10 Hari Unjuk Rasa Berdarah Pakistan Berakhir, Kelompok Garis Keras dan Pemerintah Capai Kesepakatan

Kompas.com - 01/11/2021, 08:03 WIB
Pendukung Tehreek-e-Labiak Pakistan, sebuah partai Islam radikal, mengambil bagian dalam pawai protes menuju Islamabad, di jalan raya di kota Sadhuke, di Pakistan timur, Rabu, 27 Oktober 2021. AP PHOTO/KM CHAUDARYPendukung Tehreek-e-Labiak Pakistan, sebuah partai Islam radikal, mengambil bagian dalam pawai protes menuju Islamabad, di jalan raya di kota Sadhuke, di Pakistan timur, Rabu, 27 Oktober 2021.

ISLAMABAD, KOMPAS.com - Pemerintah Pakistan mencapai kesepakatan dengan partai sayap kanan Tehreek-e-Labbaik Pakistan (TLP) yang terlarang, untuk mengakhiri protes 10 hari yang mengakibatkan bentrokan dengan kekerasan.

Menteri Luar Negeri Pakistan Shah Mahmood Qureshi dan pemimpin agama Mufti Muneebur Rehman ikut serta dalam pembicaraan tersebut, tetapi tidak memberikan rincian kesepakatan pada konferensi pers di ibu kota, Islamabad, pada Minggu (31/10/2021).

Baca juga: Taliban Kirim Pejabatnya Bertugas ke Kedutaan Besar Afghanistan di Pakistan

“Rincian dan hasil positif dari kesepakatan itu akan muncul di hadapan bangsa dalam waktu sekitar satu minggu,” kata Rehman, yang mengaku mendapat dukungan dari pemimpin partai TLP Saad Rizvi.

Ribuan pendukung TLP melancarkan “long march” dari Lahore menuju Islamabad pada 22 Oktober. Mereka mendesak pembebasan pemimpinnya, Rizvi, yang ditangkap tahun lalu karena menghasut para pendukung untuk menggelar protes anti-Perancis.

Kelompok ini juga menuntut pengusiran duta besar Perancis karena penerbitan serangkaian karikatur Nabi Muhammad oleh majalah satir Perancis Charlie Hebdo.

Paramiliter Pakistan Rangers dikerahkan untuk menghentikan para pengunjuk rasa agar tidak melanjutkan perjalanan menuju ibu kota.

Pawai protes melihat para pendukung bentrok dengan polisi di beberapa titik di sepanjang jalan. Setidaknya tujuh petugas polisi dan empat demonstran tewas dan banyak yang terluka di kedua sisi.

Baca juga: Video Rayakan Kemenangan Pakistan Viral, Ratusan Pelajar Kashmir Dituntut UU Teror India

Kekerasan meletus sehari setelah pemerintah Perdana Menteri Pakistan Imran Khan menolak permintaan kelompok itu, untuk menutup kedutaan Perancis dan mengusir utusan Perancis.

Kamal Hyder dari Al Jazeera, melaporkan dari Islamabad, mengatakan negosiasi berlangsung hingga larut malam dan berlangsung lebih dari 12 jam.

Rawalpindi dan Islamabad telah terputus dari seluruh negeri sejak pawai dimulai.

Halaman:

Video Pilihan

Sumber Al Jazeera
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Reaksi Media Asing Soal Pemindahan Ibu Kota Negara Indonesia, Singgung Nama Nusantara hingga Ahok

Reaksi Media Asing Soal Pemindahan Ibu Kota Negara Indonesia, Singgung Nama Nusantara hingga Ahok

Global
Viral Video Rusa Terekam Melompat Sangat Tinggi seperti “Melayang di Udara”

Viral Video Rusa Terekam Melompat Sangat Tinggi seperti “Melayang di Udara”

Global
Strategi Transisi Energi Pemerintah Indonesia Perlu Dipercepat

Strategi Transisi Energi Pemerintah Indonesia Perlu Dipercepat

Global
Inggris Larang Iklan Anak Makan Keju Sambil Menggantung Terbalik, Ini Alasannya

Inggris Larang Iklan Anak Makan Keju Sambil Menggantung Terbalik, Ini Alasannya

Global
Tanggapan Mendagri Malaysia Soal Nasib Rohana, Wanita Keturunan Indonesia yang Kesulitan Dapat Kewarganegaraan

Tanggapan Mendagri Malaysia Soal Nasib Rohana, Wanita Keturunan Indonesia yang Kesulitan Dapat Kewarganegaraan

Global
Ketika Mahasiswi Muslim di India Dilarang Masuk Kelas karena Pakai Hijab...

Ketika Mahasiswi Muslim di India Dilarang Masuk Kelas karena Pakai Hijab...

Global
FOTO: Penampakan Tonga Sebelum dan Setelah Letusan Gunung Berapi, Kini Tertutup Abu Tebal

FOTO: Penampakan Tonga Sebelum dan Setelah Letusan Gunung Berapi, Kini Tertutup Abu Tebal

Global
Hong Kong Akan Bunuh 2.000 Hewan Kecil, Termasuk Hamster dan Kelinci, karena Covid-19

Hong Kong Akan Bunuh 2.000 Hewan Kecil, Termasuk Hamster dan Kelinci, karena Covid-19

Global
Brasil Catatkan Rekor Baru Kasus Covid-19 Harian, Capai 137.000 Kasus

Brasil Catatkan Rekor Baru Kasus Covid-19 Harian, Capai 137.000 Kasus

Global
POPULER GLOBAL: TV Australia Putar Video YouTuber Indonesia Saat Beritakan Tsunami Tonga | Delegasi Indonesia Dilaporkan Kunjungi Israel

POPULER GLOBAL: TV Australia Putar Video YouTuber Indonesia Saat Beritakan Tsunami Tonga | Delegasi Indonesia Dilaporkan Kunjungi Israel

Global
Makan Sangat Banyak di All You Can Eat karena Tak Mau Rugi, Wanita Ini Berakhir di RS

Makan Sangat Banyak di All You Can Eat karena Tak Mau Rugi, Wanita Ini Berakhir di RS

Global
5 Bencana Kepunahan Massal di Bumi dalam 4,5 Miliar Tahun Sejarahnya

5 Bencana Kepunahan Massal di Bumi dalam 4,5 Miliar Tahun Sejarahnya

Internasional
Tak Hanya Pangeran Andrew, Ini Bangsawan Inggris yang Telah Dilucuti Gelarnya

Tak Hanya Pangeran Andrew, Ini Bangsawan Inggris yang Telah Dilucuti Gelarnya

Internasional
Delegasi Indonesia Dilaporkan Kunjungi Israel untuk Belajar Tangani Covid-19, Ini Jawaban Kemenkes RI

Delegasi Indonesia Dilaporkan Kunjungi Israel untuk Belajar Tangani Covid-19, Ini Jawaban Kemenkes RI

Global
China Danai Proyek 'Dubai Baru' di Sri Lanka, Akankah Jadi Pusat Ekonomi Dunia?

China Danai Proyek "Dubai Baru" di Sri Lanka, Akankah Jadi Pusat Ekonomi Dunia?

Global
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.