Bank Dunia: Transisi ke Green Economy Sangat Mahal, Indonesia Sulit Biayai Sendiri

Kompas.com - 22/11/2021, 19:50 WIB
Direktur Bank Dunia di Indonesia, Satu Kahkonen dalam forum Sweden-Indonesia Sustainability Partnership Week (SISP Week) yang dilangsungkan dari Jakarta dan Stockholm pada Senin (22/11/2021). KOMPAS.COM via KEDUTAAN BESAR KERAJAAN SWEDIA Direktur Bank Dunia di Indonesia, Satu Kahkonen dalam forum Sweden-Indonesia Sustainability Partnership Week (SISP Week) yang dilangsungkan dari Jakarta dan Stockholm pada Senin (22/11/2021).

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor-Leste Satu Kahkonen mengatakan transisi ke “green economy” (ekonomi hijau) bisa sangat mahal, dan pemerintah Indonesia mungkin tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk membiayai seluruh proses sendiri. Oleh karena itu, pendanaan eksternal dinilai sangat penting.

“Tanpa pendanaan eksternal transisi (ekonomi hijau) akan memakan waktu yang lama,” kata Kahkonen dalam forum "Sweden-Indonesia Sustainability Partnership Week" (SISP Week) yang dilangsungkan dari Jakarta dan Stockholm pada Senin (22/11/2021).

Baca juga: Kelebihan dan Kekurangan Energi Tak Terbarukan

Institusi internasional seperti Bank Dunia disebut bisa membantu masalah ini, tapi kemampuannya juga terbatas. Dengan demikian keterlibatan sektor investasi dan finansial privat dinilai sangat penting untuk bekerja sama dalam proses ini.

“Juga (kerja sama) bilateral. Transisi ini memerlukan semua pihak,” tegasnya.

Namun itu pun kata dia, tidak mudah untuk didapatkan, karena sektor privat akan enggan mendukung jika prosesnya terlalu sulit atau terlalu mahal.

Adapun menurutnya, omnibus law saja tidak cukup menarik bagi sektor swasta. Pemerintah juga diharapkan bisa memperhatikan hambatan regulasi untuk mendorong masuknya investor dan transfer teknologi, seperti kebijakan harga dan subsidi, hambatan non-tarif, serta rencana instrumen penetapan harga karbon.

Bank dunia sendiri secara substansial memperluas dan mengembangkan bantuan finansial untuk adaptasi ke sektor terbarukan. Ada juga bantuan teknis dan kebijakan untuk menciptakan lingkungan yang menarik bagi investor untuk datang dan berinvestasi.

“Salah satunya, kami telah mendukung konservasi di Kalimantan Timur dan Jambi, serta program restorasi mangrove pemerintah,” terangnya.

Baca juga: COP26 Glasgow, Indonesia dan Lebih dari 100 Negara Janji Akhiri Deforestasi Tahun 2030

Kahkonen mengapresiasi sejumlah langkah yang telah dilakukan pemerintah Indonesia untuk “menghijaukan ekonomi”, misalnya melalui moratorium pembangkit listrik tenaga batu bara (PLTU) dan komitmen menutup semua PLTU hingga 2050, dan secara bertahap meningkatkan tenaga listrik terbarukan pada 2030.

“Bersama dengan itu ada juga rencana untuk transportasi hijau dan rencana ambisius untuk mencapai “net carbon neutrality” pada 2030. Pemerintah (Indonesia) juga memperkenal “carbon pricing instrument”, dan semua itu sangat baik dan pasti akan mulai menghijaukan ekonomi,” kata dia.

Halaman:

Video Pilihan

Sumber Kompas.com
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Reaksi Media Asing Soal Pemindahan Ibu Kota Negara Indonesia, Singgung Nama Nusantara hingga Ahok

Reaksi Media Asing Soal Pemindahan Ibu Kota Negara Indonesia, Singgung Nama Nusantara hingga Ahok

Global
Viral Video Rusa Terekam Melompat Sangat Tinggi seperti “Melayang di Udara”

Viral Video Rusa Terekam Melompat Sangat Tinggi seperti “Melayang di Udara”

Global
Strategi Transisi Energi Pemerintah Indonesia Perlu Dipercepat

Strategi Transisi Energi Pemerintah Indonesia Perlu Dipercepat

Global
Inggris Larang Iklan Anak Makan Keju Sambil Menggantung Terbalik, Ini Alasannya

Inggris Larang Iklan Anak Makan Keju Sambil Menggantung Terbalik, Ini Alasannya

Global
Tanggapan Mendagri Malaysia Soal Nasib Rohana, Wanita Keturunan Indonesia yang Kesulitan Dapat Kewarganegaraan

Tanggapan Mendagri Malaysia Soal Nasib Rohana, Wanita Keturunan Indonesia yang Kesulitan Dapat Kewarganegaraan

Global
Ketika Mahasiswi Muslim di India Dilarang Masuk Kelas karena Pakai Hijab...

Ketika Mahasiswi Muslim di India Dilarang Masuk Kelas karena Pakai Hijab...

Global
FOTO: Penampakan Tonga Sebelum dan Setelah Letusan Gunung Berapi, Kini Tertutup Abu Tebal

FOTO: Penampakan Tonga Sebelum dan Setelah Letusan Gunung Berapi, Kini Tertutup Abu Tebal

Global
Hong Kong Akan Bunuh 2.000 Hewan Kecil, Termasuk Hamster dan Kelinci, karena Covid-19

Hong Kong Akan Bunuh 2.000 Hewan Kecil, Termasuk Hamster dan Kelinci, karena Covid-19

Global
Brasil Catatkan Rekor Baru Kasus Covid-19 Harian, Capai 137.000 Kasus

Brasil Catatkan Rekor Baru Kasus Covid-19 Harian, Capai 137.000 Kasus

Global
POPULER GLOBAL: TV Australia Putar Video YouTuber Indonesia Saat Beritakan Tsunami Tonga | Delegasi Indonesia Dilaporkan Kunjungi Israel

POPULER GLOBAL: TV Australia Putar Video YouTuber Indonesia Saat Beritakan Tsunami Tonga | Delegasi Indonesia Dilaporkan Kunjungi Israel

Global
Makan Sangat Banyak di All You Can Eat karena Tak Mau Rugi, Wanita Ini Berakhir di RS

Makan Sangat Banyak di All You Can Eat karena Tak Mau Rugi, Wanita Ini Berakhir di RS

Global
5 Bencana Kepunahan Massal di Bumi dalam 4,5 Miliar Tahun Sejarahnya

5 Bencana Kepunahan Massal di Bumi dalam 4,5 Miliar Tahun Sejarahnya

Internasional
Tak Hanya Pangeran Andrew, Ini Bangsawan Inggris yang Telah Dilucuti Gelarnya

Tak Hanya Pangeran Andrew, Ini Bangsawan Inggris yang Telah Dilucuti Gelarnya

Internasional
Delegasi Indonesia Dilaporkan Kunjungi Israel untuk Belajar Tangani Covid-19, Ini Jawaban Kemenkes RI

Delegasi Indonesia Dilaporkan Kunjungi Israel untuk Belajar Tangani Covid-19, Ini Jawaban Kemenkes RI

Global
China Danai Proyek 'Dubai Baru' di Sri Lanka, Akankah Jadi Pusat Ekonomi Dunia?

China Danai Proyek "Dubai Baru" di Sri Lanka, Akankah Jadi Pusat Ekonomi Dunia?

Global
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.