AS Gugat Uber karena Pasang "Tarif Tunggu" untuk Penumpang Disabilitas

Kompas.com - 14/11/2021, 21:29 WIB
Penumpang menunggu di lokasi titik jemput Uber di terminal Bandara Internasional Los Angeles LAX, 20 Agustus 2020. AP PHOTO/DAMIAN DOVARGANESPenumpang menunggu di lokasi titik jemput Uber di terminal Bandara Internasional Los Angeles LAX, 20 Agustus 2020.

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Otoritas Amerika Serikat (AS) pada Rabu (10/11/2021) menggugat Uber, karena mengenakan "tarif tunggu" bagi penumpang disabilitas yang butuh waktu ekstra untuk naik kendaraan.

Kementerian Kehakiman AS menganggap aturan itu diskriminasi dan melanggar perlindungan hak-hak sipil.

Adapun aturan Uber adalah, jika pengemudi menunggu lebih dari dua menit untuk menjemput penumpang, maka akan ada biaya tambahan.

Baca juga: Driver Ojol Tewas Ditabrak Truk, Uber Tidak Akui sebagai Karyawannya

"Gugatan ini berusaha membuat Uber patuh ... seraya mengirim pesan kuat bahwa Uber tidak dapat menambah biaya penumpang disabilitas hanya karena mereka membutuhkan lebih banyak waktu untuk masuk mobil," kata Asisten Jaksa Agung Kristen Clarke dalam pernyataan yang dikutip AFP.

Uber menyebut gugatan itu mengejutkan dan mengecewakan, dengan mengatakan bahwa aturan tersebut sudah didiskusikan dengan otoritas terkait.

Uber menambahkan, mereka telah mengembalikan biaya tunggu kepada penumpang disabilitas, dan sejak minggu lalu setiap penumpang yang menyatakan mereka difabel akan dibebaskan dari tarif tunggu secara otomatis.

Namun jaksa AS mengatakan, Uber tidak mengubah kebijakannya secara wajar, karena penumpang dengan kursi roda contohnya yang perlu melipat dan menaruhnya di dalam mobil, atau tunanetra yang mungkin memerlukan waktu tambahan untuk berjalan dengan aman ke kendaraan.

Gugatan itu meminta pengadilan federal di California utara untuk memerintahkan Uber mengubah kebijakan tarif tunggu guna mematuhi Undang-Undang Penyandang Disabilitas Amerika (ADA).

Pengadilan turut diminta memerintahkan Uber "melatih staf dan pengemudinya tentang ADA, membayar ganti rugi uang kepada orang-orang yang dikenai tarif tunggu ilegal dan membayar hukuman perdata."

Uber telah menghadapi berbagai tuntutan hukum dari serangkaian penumpang di Amerika Serikat, yang menuduh mereka menjadi korban penyerangan dalam perjalanan.

Perusahaan itu juga berjuang mendapatkan suara di California bersama layanan berbagi tumpangan lainnya, Lyft, mengenai apakah pengemudi harus dianggap sebagai karyawan dan dengan demikian berhak atas tunjangan tertentu.

Baca juga: Menang di Pengadilan, 70.000 Driver Uber Jadi Karyawan Tetap

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

POPULER GLOBAL: Tonga Jadi seperti Permukaan Bulan, 105.000 Warga Tak Bisa Dihubungi

POPULER GLOBAL: Tonga Jadi seperti Permukaan Bulan, 105.000 Warga Tak Bisa Dihubungi

Global
Temuan Terbaru, 1 Orang Tewas di Tonga Akibat Tsunami

Temuan Terbaru, 1 Orang Tewas di Tonga Akibat Tsunami

Global
Berlian Hitam Terbesar Dipamerkan di Dubai, Ini Wujudnya

Berlian Hitam Terbesar Dipamerkan di Dubai, Ini Wujudnya

Global
Viral Video Polisi Tanya Pengendara Mobil Manual: Kakimu Tidak Kram?

Viral Video Polisi Tanya Pengendara Mobil Manual: Kakimu Tidak Kram?

Global
'Monster Laut' Ditemukan seperti Hiu Dimutilasi, Apakah Ikan Terbesar di Dunia?

"Monster Laut" Ditemukan seperti Hiu Dimutilasi, Apakah Ikan Terbesar di Dunia?

Global
Kisah Rohana, Wanita di Malaysia yang Sejak Kecil Ditinggal Ibunya Kembali ke Indonesia, Kini Kesulitan Dapat Kewarganegaraan

Kisah Rohana, Wanita di Malaysia yang Sejak Kecil Ditinggal Ibunya Kembali ke Indonesia, Kini Kesulitan Dapat Kewarganegaraan

Global
Ada Jalur Pemakaman Penuh dengan Kuburan Kuno Ditemukan di Arab Saudi

Ada Jalur Pemakaman Penuh dengan Kuburan Kuno Ditemukan di Arab Saudi

Global
Seorang Pria Tiba-tiba Dorong Wanita ke Arah Kereta Bawah Tanah yang Melaju hingga Tewas

Seorang Pria Tiba-tiba Dorong Wanita ke Arah Kereta Bawah Tanah yang Melaju hingga Tewas

Global
China Batalkan Rencana untuk Jual Tiket Olimpiade Beijing ke Publik

China Batalkan Rencana untuk Jual Tiket Olimpiade Beijing ke Publik

Global
Bintang Porno Tanding Lawan Model Wanita di MMA, Dipisahkan Penonton yang Masuk Ring

Bintang Porno Tanding Lawan Model Wanita di MMA, Dipisahkan Penonton yang Masuk Ring

Global
Warga China Diminta Hati-hati Beli Barang Impor, Waspadai Penularan Covid-19 Lewat Benda

Warga China Diminta Hati-hati Beli Barang Impor, Waspadai Penularan Covid-19 Lewat Benda

Global
China Laporkan Dua Orang Meninggal karena Flu Burung, Tiga Lainnya Masih Dirawat Intensif

China Laporkan Dua Orang Meninggal karena Flu Burung, Tiga Lainnya Masih Dirawat Intensif

Global
Jadi Penumpang Sendirian di Pesawat, Pria Ini Bebas Rebahan dan Gratis Makan Semua

Jadi Penumpang Sendirian di Pesawat, Pria Ini Bebas Rebahan dan Gratis Makan Semua

Global
China Tingkatkan Kewaspadaan Covid-19 Saat Liburan Imlek Dimulai

China Tingkatkan Kewaspadaan Covid-19 Saat Liburan Imlek Dimulai

Global
Internet di Tonga Putus Usai Tsunami, Perbaikan Bisa sampai 2 Minggu

Internet di Tonga Putus Usai Tsunami, Perbaikan Bisa sampai 2 Minggu

Global
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.