Kompas.com - 25/10/2021, 18:00 WIB
Warga Afghanistan menunggu dalam antrean panjang selama berjam-jam untuk mencoba menarik uang, di depan sebuah bank di Kabul, Afghanistan, Senin, 30 Agustus 2021. AP PHOTO/KHWAJA TAWFIQ SEDIQIWarga Afghanistan menunggu dalam antrean panjang selama berjam-jam untuk mencoba menarik uang, di depan sebuah bank di Kabul, Afghanistan, Senin, 30 Agustus 2021.

DUBAI, KOMPAS.com – Jutaan orang Afghanistan, termasuk anak-anak, terancam meninggal karena kelaparan akibat krisis yang semakin buruk di sana.

Kekhawatiran tersebut disampaikan Direktur Eksekutif Program Pangan Dunia (WFP) David Beasley pada Senin (25/10/2021) sebagaimana dilansir TRT World.

Dia menekankan perlunya tindakan segera untuk menyelamatkan Afghanistan dari jurang kehancuran.

Baca juga: Menlu China akan Bertemu Pemerintah Interim Afghanistan Bentukan Taliban

Beasley mengatakan, 22,8 juta orang di Afghanistan menghadapi kerawanan pangan akut. Jumlah tersebut lebih dari setengah dari 39 juta populasi Afghanistan.

Mereka terancam mengalami kelaparan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Anak-anak terancam mati. Orang-orang akan kelaparan. Keadaan akan menjadi jauh lebih buruk,” kata Beasley di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA).

Baca juga: Afghanistan Bisa Runtuh Lebih Cepat dari Prediksi

Dia khawatir jutaan orang, terutama anak-anak, menghadapi kelaparan akut dan terancam mati kelaparan dengan kurangnya bantuan terhadap mereka.

Di sisi lain, Afghanistan juga menghadapi keruntuhan ekonomi yang membuat krisis di sana semakin parah.

Krisis pangan, yang diperburuk oleh perubahan iklim, sangat mengerikan di Afghanistan bahkan sebelum Taliban kembali mengambil alih kekuasaan.

Baca juga: Rencana Badan PBB Kembalikan Mata Pencaharian Warga Afghanistan

Krisis di sana semakin akut ketika Taliban kembali berkuasa di Afghanistan pada Agustus setelah menduduki Kabul dan menggulingkan pemerintah yang didukung AS.

Kembalinya Taliban ke puncak kekuasaan di Afghanistan menahan bantuan senilai miliaran dollar AS untuk perekonomian negara tersebut yang sangat bergantung pada bantuan.

“Anda harus mencairkan dana ini sehingga orang dapat bertahan hidup,” kata Beasley.

Baca juga: Ledakan Terjadi di Afghanistan, Kabul Mati Listrik

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Sumber TRT World
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jerman Punya 925.800 Kasus Aktif Covid-19 Saat Ini, Akan Lockdown Warga yang Tak Vaksin

Jerman Punya 925.800 Kasus Aktif Covid-19 Saat Ini, Akan Lockdown Warga yang Tak Vaksin

Global
Pecahkan Rumus tahun 1959, Jenius Matematika Ini dapat Penghargaan

Pecahkan Rumus tahun 1959, Jenius Matematika Ini dapat Penghargaan

Global
Tukang Ledeng Temukan Ratusan Dollar AS dalam Tembok Gereja Houston

Tukang Ledeng Temukan Ratusan Dollar AS dalam Tembok Gereja Houston

Global
Mirip Puss in Boots di film Shrek, Kucing Oren Ini Punya Banyak Fans

Mirip Puss in Boots di film Shrek, Kucing Oren Ini Punya Banyak Fans

Global
Taiwan Sebut AS Mitra Dagang yang Sangat Penting

Taiwan Sebut AS Mitra Dagang yang Sangat Penting

Global
70 Tahun Hubungan Diplomatik Indonesia-Swedia, Dubes Marina Berg Ungkap Rencana Lanjutan Kedua Negara

70 Tahun Hubungan Diplomatik Indonesia-Swedia, Dubes Marina Berg Ungkap Rencana Lanjutan Kedua Negara

Global
Lama Tersimpan di Ruang Bawah Tanah, Kapal Pesiar Peggy Kembali ke Lokasi Asalnya

Lama Tersimpan di Ruang Bawah Tanah, Kapal Pesiar Peggy Kembali ke Lokasi Asalnya

Global
Rusia Disebut Siapkan 175.000 Tentara untuk Serang Ukraina

Rusia Disebut Siapkan 175.000 Tentara untuk Serang Ukraina

Global
Coba Menipu Perawat, Seorang Pria Gunakan Lengan Palsu saat Divaksin Covid-19

Coba Menipu Perawat, Seorang Pria Gunakan Lengan Palsu saat Divaksin Covid-19

Global
Manajer Pabrik Diamuk dan Dibakar Massa Buruh di Pakistan, Dituduh Menistakan Agama

Manajer Pabrik Diamuk dan Dibakar Massa Buruh di Pakistan, Dituduh Menistakan Agama

Global
Pasang Ratusan Ribu Lampu Natal, Keluarga Ini Pecahkan Rekor Dunia

Pasang Ratusan Ribu Lampu Natal, Keluarga Ini Pecahkan Rekor Dunia

Global
Apa Itu Nine Dash Line yang Sering Dipakai China untuk Klaim Natuna?

Apa Itu Nine Dash Line yang Sering Dipakai China untuk Klaim Natuna?

Internasional
Tren Spotify Wrapped dan Kontroversi 'Anak Magang' yang Membuatnya

Tren Spotify Wrapped dan Kontroversi "Anak Magang" yang Membuatnya

Global
Wanita Ini 'Menyusui' Kucing di Pesawat, Sempat Gegerkan Maskapai

Wanita Ini "Menyusui" Kucing di Pesawat, Sempat Gegerkan Maskapai

Global
UEA Borong 80 Jet Tempur Rafale Perancis, Nilai Kontraknya Lampaui Anggaran Pertahanan RI

UEA Borong 80 Jet Tempur Rafale Perancis, Nilai Kontraknya Lampaui Anggaran Pertahanan RI

Global
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.