Kompas.com - 21/10/2021, 12:32 WIB
Presiden RI Joko Widodo saat menyambut Frans Timmermans di Istana Mereka, Jakarta, Senin (18/10/2021). BIRO PERS SEKRETARIAT PRESIDEN/MUCHLIS JR via DW INDONESIAPresiden RI Joko Widodo saat menyambut Frans Timmermans di Istana Mereka, Jakarta, Senin (18/10/2021).

JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Presiden Eksekutif Komisi Eropa untuk Kebijakan Hijau dan Iklim Frans Timmermans, mengakui bahwa Indonesia adalah negara yang sangat penting untuk COP26.

Bukan hanya karena Indonesia akan memegang jabatan presidensi G-20 ke depan, tapi juga karena Indonesia ia nilai jadi salah satu negara yang telah membuat langkah-langkah besar dalam mengatasi masalah iklim.

Hal ini diutarakan Timmermans saat berbicara tentang gelaran KTT Iklim PBB yang dikenal sebagai COP26, kepada The Associated Press di Jakarta pada Senin (18/10/2021).

KTT Iklim tersebut akan dimulai di Glasgow, Skotlandia, pada 31 Oktober mendatang.

Baca juga: Jelang COP26, Deklarasi Darurat Iklim Harus Digencarkan

"(Indonesia) sekarang menjadi sebuah negara yang ingin memimpin dalam masalah ini, yang ingin menunjukkan bahwa mereka juga bisa mengubah ekonomi mereka menjadi ekonomi yang berkelanjutan."

"Dan saya benar-benar bersemangat akan hal itu. Dan itu juga mengapa saya ingin berada di sini,” kata Timmermans seperti dikutip dari AP.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Tidak boleh ada yang tertinggal”

Timmermans mengatakan model ekonomi global saat ini – seperti ketergantungan historis terhadap bahan bakar fosil – perlu diubah untuk memastikan pergeseran yang lebih adil menuju ekonomi hijau. Meski begitu, ia menekankan perubahan itu seharusnya tidak mengorbankan pembangunan di negara-negara miskin.

Semua negara menurutnya memiliki tanggung jawab untuk memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal di belakang. Dan transisi menuju ekonomi yang lebih hijau untuk mengatasi krisis iklim harus dilakukan seadil mungkin.

"Kita tidak boleh meninggalkan siapa pun di belakang. Dan tentu saja, jika Anda berada di negara berkembang, risiko untuk itu lebih besar dibanding di negara maju. Itulah yang akan menjadi tantangan terbesar kita,” jelasnya.

Baca juga: Penelitian: Iklim di Amazon pada 2500 Diramalkan Berubah Jadi Tandus

Menurut Timmermans, bisnis harus mau berbagi pengetahuan terkait teknologi hijau dengan negara-negara berkembang.

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.