot Pembunuh

Global
Setelah Hampir 3 Bulan Iran Dilanda Demo, Khamenei Serukan Perombakan Sistem Budaya

Setelah Hampir 3 Bulan Iran Dilanda Demo, Khamenei Serukan Perombakan Sistem Budaya

Global
AS dan Australia Undang Jepang untuk Tingkatkan Rotasi Pasukan

AS dan Australia Undang Jepang untuk Tingkatkan Rotasi Pasukan

Global
AS Tak Lihat Perubahan Perlakuan Iran terhadap Perempuan Setelah Kabar Polisi Moral Dibubarkan

AS Tak Lihat Perubahan Perlakuan Iran terhadap Perempuan Setelah Kabar Polisi Moral Dibubarkan

Global
Rangkuman Hari Ke-286 Serangan Rusia ke Ukraina: AS Klaim Tak Dorong Ukraina Serang Rusia, India Dikecam karena Beli Minyak Rusia

Rangkuman Hari Ke-286 Serangan Rusia ke Ukraina: AS Klaim Tak Dorong Ukraina Serang Rusia, India Dikecam karena Beli Minyak Rusia

Global
200 WNI Pemetik Buah di Inggris Akhirnya Dipulangkan, Sebagian Belum Tutup Utang dan Harus Gadaikan Rumah

200 WNI Pemetik Buah di Inggris Akhirnya Dipulangkan, Sebagian Belum Tutup Utang dan Harus Gadaikan Rumah

Global
[POPULER GLOBAL] Media Asing Soroti Pengesahan RKUHP | Derita WNI Pemetik Buah di Inggris

[POPULER GLOBAL] Media Asing Soroti Pengesahan RKUHP | Derita WNI Pemetik Buah di Inggris

Global
PM Anwar Ibrahim Tinjau Proyek Milliaran Dollar AS yang Disetujui Pendahulunya

PM Anwar Ibrahim Tinjau Proyek Milliaran Dollar AS yang Disetujui Pendahulunya

Global
komentar
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.