Kompas.com - 15/03/2022, 07:03 WIB

TEHERAN, KOMPAS.com - Konflik Iran dan Irak kembali memanas setelah serangan 12 rudal balistik Teheran ke situs yang dikatakan Baghdad sebagai milik Israel, dan kini kedua negara bertetangga tersebut saling melontarkan kecaman.

Iran pada Senin (14/3/2022) memperingatkan, mereka tidak akan mentolerir ancaman yang datang dari Irak.

"Sama sekali tidak dapat diterima bahwa salah satu tetangga kami yang memiliki hubungan mendalam dengan kami ... menjadi pusat untuk menciptakan ancaman terhadap republik Islam," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh dikutip dari AFP.

Baca juga: 12 Rudal Balistik Hantam Arbil Ibu Kota Kurdistan di Irak

"Iran tidak akan mentolerir bahwa lokasi di dekat perbatasannya menjadi pusat sabotase, konspirasi, dan pengiriman kelompok teroris ke Iran," katanya pada konferensi pers mingguan di Teheran.

Sebelumnya, pada Minggu (13/3/2022) Garda Revolusi Iran berujar, mereka menargetkan sebuah pusat strategis milik Israel--musuh bebuyutan mereka--di kota Arbil, Irak utara, menggunakan rudal presisi yang kuat.

Namun, otoritas Kurdi bersikeras bahwa Israel itu tidak memiliki situs di Arbil atau sekitarnya, yang merupakan ibu kota wilayah otonomi mereka di utara Irak.

Pihak berwenang mengatakan, 12 rudal balistik menargetkan Arbil termasuk beberapa fasilitas AS, dalam serangan lintas batas sebelum fajar yang membuat dua warga sipil luka ringan.

Irak kemudian memanggil Duta Besar Iran, Iraj Masjidi, untuk memprotes serangan tersebut, dan Kementerian Luar Negeri Irak mengecam serangan itu sebagai pelanggaran mencolok terhadap kedaulatan mereka.

Khatibzadeh berkata, pemerintah federal Irak sudah diberitahu beberapa kali untuk tidak membiarkan perbatasan Irak dengan Iran menjadi tidak aman.

Baca juga: Iran Mengaku Serang Irak dengan 12 Rudal tapi Klaim Pusat Strategis Israel yang Jadi Target

"Iran mengharapkan pemerintah pusat Irak mengakhiri situasi ini untuk selamanya dan tidak membiarkan perbatasannya disalahgunakan," tambahnya.

Serangan pada Minggu (13/3/2022) terjadi hampir seminggu setelah dua perwira Garda Revolusi Iran tewas di Suriah dalam serangan yang dikaitkan dengan Israel, sekutu kunci Amerika Serikat.

Irak, termasuk wilayah Kurdistan, adalah lokasi pengerahan pasukan AS yang memimpin koalisi memerangi kelompok ISIS, tetapi sekarang jumlahnya dikurangi.

Washington menyalahkan serangkaian serangan roket dan drone terhadap kepentingan militer dan diplomatiknya di Irak pada kelompok-kelompok pro-Iran yang menuntut kepergian sisa pasukan AS, tetapi tembakan rudal lintas batas jarang terjadi.

Baca juga: Sejarah Perang Irak vs Amerika: Awal Invasi, Tewasnya Saddam Hussein, hingga Pertempuran Lawan ISIS

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu

Video Pilihan

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.