Kompas.com - 03/12/2021, 12:44 WIB
Asap dari polusi udara yang menyelimuti pinggiran ibu kota India, New Delhi, pada Kamis (18/11/2021). Tingkat polusi udara masih sangat tinggi di New Delhi saat itu, sehari setelah pemerintah menutup sekolah tanpa batas waktu dan menutup beberapa pembangkit listrik untuk mengurangi kabut asap yang menyelimuti selama hampir sebulan. AP PHOTO/ALTAF QADRIAsap dari polusi udara yang menyelimuti pinggiran ibu kota India, New Delhi, pada Kamis (18/11/2021). Tingkat polusi udara masih sangat tinggi di New Delhi saat itu, sehari setelah pemerintah menutup sekolah tanpa batas waktu dan menutup beberapa pembangkit listrik untuk mengurangi kabut asap yang menyelimuti selama hampir sebulan.

NEW DELHI, KOMPAS.com - New Delhi ibu kota India pada Kamis (2/12/2021) kembali memerintahkan sekolah-sekolah ditutup, karena tingkat kabut asap yang berbahaya.

Pengadilan tinggi India juga menuntut para pejabat mengambil tindakan mengatasi kabut asap beracun.

New Delhi, salah satu kota paling tercemar di dunia dan dihuni sekitar 20 juta orang, diselimuti kabut asap tebal setiap musim dingin.

Baca juga: Mahkamah Agung India Desak Pemerintah New Delhi Kendalikan Polusi Udara yang Parah

Pemerintah kota sempat menutup sekolah pada November, tetapi mengizinkan kelas dilanjutkan pada Senin (29/11/2021) setelah mengeklaim kualitas udara telah membaik.

Namun, mereka membalik lagi keputusannya pada Kamis setelah sidang Mahkamah Agung memberi pihak berwenang 24 jam untuk mengurangi tingkat kabut asap.

"Anak-anak kecil harus pergi (ke kelas) dalam kabut pagi. Tidak ada rasa hormat," kata Ketua Hakim NV Ramana selama persidangan, dikutip dari AFP.

Mahkamah Agung meminta pemerintah untuk mengekang emisi kendaraan dan polusi industri, penyebab utama masalah kabut asap di kota itu.

Baca juga: Seminggu Ditutup karena Polusi, Sekolah di New Delhi India Akan Buka Lagi 29 November

Tingkat PM2.5 di Delhi - partikel paling berbahaya yang mengakibatkan penyakit paru-paru dan jantung kronis - sekitar 215 mikrogram per meter kubik, menurut badan pemantau udara IQAir.

Angka tersebut 14 kali lebih tinggi dari jumlah maksimum harian yang direkomendasikan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Bulan lalu Delhi menghentikan sebagian besar pekerjaan konstruksi dan meminta pegawai negeri sipil untuk bekerja dari rumah, karena kualitas udara kota memburuk.

Laporan dari jurnal Lancet tahun lalu mengatakan, hampir 17.500 orang meninggal di Delhi pada 2019 karena polusi udara.

Sebuah laporan oleh IQAir tahun lalu juga menemukan, 22 dari 30 kota paling tercemar di dunia berada di India.

Baca juga: 100 Kota di Dunia Paling Tercemar Polusi Udara: 94 Berada di India, China, dan Pakistan

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.