Kompas.com - 08/05/2022, 22:31 WIB

MARIUPOL, KOMPAS.com - Wakil Perdana Menteri (PM) Rusia Marat Khusnullin telah mengunjungi Kota Mariupol yang sudah berminggung-minggu berada di bawah pengeboman Moskwa. 

Rusia, yang mengirim ribuan tentara ke Ukraina mulai 24 Februari dalam apa yang disebutnya sebagai operasi militer khusus, mengeklaim telah menguasai kota Mariupol pada 21 April setelah hampir dua bulan pengepungan.

Namun, beberapa pejuang Ukraina masih bersembunyi di pabrik baja Azovstal era Soviet yang luas di kota itu. Pabrik tersebut menjadi pertahanan terakhir pejuang Ukraina dalam melawan pasukan Rusia di sana.

Baca juga: Rusia Mengaku Tak Punya Rencana Bikin Perayaan Hari Kemenangan di Mariupol

Militer Ukraina mengatakan pada Minggu (8/5/2022), bahwa Rusia melanjutkan penembakan intensif terhadap pabrik tersebut. 

Khusnullin, yang di pemerintahan Rusia bertanggung jawab atas konstruksi dan pengembangan kota, mengatakan di Telegram bahwa dia telah mengunjungi Mariupol dan Kota Volnovakha di Ukraina timur di antara wilayah lain yang "dibebaskan" oleh pasukan Rusia.

"Pemulihan kehidupan damai dimulai di daerah. Ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Kami akan membantu, khususnya dengan memberikan bantuan kemanusiaan," tulisnya dalam posting Telegram, dilansir dari Reuters.

Khusnullin mengunjungi pelabuhan komersial Mariupol yang katanya harus digunakan untuk membawa bahan bangunan untuk memulihkan kota, menurut saluran TV Kementerian Pertahanan Rusia Zvezda.

Pelabuhan yang terletak di antara Semenanjung Crimea yang direbut oleh Moskwa pada 2014 dan bagian timur Ukraina yang diambil oleh separatis yang didukung Rusia pada tahun yang sama, adalah kunci untuk menghubungkan dua wilayah yang dikuasai Rusia dan memblokir ekspor Ukraina.

Baca juga: Kejatuhan Mariupol ke Tangan Rusia akan Terasa Menghancurkan

"Pelabuhan itu akan mengirimkan kargo pertama dari Republik Rakyat Donetsk yang diproklamirkan sendiri yang didukung Rusia pada Mei," kata Kepala Pelabuhan itu Denis Pushilin, yang menemani Khusnullin, di Telegram.

Moskwa mengatakan tindakannya di Ukraina bertujuan untuk melucuti senjata Ukraina dan membersihkannya dari apa yang disebutnya nasionalisme anti-Rusia yang dikobarkan oleh Barat.

Ukraina dan Barat mengatakan Rusia melancarkan perang tanpa alasan dan menuduh pasukan Rusia melakukan perampasan tanah dan kejahatan perang.

Moskwa membantah tuduhan itu dan mengatakan pihaknya hanya menargetkan situs militer atau strategis, bukan warga sipil.

Baca juga: Sepekan Dikepung Rusia, Sekelompok Warga Sipil Berhasil Kabur dari Pabrik Baja Azovstal di Mariupol

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu

Video Pilihan

Sumber Reuters
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.