Rusia-Ukraina Sepakat Jaga Gencatan Senjata, tapi Kemungkinan Perang Masih Ada

Kompas.com - 27/01/2022, 20:05 WIB
Tentara cadangan Ukraina memegang replika kayu senapan Kalashnikov, dalam latihan militer di dekat Kiev pada Sabtu (25/12/2021). Para peserta pelatihan adalah bagian dari batalyon cadangan yang dibentuk untuk melindungi sebuah distrik di Kiev jika terjadi serangan terhadap kota terbesar di Ukraina itu. Puluhan warga sipil bergabung dengan tentara cadangan Ukraina dalam beberapa bulan terakhir, karena kekhawatiran meningkat bahwa Rusia, yang menurut Kiev telah mengumpulkan sekitar 100.000 tentara di sisi perbatasannya, sedang merencanakan serangan skala besar. AFP/SERGEI SUPINSKYTentara cadangan Ukraina memegang replika kayu senapan Kalashnikov, dalam latihan militer di dekat Kiev pada Sabtu (25/12/2021). Para peserta pelatihan adalah bagian dari batalyon cadangan yang dibentuk untuk melindungi sebuah distrik di Kiev jika terjadi serangan terhadap kota terbesar di Ukraina itu. Puluhan warga sipil bergabung dengan tentara cadangan Ukraina dalam beberapa bulan terakhir, karena kekhawatiran meningkat bahwa Rusia, yang menurut Kiev telah mengumpulkan sekitar 100.000 tentara di sisi perbatasannya, sedang merencanakan serangan skala besar.

PARIS, KOMPAS.com - Utusan dari Moskwa dan Kiev pada Rabu (26/1/2022) berkomitmen menegakkan gencatan senjata yang rapuh di Ukraina timur dalam pembicaraan di Paris.

Mereka juga setuju untuk melanjutkan diskusi, tetapi masih ada kemungkinan Rusia menyerang negara tetangganya tersebut.

Penumpukan pasukan Rusia di dekat perbatasan dengan Ukraina timur menimbulkan kekhawatiran bahwa Kremlin berencana mengintervensi Ukraina yang pro-Uni Eropa untuk menghentikan ekspansi NATO di Eropa timur.

Baca juga: Kenapa Rusia-Ukraina Perang dan Apa yang Diincar Putin?

Seorang diplomat Perancis mengatakan, diskusi lebih dari delapan jam yang ditengahi oleh Perancis dan Jerman mengirimkan sinyal baik.

Seorang sumber Pemerintah Jerman kemudian mengonfirmasi bahwa pembicaraan berikutnya akan berlangsung di Berlin pada minggu kedua Februari.

Seorang ajudan Presiden Perancis Emmanuel Macron, yang berbicara dengan syarat anonim, menekankan bahwa pembicaraan itu tentang menyelesaikan pertempuran separatis di Ukraina timur sejak 2014, bukan ancaman invasi Rusia.

Akan tetapi, "pertanyaannya adalah apakah Rusia ingin memberi sinyal pencairan", katanya, seraya menambahkan bahwa diskusi sulit pada akhirnya menghasilkan sesuatu yang positif.

"Dalam keadaan saat ini, kami menerima sinyal yang baik," katanya dikutip dari AFP.

Untuk kali pertama sejak 2019, Ukraina dan Rusia sepakat menandatangani pernyataan bersama dengan Perancis dan Jerman tentang konflik yang sedang berlangsung antara pasukan Ukraina dan separatis di timur negara itu.

Keempat negara berupaya mencapai kesepakatan damai untuk Ukraina timur sejak 2014 dan secara kolektif dikenal sebagai Grup Normandia.

Halaman:

Video Pilihan

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.