Pasukan Keamanan Myanmar Tabraki Pengunjuk Rasa dengan Mobil

Kompas.com - 05/12/2021, 15:56 WIB
Pengunjuk rasa anti-kudeta menunjukkan tanda tiga jari perlawanan pada Kamis (3/6/2021) di Yangon, Myanmar. Perlawanan terhadap kekuasaan militer tetap meluas empat bulan setelah pemimpin sipil Aung San Suu Kyi digulingkan dari kekuasaan pada 1 Februari 2021. AP PHOTOPengunjuk rasa anti-kudeta menunjukkan tanda tiga jari perlawanan pada Kamis (3/6/2021) di Yangon, Myanmar. Perlawanan terhadap kekuasaan militer tetap meluas empat bulan setelah pemimpin sipil Aung San Suu Kyi digulingkan dari kekuasaan pada 1 Februari 2021.

NAYPYIDAW, KOMPAS.com – Pasukan keamanan Myanmar menabrakkan mobil ke kerumunan massa yang menggelar aksi anti-kudeta.

Insiden tersebut terjadi pada Minggu (4/12/2021) pagi waktu setempat di Yangon, membuat beberapa orang terluka sebagaimana dilansir Reuters.

Aksi demonstrasi menentang kudeta militer di Myanmar belum terpadamkan meski lebih dari 1.300 orang tewas sejak 1 Februari.

Baca juga: ASEAN Tentang Keras Permintaan China Agar Junta Militer Myanmar Bergabung dalam KTT

Pada Minggu, massa kembali menggelar aksi protes menentang kudeta militer. Namun beberapa menit setelah dimulai, pasukan keamanan Myanmar menabraki massa.

“Saya tertabrak dan jatuh di depan truk. Seorang tentara memukuli saya dengan senapannya tetapi saya melawan dan mendorongnya ke belakang,” kata seorang demonstran kepada Reuters.

“Kemudian dia langsung menembak saya karena saya melarikan diri dengan pola zig-zag. Untung saya selamat,” imbuhnya.

Baca juga: Aung San Suu Kyi Dijerat Junta Militer Myanmar Dakwaan Penipuan di Pemilu

Sementara itu, dua saksi mata mengatakan, sebuah mobil sipil yang dikemudikan oleh tentara Myanmar juga menabrak massa dari belakang.

Tentara tersebut lantas keluar dari mobil lalu memukuli dan menangkapi beberapa demonstran.

Beberapa terluka parah dengan luka di kepala dan tidak sadarkan diri, menurut para saksi.

Baca juga: Junta Myanmar Bebaskan Danny Fenster, Jurnalis AS yang Dipenjara 11 Tahun

Reuters melaporkan, total orang terluka akibat amukan pasukan keamanan Myanmar itu berjumlah puluhan. Selain itu, beberapa pengunjuk rasa juga ditahan.

Seorang juru bicara junta militer Myanmar yang berkuasa tidak menjawab panggilan telepon untuk dimintai komentar Reuters pada Minggu.

Sebelumnya, militer berdalih bahwa para pengunjuk rasa yang telah terbunuh merupakan dalang dalam menghasut kekerasan.

Baca juga: Junta Militer Myanmar Penjarakan Jurnalis AS 11 Tahun

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Sumber Reuters
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Temuan Perwakilan Barat di Norwegia, Taliban Minta Aset Dicairkan

Temuan Perwakilan Barat di Norwegia, Taliban Minta Aset Dicairkan

Global
Efek Ghozali: Bagaimana Cara Menjual NFT dan Apakah Transaksinya Aman?

Efek Ghozali: Bagaimana Cara Menjual NFT dan Apakah Transaksinya Aman?

Internasional
Wanita Ini Memaksa Seorang Ibu untuk Menjual Anaknya dengan Menawarkan Rp7,1 Miliar

Wanita Ini Memaksa Seorang Ibu untuk Menjual Anaknya dengan Menawarkan Rp7,1 Miliar

Global
Setelah Kisahnya Tersebar, Rohana Mengaku Dapat Tawaran Kuliah dari 2 Universitas di Malaysia

Setelah Kisahnya Tersebar, Rohana Mengaku Dapat Tawaran Kuliah dari 2 Universitas di Malaysia

Global
NASA: Letusan Gunung Api Tonga Ratusan Kali Lebih Kuat dari Bom Atom Hiroshima

NASA: Letusan Gunung Api Tonga Ratusan Kali Lebih Kuat dari Bom Atom Hiroshima

Global
China Cabut Lockdown di Xi'an Jelang Olimpiade Beijing

China Cabut Lockdown di Xi'an Jelang Olimpiade Beijing

Global
Pemburu Harta Karun Amatir Berhasil Gali Tumpukan Emas Celtic Berusia 2.000 Tahun

Pemburu Harta Karun Amatir Berhasil Gali Tumpukan Emas Celtic Berusia 2.000 Tahun

Global
Jean-Jacques Savin, Petualang Perancis Tewas dalam Misi Mendayung Solo Melintasi Atlantik

Jean-Jacques Savin, Petualang Perancis Tewas dalam Misi Mendayung Solo Melintasi Atlantik

Global
Selama 2021, China Menghukum Lebih dari 600.000 Pejabat, Ini Alasannya

Selama 2021, China Menghukum Lebih dari 600.000 Pejabat, Ini Alasannya

Global
UEA Cegat 2 Rudal Balistik yang Ditembakkan Houthi dari Yaman

UEA Cegat 2 Rudal Balistik yang Ditembakkan Houthi dari Yaman

Global
China Terbangkan 39 Pesawat Tempur ke ADIZ Taiwan, Terbanyak Kedua yang Tercatat

China Terbangkan 39 Pesawat Tempur ke ADIZ Taiwan, Terbanyak Kedua yang Tercatat

Global
Usai Mundur dari Pilpres Italia, Silvio Berlusconi Masuk Rumah Sakit Lagi

Usai Mundur dari Pilpres Italia, Silvio Berlusconi Masuk Rumah Sakit Lagi

Global
Ribuan Orang Berdemo Menentang Mandat Masker dan Vaksin di AS

Ribuan Orang Berdemo Menentang Mandat Masker dan Vaksin di AS

Global
Ukraina-Rusia Makin Tegang, AS Perintahkan Warganya Segera Keluar dari Kiev

Ukraina-Rusia Makin Tegang, AS Perintahkan Warganya Segera Keluar dari Kiev

Global
Terungkap Syarat AS ke Iran untuk Bisa Kembali Patuh ke Kesepakatan Nuklir 2015

Terungkap Syarat AS ke Iran untuk Bisa Kembali Patuh ke Kesepakatan Nuklir 2015

Global
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.