Wapres AS Kamala Harris Berkomentar tentang Demokrasi dan Taliban

Kompas.com - 28/12/2021, 18:00 WIB

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Wakil Presiden Kamala Harris tampaknya salah bicara selama wawancara yang ditayangkan pada Minggu (26/12/2021).

Saat itu dia menjawab bahwa "demokrasi" adalah tantangan keamanan nasional terbesar yang dihadapi AS.

Selama wawancara di CBS News “Face the Nation”, pembawa acara Margaret Brennan bertanya kepadanya tentang satu-satunya ancaman keamanan nasional yang membuatnya terjaga di malam hari dengan rasa khawatir.

Baca juga: Kamala Harris Jadi Perempuan Pertama yang Mendapat Kekuasaan Presiden AS Meski Singkat

“Terus terang, salah satunya adalah demokrasi kita. Saya kira tidak ada pertanyaan di benak orang-orang yang ahli kebijakan luar negeri bahwa tahun 2021 bukan tahun 2000,” kata Harris.

“Dan kita memulai era baru di mana ancaman terhadap bangsa kita mengambil banyak bentuk. Termasuk ancaman otokrasi mengambil alih dan memiliki pengaruh besar di seluruh dunia,” tambahnya.

Kemudian dalam wawancara, dia mengklarifikasi komentarnya sebelumnya, dengan mengatakan ada kebutuhan untuk “memperjuangkan integritas demokrasi kita.”

Baca juga: Wapres AS Kamala Harris Jarang Disorot, Apa Saja yang Dilakukannya?

Dalam wawancara, Harris juga berbicara tentang perlunya Senat untuk meloloskan undang-undang hak suara.

Harris juga menolak untuk bertanggung jawab atas bencana seputar penarikan militer AS dari Afghanistan pada Agustus, alih-alih menyalahkan pemerintahan Trump karena menandatangani perjanjian dengan Taliban.

Dia mengatakan akan “mendukung penuh” keputusan Presiden Biden untuk mengakhiri perang 20 tahun negara itu di Afghanistan dengan mengeluarkan pasukan AS.

“Kami dibebani dengan tanggung jawab itu berdasarkan kesepakatan antara Amerika Serikat dan Taliban,” lanjutnya.

Baca juga: Kamala Harris Ingatkan PM India Demokrasi di Seluruh Dunia Berada di Bawah Ancaman

Harris juga mengklaim pemerintahan Biden harus mematuhi kesepakatan yang dibuat oleh mantan Presiden Donald Trump atau mengambil risiko kelanjutan dari perang terpanjang Amerika itu.

"Kami membuat keputusan bahwa jika kami melanggar kesepakatan, situasinya akan berbeda saat ini," kata wakil presiden itu.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Sumber CBS News
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

USS Nautilus: Kapal Selam Nuklir Pertama AS yang Jelajahi Dunia Melalui Bawah Es Arktik

USS Nautilus: Kapal Selam Nuklir Pertama AS yang Jelajahi Dunia Melalui Bawah Es Arktik

Global
Kerugian Terbaru Ukraina yang Dilaporkan Menteri Pertahaan Rusia ke Putin

Kerugian Terbaru Ukraina yang Dilaporkan Menteri Pertahaan Rusia ke Putin

Global
Kebutuhan Biaya Rekonstruksi Ukraina Setara Pembangunan 2.500 JIS

Kebutuhan Biaya Rekonstruksi Ukraina Setara Pembangunan 2.500 JIS

Global
Mantan Pejabat Afghanistan yang Melarikan Diri Hidup Mewah, Tinggalkan Rakyatnya dalam Krisis dan Bencana

Mantan Pejabat Afghanistan yang Melarikan Diri Hidup Mewah, Tinggalkan Rakyatnya dalam Krisis dan Bencana

Global
Presiden Baru Filipina Janji Tingkatkan Produksi biji-bijian untuk Cegah Krisis Pangan

Presiden Baru Filipina Janji Tingkatkan Produksi biji-bijian untuk Cegah Krisis Pangan

Global
Kenapa Amerika Disebut Negeri Paman Sam dan Siapa Uncle Sam?

Kenapa Amerika Disebut Negeri Paman Sam dan Siapa Uncle Sam?

Internasional
Taliban Nyatakan Kelompok Afiliasi ISIS sebagai 'Sekte Palsu', Larang Warga Afghanistan Terlibat

Taliban Nyatakan Kelompok Afiliasi ISIS sebagai 'Sekte Palsu', Larang Warga Afghanistan Terlibat

Global
Haji 2022: 1 Juta Jemaah Datangi Tanah Suci Mekkah, Terbanyak Selama Pandemi Covid

Haji 2022: 1 Juta Jemaah Datangi Tanah Suci Mekkah, Terbanyak Selama Pandemi Covid

Global
Kremlin Beberkan Alasan Putin Tak Beri Selamat Hari Kemerdekaan AS ke Biden

Kremlin Beberkan Alasan Putin Tak Beri Selamat Hari Kemerdekaan AS ke Biden

Global
Rusia Tuding Barat Larang Ukraina Memikirkan Perdamaian, Ini yang Diucap

Rusia Tuding Barat Larang Ukraina Memikirkan Perdamaian, Ini yang Diucap

Global
Perintah Baru Putin Setelah Rusia Kuasai Seluruh Luhansk Ukraina

Perintah Baru Putin Setelah Rusia Kuasai Seluruh Luhansk Ukraina

Global
Kapal Hong Kong Terbelah di Laut China Selatan, 12 Jasad Ditemukan, 26 Awak Hilang

Kapal Hong Kong Terbelah di Laut China Selatan, 12 Jasad Ditemukan, 26 Awak Hilang

Global
Kisah WNI Tak Terdampak Kenaikan Harga di Australia Berkat Berkebun dan Beternak Sendiri

Kisah WNI Tak Terdampak Kenaikan Harga di Australia Berkat Berkebun dan Beternak Sendiri

Global
China Lockdown 1,7 Juta Orang di Anhui Usai Muncul 1.000 Kasus Covid

China Lockdown 1,7 Juta Orang di Anhui Usai Muncul 1.000 Kasus Covid

Global
UPDATE Kerusuhan Uzbekistan: Ribuan Terluka dalam Bentrokan, Konflik Etnis Dikhawatirkan Pecah

UPDATE Kerusuhan Uzbekistan: Ribuan Terluka dalam Bentrokan, Konflik Etnis Dikhawatirkan Pecah

Global
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.