Kompas.com - 21/01/2022, 10:30 WIB
Bendera Korea Utara berkibar di Kedutaan Besar Korut di Kuala Lumpur, Malaysia, pada Jumat (19/3/2021). AFP/SAZALI AHMADBendera Korea Utara berkibar di Kedutaan Besar Korut di Kuala Lumpur, Malaysia, pada Jumat (19/3/2021).

PYONGYANG, KOMPAS.com - Korea Utara mengatakan akan memperkuat pertahanannya melawan Amerika Serikat.

Mereka juga akan mengevaluasi dan memulai kembali semua kegiatan yang ditangguhkan sementara.

Media pemerintah KCNA, dilansir CNN, menyebut pengumuman tersebut merupakan referensi untuk moratorium uji coba senjata nuklir yang diberlakukan sendiri, yang telah berlaku sejak 2017.

Baca juga: Sejarah Nuklir Korea Utara: Rudal Balistik, Hipersonik, hingga 16 Kali Bom Hiroshima

Meskipun Pyongyang dilarang menguji coba rudal balistik dan senjata nuklir di bawah hukum internasional, Pyongyang terus mengembangkan senjata yang melanggar larangan tersebut.

Dalam sebuah laporan tentang pertemuan Politbiro yang diadakan pada hari Rabu (19/1/2022), KCNA melaporkan "kebijakan permusuhan dan ancaman militer oleh AS telah mencapai garis bahaya yang tidak dapat diabaikan lagi."

Korut juga mengakui perlunya bersiap untuk "konfrontasi jangka panjang" dengan AS.

Laporan itu mengatakan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un telah menginstruksikan para pejabat untuk meningkatkan cara-cara untuk "mengendalikan secara efisien gerakan bermusuhan AS".

Baca juga: Korea Utara Luncurkan Rudal Lagi, Uji Coba yang Keempat dalam Sebulan

Mereka juga mempertimbangkan kembali langkah-langkah membangun kepercayaan dengan AS.

Di sisi lain, militer Korea Selatan memantau dengan cermat kegiatan Korea Utara menyusul laporan ini.

Sebelumnya, Korea Utara memang telah meningkatkan uji coba misilnya selama bulan Januari.

Pekan lalu, AS mengumumkan sanksi terhadap lima individu Korea Utara dan satu entitas yang mendukung program terkait rudal balistik rezim tersebut.

Baca juga: Korea Utara Akhirnya Buka Perbatasan Darat, Kereta Kargo Pertama Menyeberang ke China

Korea Utara menyebut sanksi baru itu "bodoh" dan mengatakan pemerintahan Joe Biden "terus melakukan manuver untuk merampas hak DPRK dalam membela diri."

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Sumber CNN
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Cerita “Situasi Hidup atau Mati” dari Penumpang yang Mendaratkan Pesawat Tanpa Pengalaman Terbang

Cerita “Situasi Hidup atau Mati” dari Penumpang yang Mendaratkan Pesawat Tanpa Pengalaman Terbang

Global
Kenapa Beberapa Orang Tak Segan Menonton Film Porno di Tempat Umum, Ini 3 Alasannya

Kenapa Beberapa Orang Tak Segan Menonton Film Porno di Tempat Umum, Ini 3 Alasannya

Global
Terungkap Motif Pelaku Penembakan Massal di Gereja AS: Punya “Kebencian Terhadap Taiwan”

Terungkap Motif Pelaku Penembakan Massal di Gereja AS: Punya “Kebencian Terhadap Taiwan”

Global
AS Peringatkan Agar Bisnis Tak Pekerjakan Pekerja IT dari Korea Utara

AS Peringatkan Agar Bisnis Tak Pekerjakan Pekerja IT dari Korea Utara

Global
Diboikot Negara Barat, Ekspor Minyak Rusia ke India Melonjak, Naik Jadi Pemasok Terbesar Keempat

Diboikot Negara Barat, Ekspor Minyak Rusia ke India Melonjak, Naik Jadi Pemasok Terbesar Keempat

Global
Warga Jepang dan Korsel Patuh Pakai Masker Meski Covid-19 Kian Mereda

Warga Jepang dan Korsel Patuh Pakai Masker Meski Covid-19 Kian Mereda

Global
AS Sukses Uji Coba Senjata Hipersonik 'Lima Kali Kecepatan Suara'

AS Sukses Uji Coba Senjata Hipersonik 'Lima Kali Kecepatan Suara'

Global
PM Estonia ke Para Pemimpin Dunia: Setop Telepon Putin Biar Rasakan Isolasi Sesungguhnya

PM Estonia ke Para Pemimpin Dunia: Setop Telepon Putin Biar Rasakan Isolasi Sesungguhnya

Global
Anjing Korban Kekerasan di Hongaria Dilatih Jadi Tim Misi NATO

Anjing Korban Kekerasan di Hongaria Dilatih Jadi Tim Misi NATO

Global
Bernama Sama dengan Majalah, Pub Bernama Vogue Diminta Ganti Nama

Bernama Sama dengan Majalah, Pub Bernama Vogue Diminta Ganti Nama

Global
Rusia: 265 Tentara Ukraina di Pabrik Baja Azovstal Mariupol Menyerahkan Diri

Rusia: 265 Tentara Ukraina di Pabrik Baja Azovstal Mariupol Menyerahkan Diri

Global
Kisah Penggalian Makam Firaun Tutankhamun 100 Tahun Lalu dan Sayatan Pertama yang Membedahnya

Kisah Penggalian Makam Firaun Tutankhamun 100 Tahun Lalu dan Sayatan Pertama yang Membedahnya

Global
Pasca-pemilu, Sekjen PBB Minta Lebanon Bentuk Pemerintah Inklusif

Pasca-pemilu, Sekjen PBB Minta Lebanon Bentuk Pemerintah Inklusif

Global
Imigrasi Batam Pastikan Dokumen UAS Lengkap Saat Mau ke Singapura

Imigrasi Batam Pastikan Dokumen UAS Lengkap Saat Mau ke Singapura

Global
Alasan Turki Tolak Swedia dan Finlandia Gabung NATO

Alasan Turki Tolak Swedia dan Finlandia Gabung NATO

Global
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.