Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Laporan 100 Hari Pertama Setelah Taliban Berkuasa di Afghanistan

Kompas.com - 24/11/2021, 22:28 WIB
Bernadette Aderi Puspaningrum

Editor

KABUL, KOMPAS.com - Jurnalis BBC, Yalda Hakim, lahir di Afghanistan. Keluarganya melarikan diri dari negara itu saat masa pendudukan Uni Soviet pada 1980-an, tetapi dia rutin melaporkan situasi dari negara itu.

Sekarang dia kembali ke Afghanistan untuk pertama kalinya, setelah Taliban merebut kekuasaan 100 hari yang lalu, berikut laporannya melansir BBC.

Baca juga: Taliban: Artis Wanita Afghanistan Tak Boleh Tampil di Sinetron Televisi

Saya menyadari bahwa kepulangan pertama saya ke negara kelahiran sejak Taliban berkuasa pada Agustus lalu, akan membuat saya bertanya-tanya.

Seberapa jauh negara ini telah berubah sejak Taliban menggulingkan pemerintahan yang didukung Barat? Akankah masyarakat Afghanistan mendapatkan kedamaian yang mereka dambakan?

Seperti apa masa depan perempuan dan anak perempuan Afghanistan yang sudah disingkirkan dari kehidupan publik oleh penguasa baru mereka?

Ada sebuah pertanyaan, yang saya tidak berharap akan menanyakannya kepada diri sendiri. Yakni, kekuatan seperti apa yang dibutuhkan untuk tetap pergi bekerja, hari demi hari, pekan demi pekan, bulan demi bulan yang semakin menyiksa, meski tanpa dibayar?

Tetapi, itu lah yang saya temukan. Dari petugas kesehatan di Kandahar hingga petugas kebersihan di rumah sakit Kabul, tidak ada petugas kesehatan publik di Afghanistan yang digaji sejak pemerintah jatuh dan bantuan asing terhenti.

Pekerja kesehatan di rumah sakit di Afghanistan tidak digaji selama berbulan-bulan.via BBC INDONESIA Pekerja kesehatan di rumah sakit di Afghanistan tidak digaji selama berbulan-bulan.

Baca juga: Taliban Mulai Bayar Gaji Pegawai Pemerintah Afghanistan yang Tertunggak

Terlepas dari situasi itu, mereka masih datang bekerja, merawat masyarakat yang semakin putus asa di saat mereka sendiri semakin terpojok ke tepi jurang.

Nasreen bekerja sebagai petugas kebersihan di Rumah Sakit Anak Indira Gandhi di Kabul.

"Jika kami tidak bekerja, bayi-bayi ini akan meninggal, bagaimana mungkin kami bisa meninggalkan mereka?" kata Nasreen kepada saya.

Bangsal harus sebersih mungkin untuk memastikan pasien, yang kebanyakan berkondisi lemah serta kurang gizi. Supaya mereka tidak terkena infeksi.

Nasreen mengatakan dia tidak mampu membayar transportasi, sehingga terpaksa berjalan kaki menuju tempat kerja.

Perjalanan itu melelahkan, dia harus menuruni sisi gunung, kemudian mendaki kembali setelah bekerja selama 12 jam.

Namun, betapa pun menyedihkannya para petugas kesehatan, pasien yang mereka rawat berada dalam kondisi yang jauh lebih buruk.

PBB menyatakan hampir 23 juta warga Afghanistan menghadapi kelaparan. 95 persen orang di negara ini tidak memiliki makanan yang cukup.

Baca juga: Taliban Minta Amerika Serikat Bebaskan Aset Afghanistan yang Dibekukan

Sejumlah anak mengalami kurang gizi akibat kelaparan yang melanda Afghanistan.via BBC INDONESIA Sejumlah anak mengalami kurang gizi akibat kelaparan yang melanda Afghanistan.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya

Terkini Lainnya

Iran Ancam Serang Yordania dan Negara di Sekitarnya Jika Bantu Israel

Iran Ancam Serang Yordania dan Negara di Sekitarnya Jika Bantu Israel

Global
Biden Rapat Mendadak Kumpulkan Menteri, Bahas Serangan Iran

Biden Rapat Mendadak Kumpulkan Menteri, Bahas Serangan Iran

Global
Usai Iran Serang Israel, PM Netanyahu Telepon Biden

Usai Iran Serang Israel, PM Netanyahu Telepon Biden

Global
Atas Permintaan Israel, DK PBB Segera Gelar Pertemuan Darurat untuk Bahas Serangan Iran

Atas Permintaan Israel, DK PBB Segera Gelar Pertemuan Darurat untuk Bahas Serangan Iran

Global
Serangan Iran Berkelanjutan, Tembakkan 200 Drone, Rudal Balistik, dan Rudal Jelajah ke Israel

Serangan Iran Berkelanjutan, Tembakkan 200 Drone, Rudal Balistik, dan Rudal Jelajah ke Israel

Global
Dampak Terkini Serangan Iran ke Israel, Rusak Pangkalan Militer

Dampak Terkini Serangan Iran ke Israel, Rusak Pangkalan Militer

Global
Usai Luncurkan Serangan, Iran: Ini Konflik dengan Israel, AS Harus Menjauh

Usai Luncurkan Serangan, Iran: Ini Konflik dengan Israel, AS Harus Menjauh

Global
Serangan Iran ke Israel: Sirene Meraung, Hujan Ledakan, Anak 10 Tahun Terluka Parah

Serangan Iran ke Israel: Sirene Meraung, Hujan Ledakan, Anak 10 Tahun Terluka Parah

Global
Rangkuman Hari ke-779 Serangan Rusia ke Ukraina: Situasi Timur Ukraina Memburuk | Dasar Baru Perdamaian Rusia-Ukraina?

Rangkuman Hari ke-779 Serangan Rusia ke Ukraina: Situasi Timur Ukraina Memburuk | Dasar Baru Perdamaian Rusia-Ukraina?

Global
Lebih dari 100 Drone Iran Hujani Israel, Pertahanan Udara Israel Berpotensi Kesulitan Menghalau

Lebih dari 100 Drone Iran Hujani Israel, Pertahanan Udara Israel Berpotensi Kesulitan Menghalau

Global
Iran Luncurkan Drone dan Rudal Balistik ke Israel, Tandai Awal Serangan Militer

Iran Luncurkan Drone dan Rudal Balistik ke Israel, Tandai Awal Serangan Militer

Global
[UNIK GLOBAL] Pasien Pertama Cangkok Ginjal Babi | Pria Tertua di Dunia Berusia 111 Tahun

[UNIK GLOBAL] Pasien Pertama Cangkok Ginjal Babi | Pria Tertua di Dunia Berusia 111 Tahun

Global
Putri CEO Berusia 6 Tahun Beri Nilai Satu Bintang Ke Etihad Airways, Ini Respons Hangat Maskapai

Putri CEO Berusia 6 Tahun Beri Nilai Satu Bintang Ke Etihad Airways, Ini Respons Hangat Maskapai

Global
Penikaman Massal Mal Sydney: Belum Ada Indikasi Terorisme, Motif Masih Diselidiki

Penikaman Massal Mal Sydney: Belum Ada Indikasi Terorisme, Motif Masih Diselidiki

Global
UPDATE Penikaman Massal di Mal Sydney: Korban Tewas Jadi 7 Orang, WNI Diimbau Hindari Keramaian 

UPDATE Penikaman Massal di Mal Sydney: Korban Tewas Jadi 7 Orang, WNI Diimbau Hindari Keramaian 

Global
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com