Tak Sinkron dengan Paris Agreement, Produksi Bahan Bakar Fosil Negara Kaya Justru Melonjak pada 2030

Kompas.com - 20/10/2021, 18:02 WIB
Ilustrasi perubahan iklim dari emisi karbon dapat menjadi pandemi baru bagi penduduk dunia. SHUTTERSTOCK/Reinhard TiburzyIlustrasi perubahan iklim dari emisi karbon dapat menjadi pandemi baru bagi penduduk dunia.

KOMPAS.com – Negara-negara kaya di dunia akan memproduksi batu bara, minyak, dan gas bumi dua kali lipat pada 2030 dibandingkan dengan saat ini.

Perkiraan tersebut dipaparkan Program Lingkungan PBB (UNEP) pada Rabu (20/10/2021) sebagaimana dilansir DW.

Kenaikan produksi tersebut justru bertolak belakang dengan tujuan yang ingin dicapai dalam Kesepakatan Paris alias Paris Agreement 2015 untuk mengekang pemanasan global.

Baca juga: Diterpa Krisis Energi, Inggris Mantap Enyahkan Energi Fosil Mulai 2035

Perkiraan tersebut dipaparkan beberapa hari sebelum pertemuan COP26 untuk mengevaluasi tujuan yang ditetapkan oleh Paris Agreement.

Dalam Paris Agreement, negara-negara yang meratifikasi kesepakatan tersebut berkomitmen untuk mencegah kenaikan suhu bumi 1,5 derajat Celsius melalui pengurangan emisi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Laporan dari PBB tersebut mengukur perbedaan antara rencana penggunaan bahan bakar fosil dan tingkat penggunaan di negara-negara di dunia.

Baca juga: Terus Ditekan, Universitas Harvard Akhirnya Hentikan Investasi Bahan Bakar Fosil

Berbahaya

Dalam laporan tersebut, UNEP mengatakan rencana produksi bahan bakar fosil pemerintah sangat tidak sinkron dengan pengurangan emisi yang dibutuhkan untuk mengekang pemanasan global.

PBB menyerukan pihak-pihak terkait untuk mengurangi emisi hingga hampir 50 persen pada 2030, dan menjadi nol emisi pada 2050 untuk membatasi pemanasan hingga 1,5 derajat Celsius.

Laporan tersebut juga menemukan bahwa total produksi bahan bakar fosil kemungkinan akan meningkat setidaknya hingga 2040.

UNEP melaporkan, 15 produsen bahan bakar fosil raksasa berencana untuk memproduksi, secara total, sekitar 110 persen lebih banyak bahan bakar fosil pada 2030.

Baca juga: Facebook Dituduh Biarkan Industri Bahan Bakar Fosil Dorong Misinformasi Iklim

Produksi bahan bakar fosil harus disetop

“Produksi batu bara, minyak dan gas global harus mulai menurun segera dan tajam agar konsisten membatasi pemanasan jangka panjang hingga 1,5 derajat Celsius," kata Ploy Achakulwisut, penulis utama dalam laporan tersebut.

“Namun, pemerintah terus merencanakan dan mendukung tingkat produksi bahan bakar fosil yang jauh melebihi apa yang dapat kita bakar dengan aman,” sambung akademisi dari Stockholm Environment Institute tersebut.

Negara-negara yang dianalisis dalam laporan tersebut termasuk Jerman, Amerika Serikat (AS), dan Arab Saudi.

Baca juga: Penghasil Batu Bara Terbesar Diterjang Banjir Bandang, Krisis Energi China Bisa Makin Buruk

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ratusan Perempuan Terbunuh Setiap Tahun, Perempuan Turki Berunjuk Rasa

Ratusan Perempuan Terbunuh Setiap Tahun, Perempuan Turki Berunjuk Rasa

Global
Qatar Banggakan Stadion Bongkar-Pasang untuk Piala Dunia 2022, Apa Istimewanya?

Qatar Banggakan Stadion Bongkar-Pasang untuk Piala Dunia 2022, Apa Istimewanya?

Global
5 Anggota Parlemen AS Kunjungan Mendadak ke Taiwan, Apa Tujuannya?

5 Anggota Parlemen AS Kunjungan Mendadak ke Taiwan, Apa Tujuannya?

Global
Sempat Mundur Beberapa Hari Lalu, Magdalena Andersson Jadi PM Swedia Lagi

Sempat Mundur Beberapa Hari Lalu, Magdalena Andersson Jadi PM Swedia Lagi

Global
Foto Perempuan Bermata Sipit dengan Produk Dior Picu Polemik di China

Foto Perempuan Bermata Sipit dengan Produk Dior Picu Polemik di China

Global
Wanita Ini Tak Ingin Tinggalkan Suaminya yang Terlalu Ganteng Meski Sering Disiksa

Wanita Ini Tak Ingin Tinggalkan Suaminya yang Terlalu Ganteng Meski Sering Disiksa

Global
Menteri Utama Skotlandia: Varian Omicron Harus Disikapi dengan Serius

Menteri Utama Skotlandia: Varian Omicron Harus Disikapi dengan Serius

Global
Gejala-gejala Covid-19 Varian Omicron Menurut Dokter yang Menemukannya

Gejala-gejala Covid-19 Varian Omicron Menurut Dokter yang Menemukannya

Global
WHO: Risiko Covid-19 Varian Omicron Sangat Tinggi

WHO: Risiko Covid-19 Varian Omicron Sangat Tinggi

Global
13 Kasus Covid-19 Varian Omicron Muncul di Klub Sepak Bola Portugal

13 Kasus Covid-19 Varian Omicron Muncul di Klub Sepak Bola Portugal

Global
Meski Peng Shuai Sudah Muncul Lagi, WTA Masih Khawatir dengan Kondisinya

Meski Peng Shuai Sudah Muncul Lagi, WTA Masih Khawatir dengan Kondisinya

Global
Milisi Iran Bikin Video Game dengan George Floyd Jadi Pahlawannya

Milisi Iran Bikin Video Game dengan George Floyd Jadi Pahlawannya

Global
Dokter Muda Afghanistan Dibunuh Taliban karena Tak Berhenti di Pos Pemeriksaan

Dokter Muda Afghanistan Dibunuh Taliban karena Tak Berhenti di Pos Pemeriksaan

Global
Mahkamah Agung India Desak Pemerintah New Delhi Kendalikan Polusi Udara yang Parah

Mahkamah Agung India Desak Pemerintah New Delhi Kendalikan Polusi Udara yang Parah

Global
Suami Istri Kabur dari Tempat Karantina Covid-19, Polisi Militer Dikerahkan

Suami Istri Kabur dari Tempat Karantina Covid-19, Polisi Militer Dikerahkan

Global
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.