Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Penyebab Krisis Properti di China dan Kenapa Bisa Bahayakan Dunia

Kompas.com - 25/07/2022, 16:59 WIB
Aditya Jaya Iswara

Penulis

Sumber AFP

BEIJING, KOMPAS.com - Krisis properti di China terjadi ketika para pembeli rumah yang frustrasi berhenti melakukan pembayaran hipotek pada unit hunian yang belum selesai dibangun.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hipotek adalah kredit yang diberikan atas dasar jaminan berupa benda tidak bergerak.

Setelah boikot hipotek terjadi, para pengembang kewalahan mengelola utang yang menggunung. Krisis properti di China pun dikhawatirkan dapat berdampak ke ekonomi global.

Baca juga: Krisis Properti China Memburuk, Dua Bos Evergrande Mengundurkan Diri, 200 Proyek Mangkrak

Dikutip dari kantor berita AFP pada Minggu (24/7/2022), berikut adalah penyebab krisis properti China dan risikonya terhadap dunia.

1. Seberapa besar sektor properti China?

Sangat besar. Properti dan industri terkaitnya diperkirakan menyumbang seperempat dari Produk Domestik Bruto (PDB) China.

Sektor properti China berkembang pesat setelah reformasi pasar pada 1998. Permintaan melonjak di kelas menengah yang sedang tumbuh dan memandang properti sebagai aset keluarga utama serta simbol status.

Perkembangan ini diikuti dengan akses mudah ke pinjaman. Bank-bank China bersedia meminjamkan uang sebanyak mungkin untuk pengembang maupun pembeli.

Laporan ANZ Research pada Juli 2022 menemukan, hipotek atau mortgage mencapai hampir 20 persen dari semua pinjaman di sistem perbankan China.

Banyak pengembang properti China menawarkan pre-sale, yaitu pembeli membayar hipotek pada unit dalam proyek yang belum dibangun.

Bloomberg News melaporkan, total luas rumah yang belum selesai dibangun di China adalah 225 juta meter persegi.

Baca juga: Pakai Jasa Pengelola Keuangan, Pengembang Properti China Malah Kehilangan Rp 4,5 Triliun

2. Penyebab krisis properti di China

Seorang warga berjalan di depan properti milik Evergrande di Guangzhou, China. Foto diambil 17 September 2021.
AFP/NOEL CELIS Seorang warga berjalan di depan properti milik Evergrande di Guangzhou, China. Foto diambil 17 September 2021.
Seiring berkembangnya bisnis pengembang properti, harga perumahan juga melonjak. Pemerintah pun khawatir dengan risiko yang ditimbulkan karena pengembang sarat utang.

China kemudian menerapkan tindakan keras tahun lalu. Bank sentral membatasi jumlah pinjaman untuk properti, tetapi akibatnya pengembang semakin kesulitan membayar utang.

Gelombang default atau wanprestasi pun terjadi di kalangan pengembang terbesar China. Salah satunya adalah Evergrande yang dililit utang 300 miliar dollar AS (Rp 4,5 kuadriliun)

Selain pembatasan regulasi, krisis properti di China juga disebabkan dampak pandemi Covid. Ketidakpastian ekonomi membuat banyak calon pembeli rumah berpikir ulang untuk membeli hunian.

Baca juga: Krisis Evergrande: Awal Mula Petaka, Utang Rp 4 Kuadriliun, dan Ruginya Ribuan Orang

3. Reaksi pembeli atas krisis properti di China

Foto ini diambil pada 15 September 2021, yang menunjukkan orang-orang berkumpul di gedung markas Evergrande di Shenzhen, China tenggara, ketika raksasa properti China itu mengatakan sedang menghadapi kesulitan yang belum pernah terjadi sebelumnya.AFP/NOEL CELIS Foto ini diambil pada 15 September 2021, yang menunjukkan orang-orang berkumpul di gedung markas Evergrande di Shenzhen, China tenggara, ketika raksasa properti China itu mengatakan sedang menghadapi kesulitan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Jatuhnya Evergrande memicu protes dari para pembeli rumah dan kontraktor di kantor pusat perusahaan tersebut di Shenzhen pada September 2021.

Halaman:
Sumber AFP
Video rekomendasi
Video lainnya

Terkini Lainnya

Jepang Akhirnya Izinkan Orangtua Bercerai Berbagi Hak Asuh Anak

Jepang Akhirnya Izinkan Orangtua Bercerai Berbagi Hak Asuh Anak

Global
Lubang Hitam Terbesar di Galaksi Bima Sakti Tak Sengaja Ditemukan

Lubang Hitam Terbesar di Galaksi Bima Sakti Tak Sengaja Ditemukan

Global
Implikasi Geopolitik: Konflik Iran-Israel Bisa Picu Perang Dunia III

Implikasi Geopolitik: Konflik Iran-Israel Bisa Picu Perang Dunia III

Global
Serangan Rusia di Chernigiv Ukraina Utara Tewaskan 5 Orang

Serangan Rusia di Chernigiv Ukraina Utara Tewaskan 5 Orang

Global
Junta Myanmar Pindahkan Aung San Suu Kyi dari Penjara ke Tahanan Rumah

Junta Myanmar Pindahkan Aung San Suu Kyi dari Penjara ke Tahanan Rumah

Global
Dewan Keamanan Akan 'Voting' untuk Keanggotaan Penuh Palestina di PBB

Dewan Keamanan Akan "Voting" untuk Keanggotaan Penuh Palestina di PBB

Global
Persenjataan Hamas Semakin Banyak yang Justru Bersumber dari Israel

Persenjataan Hamas Semakin Banyak yang Justru Bersumber dari Israel

Internasional
Saat Ular Ditemukan di Kereta Cepat Shinkansen Jepang...

Saat Ular Ditemukan di Kereta Cepat Shinkansen Jepang...

Global
Israel Serang Hezbollah di Lebanon, Tewaskan Komandan Lokal

Israel Serang Hezbollah di Lebanon, Tewaskan Komandan Lokal

Global
Dari Mana Hamas Memperoleh Senjata?

Dari Mana Hamas Memperoleh Senjata?

Internasional
Rangkuman Hari Ke-783 Serangan Rusia ke Ukraina: Ukraina Akui Kehabisan Rudal | Zelensky Teken UU Mobilisasi Kontroversial

Rangkuman Hari Ke-783 Serangan Rusia ke Ukraina: Ukraina Akui Kehabisan Rudal | Zelensky Teken UU Mobilisasi Kontroversial

Global
Tensi Tinggi Geopolitik Timur Tengah dan Pengaruhnya terhadap Tatanan Global

Tensi Tinggi Geopolitik Timur Tengah dan Pengaruhnya terhadap Tatanan Global

Global
Dubai Dilanda Banjir Besar, Air Genangi Rumah, Jalanan, Mal-mal, dan Bandara

Dubai Dilanda Banjir Besar, Air Genangi Rumah, Jalanan, Mal-mal, dan Bandara

Global
Warganet Soroti Desain Stasiun di Nanjing China Mirip Pembalut Perempuan

Warganet Soroti Desain Stasiun di Nanjing China Mirip Pembalut Perempuan

Global
Erdogan: Netanyahu adalah Orang yang Harus Disalahkan atas Serangan Iran ke Israel

Erdogan: Netanyahu adalah Orang yang Harus Disalahkan atas Serangan Iran ke Israel

Global
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com