Kompas.com - 24/10/2021, 14:49 WIB
Ali Abd Alwareth, 24 tahun dari Lebanon duduk di hutan di luar zona Keadaan Darurat di perbatasan Polandia-Belarusia dan menunggu kedatangan patroli Penjaga Perbatasan, 22 Oktober 2021. AFP PHOTO/WOJTEK RADWANSKIAli Abd Alwareth, 24 tahun dari Lebanon duduk di hutan di luar zona Keadaan Darurat di perbatasan Polandia-Belarusia dan menunggu kedatangan patroli Penjaga Perbatasan, 22 Oktober 2021.

MINSK, KOMPAS.com - Migran Lebanon Ali Abd Alwareth menghadapi kenyataan kejam terjebak dalam hutan yang dingin di perbatasan belarus dalam kondisi kelelahan. Dia pun menyesali keputusannya untuk memasuki Uni Eropa melalui perbatasan Belarus-Polandia.

"Ini menyedihkan. Sesuatu yang tidak Anda inginkan menjadi musuh terburuk Anda... Sebuah mimpi buruk," ungkap pria 24 tahun mengenai perjalanannya kepada AFP dilansir pada Sabtu (23/10/2021).

Baca juga: Setahun Setelah Ledakan Beirut, Lebanon Masih Kacau

Duduk bersila di tempat tidur dari jarum pinus dan daun mati di dekat kota perbatasan Kleszczele di Polandia timur, Abd Alwareth menggambarkan menjadi bola ping-pong bagi para penjaga.

"Saya mencoba menyeberang seperti lima, enam kali. Setiap kali saya tertangkap dan dideportasi kembali ke perbatasan" oleh Polandia, kata pria yang dengan penyakit Crohn dengan suara lembut.

Sementara itu, pihak Belarusia menolak membiarkan dia kembali ke Minsk untuk terbang pulang.

Menurut Abd Alwareth, pasukan keamanan Belarus mengatakan kepadanya: "Anda hanya memiliki dua pilihan: apakah Anda mati di sini atau Anda mati di Polandia. Itu saja."

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dia adalah salah satu dari ribuan migran, kebanyakan dari Timur Tengah, yang mencoba menembus perbatasan 400 kilometer (250 mil) sejak Agustus.

Baca juga: Baku Tembak di Protes Lebanon, 6 Tewas dan 30 Luka-luka

Abd Alwareth mengaku keluar dari negaranya karena krisis keuangan di Lebanon untuk mencari kehidupan yang lebih baik.

Seluruh perjalanan dari wilayah asalnya di Bekaa menghabiskan biaya 4.000 dollar AS (Rp 56,9 juta) dan melibatkan bantuan dari perusahaan berbasis di Minsk yang ia temukan di media sosial.

Uni Eropa mencurigai Belarus mendalangi masuknya migran dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya ke Polandia, sebagai bentuk pembalasan terhadap sanksi Uni Eropa. Tetapi rezim telah menyalahkan Barat.

Halaman:

Video Pilihan

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.