Separatis Ukraina Desak Rusia Kirim Senjata Modern untuk Perang, Bukan Senapan Era Soviet

Kompas.com - 27/01/2022, 23:59 WIB
Potongan video yang beredar di internet memperlihatkan artileri Rusia tengah digerakkan, di mana dugaan mereka makin mendekati wilayah Ukraina. Social Media via Daily MirrorPotongan video yang beredar di internet memperlihatkan artileri Rusia tengah digerakkan, di mana dugaan mereka makin mendekati wilayah Ukraina.

MOSKWA, KOMPAS.com - Pemimpin separatis Ukraina Denis Pushilin pada Kamis (27/1/2022) mendesak Rusia mengirim senjata modern ke negara bagian yang memisahkan diri itu untuk membantu mereka berperang melawan pasukan Kiev yang didukung Barat.

Denis Pushilin berbicara setelah partai yang berkuasa di Rusia mendesak Kremlin mulai mempersenjatai wilayah yang dikuasai separatis, di tengah ketegangan yang meningkat antara Moskwa dan Barat.

"Pertama dan terpenting, kita perlu melawan Bayraktar," katanya kepada pro-Kremlin Vladimir Solovyov dalam sebuah wawancara online yang dikutip AFP, mengacu pada drone buatan Turki.

Baca juga: Kenapa Rusia-Ukraina Perang dan Apa yang Diincar Putin?

Solovyov mengatakan, Rusia mampu memasok separatis dengan senjata generasi terbaru, bukan senapan serbu Kalashnikov dan senapan mesin era Soviet.

Pushilin menjawab, "Kita perlu membicarakan senjata yang Anda maksud."

Pushilin, yang mendeklarasikan diri sebagai pemimpin Republik Rakyat Donetsk, menuduh pihak berwenang Kiev terus mempersiapkan serangan dan menimbun amunisi serta bahan bakar.

Pada Rabu (26/1/2022), seorang anggota senior United Russia, Vladimir Vasilyev, mengatakan bahwa partai yang memerintah telah meminta kepemimpinan negara itu untuk mulai mempersenjatai wilayah-wilayah yang dikuasai separatis Ukraina.

Amerika Serikat dan para sekutu Uni Eropa-nya menuduh Rusia berusaha menjegal stabilitas Eropa dengan mengancam invasi ke Ukraina, bekas republik Soviet yang berusaha bergabung dengan NATO dan lembaga-lembaga Barat lainnya.

Moskwa membantah rencana untuk menyerang Ukraina, yang selain mencaplok Crimea juga endukung pasukan separatis di timur sejak 2014. Konflik tersebut telah merenggut lebih dari 13.000 nyawa.

Adapun Barat dan Kiev menuduh Moskwa memicu pemberontakan dengan mengirimkan senjata dan pasukan melintasi perbatasan.

Rusia selalu membantah klaim semacam itu, tetapi pernyataan pada Rabu dapat menandai perubahan dalam sikap resmi Moskaw.

Sejauh ini belum ada reaksi resmi langsung dari Kremlin.

Baca juga: Kenapa Rusia Tidak Masuk NATO? Ini 5 Alasannya

 
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Terungkap Motif Pelaku Penembakan Massal di Gereja AS: Punya “Kebencian Terhadap Taiwan”

Terungkap Motif Pelaku Penembakan Massal di Gereja AS: Punya “Kebencian Terhadap Taiwan”

Global
AS Peringatkan Agar Bisnis Tak Pekerjakan Pekerja IT dari Korea Utara

AS Peringatkan Agar Bisnis Tak Pekerjakan Pekerja IT dari Korea Utara

Global
Diboikot Negara Barat, Ekspor Minyak Rusia ke India Melonjak, Naik Jadi Pemasok Terbesar Keempat

Diboikot Negara Barat, Ekspor Minyak Rusia ke India Melonjak, Naik Jadi Pemasok Terbesar Keempat

Global
Warga Jepang dan Korsel Patuh Pakai Masker Meski Covid-19 Kian Mereda

Warga Jepang dan Korsel Patuh Pakai Masker Meski Covid-19 Kian Mereda

Global
AS Sukses Uji Coba Senjata Hipersonik 'Lima Kali Kecepatan Suara'

AS Sukses Uji Coba Senjata Hipersonik 'Lima Kali Kecepatan Suara'

Global
PM Estonia ke Para Pemimpin Dunia: Setop Telepon Putin Biar Rasakan Isolasi Sesungguhnya

PM Estonia ke Para Pemimpin Dunia: Setop Telepon Putin Biar Rasakan Isolasi Sesungguhnya

Global
Anjing Korban Kekerasan di Hongaria Dilatih Jadi Tim Misi NATO

Anjing Korban Kekerasan di Hongaria Dilatih Jadi Tim Misi NATO

Global
Bernama Sama dengan Majalah, Pub Bernama Vogue Diminta Ganti Nama

Bernama Sama dengan Majalah, Pub Bernama Vogue Diminta Ganti Nama

Global
Rusia: 265 Tentara Ukraina di Pabrik Baja Azovstal Mariupol Menyerahkan Diri

Rusia: 265 Tentara Ukraina di Pabrik Baja Azovstal Mariupol Menyerahkan Diri

Global
Kisah Penggalian Makam Firaun Tutankhamun 100 Tahun Lalu dan Sayatan Pertama yang Membedahnya

Kisah Penggalian Makam Firaun Tutankhamun 100 Tahun Lalu dan Sayatan Pertama yang Membedahnya

Global
Pasca-pemilu, Sekjen PBB Minta Lebanon Bentuk Pemerintah Inklusif

Pasca-pemilu, Sekjen PBB Minta Lebanon Bentuk Pemerintah Inklusif

Global
Imigrasi Batam Pastikan Dokumen UAS Lengkap Saat Mau ke Singapura

Imigrasi Batam Pastikan Dokumen UAS Lengkap Saat Mau ke Singapura

Global
Alasan Turki Tolak Swedia dan Finlandia Gabung NATO

Alasan Turki Tolak Swedia dan Finlandia Gabung NATO

Global
UAS Tak Diizinkan Masuk Singapura, Begini Tanggapan Dubes RI dan Kronologinya

UAS Tak Diizinkan Masuk Singapura, Begini Tanggapan Dubes RI dan Kronologinya

Global
Rusia: Upaya Isolasi dari G7 Hanya Akan Perburuk Krisis Pangan Global

Rusia: Upaya Isolasi dari G7 Hanya Akan Perburuk Krisis Pangan Global

Global
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.